Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 120: KEJUTAN DALAM PENGINTAIAN


__ADS_3

"Tuan, bagaimana perasaanmu. Jika istrimu masih hidup?" tanya Nonny mengalihkan perbincangan keduanya agar tidak berpusat tentang hari libur kerja.


Keano berhenti mengusap kepala baby Z, lalu menoleh kearah dimana Nonny berada. Wanita itu tengah menatap ke luar jendela. Ntah apa yang tengah dia pikirkan, tapi dari intonasi pertanyaan. Seperti seseorang yang bertanya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk mewakili suara hati orang lain. Ntah kenapa seperti itu yang dirasakan oleh Ano.


"Aruna adalah segalanya bagiku. Seperti yang pernah ku katakan. Dialah jiwa dari raga ini. Semua tahu, jika raga tanpa jiwa. Maka yang tersisa hanya kehampaan," Ano bangun dari tempatnya, kemudian berjalan menghampiri Nonny meski jarak masih menjadi penghalang keduanya, "Andai istriku hidup kembali. Kehidupan ku akan sempurna. Baby Z akan merasakan kasih sayang seorang ibu yang luar biasa."


"Kehidupan ku dan Ken bisa dibilang penuh tragedi dan drama. Papa yang menjadi sosok monster. Ibu yang mencintai harta dan kesenangan. Dunia bisnis yang kejam. Identitas kami seperti serpihan kaca yang berserakan. Sangat lengkap dengan tipu muslihat. Aku sendiri heran. Kenapa ada malaikat yang siap menyelamatkan kami."


Langkah Ano terhenti di samping Nonny. Kini keduanya berdiri bersebelahan tanpa saling memandang. Kamar baby Z merupakan kamar Aruna yang selalu menjadi kamar penuh rahasia. Suara helaan nafas panjang menambah suasana semakin menjiwai emosi di hati keduanya. Namun, tiba-tiba suara dering ponsel mengalihkan perhatian sang baby sister.


Sebuah pesan singkat yang dikirim salah satu anak buahnya memberitahu lokasi dari Lea saat ini. Sontal saja, Nonny tersenyum tipis, "Tuan, Aku harus membeli beberapa keperluan. Apa boleh izin ke supermarket? Memang sih, tempatnya cukup jauh, tapi berikan aku waktu satu jam."


"Bilang saja ke pak sopir di bawah untuk mengantarkan mu ke supermarket. Pergilah!"


Izin dari Keano membuat Nonny mengangguk, lalu berlari kecil meninggalkan pria yang menatapnya heran. Langkah kaki terburu-buru, membuat salah satu earphones yang terpasang di telinganya jatuh ke lantai. Saat ini, Ano masih tidak melihat, tapi ntah nanti. Apapun itu. Kini sang baby sister langsung masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah menunggu di depan pintu utama.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Nonny seraya menerima paperbag dari Bee.


Mobil meninggalkan kediaman Abizar. Dimana kakak beradik itu akan menyelesaikan babak dari seluruh sumber masalah yang selalu menjadi hama. Perjalanan menuju daerah perhutanan, membuat Bee mengerutkan alis dan sesekali melihat titik lokasi dari ponselnya.


"Bee, relax. Apapun yang terjadi nanti. Kemungkinan akan memberikan kejutan yang besar. Jangan tegang seperti itu, terkadang kita membiarkan seorang pengkhianat untuk menjadi pemangsa. Tentu saja sebelum dimangsa," ujar Aruna dengan mengusap bahu sang adik.


Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan yang hanya ternyata menuju sebuah hotel di daerah terpencil. Akhirnya, kakak beradik itu menghentikan mobil dan mengamati keadaan sekitar. Keduanya tidak berhenti tepat titik lokasi, tapi berhenti dengan jarak yang cukup aman. Kemudian bersiap-siap dengan memasukkan senjata ke balik punggung masing-masing.


Aruna memberikan isyarat jari agar keduanya keluar dari mobil, lalu berjalan perlahan di balik pepohonan rindang. Bee yang bertugas memantau keadaan sekitar memberikan isyarat ok untuk melanjutkan misi. Selangkah demi selangkah, kedua wanita itu semakin mendekati hotel yang terlihat begitu sunyi. Seperti tidak ada yang menempati.


"Arah tiga seorang penjaga menyamar menjadi patung di depan tempat sampah. Arah tujuh seorang penjaga menyamar menjadi pengemis yang tertidur. Arah sembilan target kita tengah berbincang dengan seseorang yang tertutup pilar bangunan. Semua bersenjata, tapi posisi ini ada yang salah. Kita seperti dibiarkan melihat target."


Aruna berpikir sejenak mengingat formasi dan juga apa saja kemungkinan yang bisa terjadi. Jika seseorang yang menjadi sasaran terlihat seperti orang bodoh. Maka, ada yang tidak beres. Jadi, apapun yang ada di depan mereka adalah jebakan. Namun, satu pertanyaan mengganggu nya. Siapa yang menjadi informan di antara orang-orang kepercayaannya?


Disaat Aruna sibuk memikirkan apa yang terjadi. Tiba-tiba ada tangan yang menarik tubuhnya, membuat tubuh keduanya berguling-guling diatas rerumputan hijau. Tatapan mata saling terpaut dengan senyuman yang menawan. Setelah berputar beberapa kali, hingga tubuh saling berhimpitan. Barulah keduanya berhenti dengan posisi saling berpelukan.

__ADS_1


"...,"


"Sttt! Kita bicarakan semuanya nanti, tapi sebelum itu. Kita harus bereskan sisa musuhmu. Hmm. Ingat, ini tidak gratis, Honey."


Yah, orang yang menarik tubuh Aruna adalah Keano. Ntah datang dari mana pria itu, ketika mengintai dan tiba-tiba memberikan kejutan. Akan tetapi, ternyata bukan hanya suaminya karena di sisi lain. Kenzo juga tengah memeluk tubuh Bee. Bagaimana si kembar bisa tahu tentang rencananya? Sungguh menjadi dilema baru.


Kedua pasangan itu saling bekerja sama untuk menghadapi tantangan terakhir dalam hidup mereka. Dimana mereka harus mengakhiri rantai kejahatan yang dilakukan oleh Lea. Ntah apa yang direncanakan Duo K, tapi Aruna dan Aurel saling pandang melakukan perbincangan dengan isyarat mata. Di saat yang sama, di depan sana Lea akhirnya masuk ke dalam hotel begitu ada tangan pria yang terulur menyambut kedatangan wanita itu.


Kesempatan yang langka, membuat Aurel bergegas mengambil alat yang dia bawa dan membidik tas Lea yang tergantung di bahu kiri. Hanya dengan ketapel mini. Alat penyadap yang seperti magnet akhirnya menempel di tas sang ibu mertua. Kini, mereka akan melihat dan juga mendengar apapun yang terjadi di dalam hotel.


Mereka bukan orang bodoh yang gegabah. Sesuatu telah direncanakan secara matang dan eksekusi pun akan lebih berhati-hati. Namun, saat ini, mau, tak mau. Earphones harus dibagi menjadi empat bagian. Ponsel yang sengaja tersambung dua frekuensi, membuat kedua pasangan itu bisa bersembunyi secara terpisah.


Dari earphones terdengar suara tawa dan dari ponsel terlihat bagaimana isi dari hotel tersebut. Dimana Lea berjalan menghampiri seseorang yang berdiri membelakangi kamera dan tengah melakukan sesuatu. Ntah apa, tapi perlahan semakin terlihat jelas. Apalagi ketika, wanita itu memanggil nama yang tidak asing di telinga Aruna, Aurel dan Ano. Hanya Kenzo yang tidak paham. Siapa pemilik nama itu.


"Michael!" Panggil Lea menghampiri pria yang langsung menoleh ke belakang, "Bagaimana kabarmu? Dimana anak kita?"

__ADS_1


__ADS_2