Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 78: INSPEKSI! - SRI


__ADS_3

Rena mulai mengupas apel merah, lalu beralih ke buah lainnya. Hingga suara dering ponsel tiba-tiba saja mengejutkan dirinya dan Nyonya Abizar.


"Maaf, Nyonya. Rena lupa mode HP masih bikin shock." Rena meletakkan pisau dan buah di atas piring, lalu mengambil HP yang ada di dalam celemek nya.


Belum sempat menekan tombol samping. Sebuah uluran tangan muncul di depannya. Sontak Ia melihat siapa pemilik tangan itu, begitu melihat wajah yang tak asing. Tatapan mata diturunkan seraya menyerahkan ponsel, lalu kembali melanjutkan tugasnya membuat salad.


"Nek, Aku akan melihat keadaan Tanca di atas dan kamu selesaikan pekerjaan dengan benar!" Ano memasukkan ponsel Rena ke dalam saku celananya, lalu berjalan meninggalkan kamar sang nenek.


Pria itu memang tengah mengadakan inspeksi jadwal pengecekan kesehatan sang nenek. Setelah memastikan semua baik dan aman, maka kini tinggal satu pemeriksaan lagi.


"Nak, dimana Enzo? " tanya Nyonya Abizar menghentikan langkah Ano yang baru saja sampai depan pintu, pria itu berbalik dengan senyuman di wajah tampannya.


"Enzo bersama MD mengurus rapat yang tidak bisa ditunda. Nenek jangan pikirkan apapun selain kesehatan. Paham?! Kami ada untuk menyelesaikan semua masalah di rumah dan perusahaan. Okay, Nek?" jelas Ano yang tak ingin neneknya kembali drop.

__ADS_1


"Jangan khawatir juga soal putri kesayangan, nenek. Tanca sekarang lebih baik, dan luka di kakinya sudah di obati." sambung Ano karena ia tahu benar seberapa besar rasa sayang neneknya terhadap sang tunangan.


Nyonya Abizar mengangguk, membuat Ano tersenyum lega. Langkah pria itu berbalik kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkan kamar sang nenek, dan beralih menuju lantai dua dimana kamar dengan pintu berhias dreamcatcher bulu merah tergantung.


Tak seorang pun berani menatap Tuan Muda, para pelayan yang melihat Ano berjalan mendekat meskipun hanya sekedar lewat memilih menghentikan pekerjaan seraya membungkukan setengah badan mereka. Sementara dari arah lain langkah kaki terburu-buru dengan kecemasan di wajah Sri menimbulkan tanda tanya bagi siapapun yang melihat wanita itu.


"Sri tamatlah riwayatmu. Cepatlah cari dimana Rena dan tanya anak sok bijak itu dimana ponselmu." gumam Sri.


Dari satu arah Ano yang mendekati tangga, sedangkan dari arah berlawanan Sri baru saja keluar dari lorong yang menjadi jalur masuk dan keluar. Keduanya tidak saling berpapasan, hingga pelayan itu berhenti di dekat ruangan dapur. Sejenak berpikir apa alasan yang akan dirinya gunakan? Jika ingin mengganggu pekerjaan Rena.


"Buah itu mau diantar kemana?" Sri menunjuk nampan kayu yang dipegang rekan kerjanya.


"Kamar, Nona Angel. Tadi Tuan Keano berpesan untuk menyiapkan buah yang baru....,"

__ADS_1


"Biar, aku saja. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu!" Sri merebut nampan berisi buah tanpa permisi, membuat rekan kerjanya mendengus sebal.


"Mbok ya ngomong dulu gitu. Yowes, aku balik siapin makan malam aja," celetuk rekan kerja Sri tak ingin ambil pusing dengan kelakuan Sri yang aneh.


Sri tak menggubris, dan langsung saja meninggalkan rekan kerjanya. Namun, bukannya berjalan menuju lantai atas, wanita itu justru melangkah mantap menuju kamar Nyonya Abizar. "Aku harus bertemu Rena apapun konsekuensinya."


Tap!


Tap!


Tap!


Satu langkah demi langkah semakin mengikis jarak wanita itu dengan kamar incarannya. Hingga jarak tersisa tiga meter, langkahnya terhenti karena lambaian tangan seseorang yang berdiri bersandar di pintu kaca terbuka setengah.

__ADS_1


"Aku?" tanya Sri dengan isyarat tangannya menunjuk diri sendiri, membuat orang yang memandang pelayan itu mengangguk. "Aku kesana."


__ADS_2