Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 97: PERNIKAHAN? - PAMERAN LONDON


__ADS_3

"Kenapa hidupku menjadi rumit? Rasanya ingin sekali menghilang dari muka bumi, tapi....,"


"Ayo, kita liburan."


Suara familiar terdengar begitu jelas. Sontak Aruna membuka mata menatap siapa yang mengajak dirinya liburan. Senyuman manis menyambutnya.


"Ano, kamu sudah pulang dari pemakaman?" tanya Aruna.


Keano berjalan menghampiri wanitanya. Senyuman yang tidak pernah pudar dengan langkah kaki yang pasti. Pria itu duduk di sebelah Aruna, lalu menggenggam kedua tangan sang tunangan dengan tatapan cinta.


"Katakan saja! Aku tahu kamu punya pertanyaan." Ucap Aruna membalas tatapan Ano sekilas.


Ano terkekeh pelan karena Tanca selalu tahu seperti apa dirinya.


"Aku ingin kita segera menikah." Ucap Ano.


Permintaan yang bisa Aruna prediksi sejak awal. Hanya saja, apa alasan Ano ingin mempercepat pernikahan? Kenapa setelah kematian Lea. Prianya terburu-buru memutuskan pernikahan? Pasti ada sebab di balik keputusannya itu. Ano merengkuh tangan Aruna menghujani tangan lembut tunangannya dengan kecupan berulang kali. Sikap manis yang berlebihan, membuat Runa menarik tangannya tanpa permisi.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu berubah pikiran....,"


Aruna langsung membungkam bibir Ano dengan tatapan lembut. "Pernikahan? Apa kamu lupa hari ini hari berkabung?"


Ano menurunkan tangan halus Aruna. Tatapan keduanya masih saling terpaut. Ada asa, dan juga luka. Tatapan mata yang menyiratkan isi hati masing-masing. Ntah kenapa hari ini seperti ada banyak kebenaran di mata wanitanya, tapi masih terselubung misteri. Hingga kontak mata terputus dengan satu kedipan mata sang tunangan.


"Are you okay?" tanya Ano.


"Hmm. Hanya memikirkan pekerjaan. Bukankah pameran london akan segera diadakan?" Ucap Aruna mengalihkan pembicaraan.


"Pameran london nanti kamu dan Ken yang akan menanganinya! Aku akan mengurus perusahaan....,"


"Tunggu dulu. Bukankah seharusnya kita yang kesana? Kenapa sekarang jadi aku dan Ken?" Balas Ano dengan tatapan tak percaya.


Aruna menghela nafas pelan, lalu membuka laptop di atas meja. Sesaat jemarinya sibuk bermain diatas papan ketik. Kemudian, sebuah email yang sudah lama diterima ia tunjukkan ke Ano. Pria itu membaca surat dari pihak london yang menyatakan pameran akan diadakan satu minggu lebih cepat dari jadwal sebelumnya.


"....,"

__ADS_1


"Dengarkan aku. Saat ini, kondisi kaki ku masih belum memungkinkan untuk berdiri terlalu lama. Apalagi berjalan melihat semua pameran." Aruna mengalihkan tatapannya, kemudian menangkup wajah Ano, "Aku tahu ini terlalu mendadak, tapi situasi disini tidak baik untuk Ken. Tugasku melindungi kalian. Jadi pergilah, dan bawa Ken menjauh dari semua kerumitan yang tengah bergulir."


"How about you, Honey?" tanya Ano.


Aruna tersenyum, "Bee ada bersamaku. So calm down."


"Huft, kenapa aku jadi korban perasaan. Jauh darimu selama satu minggu? Apa aku sanggup?" celetuk Ano dengan ******* nafas berat.


"You can, Ano!" Aruna menyemangati prianya agar mau berpisah darinya, "Satu lagi, bisa bantu aku antarkan paket pada seseorang saat kamu di london? Hanya saya pastikan kamu sendiri yang bertemu orang itu, tanpa orang lain."


"Paket? Tumben tidak pake jasa pengiriman?" tanya Ano tanpa rasa curiga.


"Aku tidak mau paket ku tersentuh orang lain. Jadi bisakah kamu mengajarkan paketnya untukku?" Jawab Aruna.


Permintaan sederhana, tapi sangat sayang jika tidak meminta imbalan. Bukannya tidak tahu. Jika paket itu pasti paket penting. Sedikit bersikap lugu terkadang menguntungkan baginya. Tatapan mata yang memiliki harapan tinggi tersirat jelas di mata Aruna, membuat Ano menahan diri agar tetap serius.


"Aku akan antarkan paketnya, tapi bisa katakan apa isi paket mu, dan untuk siapa paket itu?" tanya Ano.

__ADS_1


__ADS_2