
Aruna terdiam mendengar jawaban Bee. Mana mungkin pertemuan terjadi. Ketika dirinya saja tidak diterima oleh keluarga barunya.
Aku akan berusaha membuatmu diterima papa dan mama. Aku berjanji, Ka.~batin Aurel.
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan pintu, membuat keduanya melepaskan pelukan.
"Bee, buka pintunya." pinta Aruna.
"Okay, Ka." Aurel berdiri, lalu berjalan menghampiri pintu ruangan kerja.
Tanpa menunggu lama, ia melihat siapa yang mengetuk pintu. Seorang wanita dengan masker dan kacamata hitam. Penampilannya cukup sosialita. Bee menaikkan satu alisnya menatap tamu tak diundang dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Cari siapa?" tanya Bee.
Wanita itu melepaskan kacamata, "Aku ada janji dengan tunangan Tuan Muda Keano. Bisa....,"
"Bee, bawa dia masuk!" titah Aruna.
Aurel mempersilahkan dengan isyarat tangan agar wanita itu masuk ke dalam, lalu pintu kembali ditutup, dan terkunci otomatis. Kini di dalam ruangan kerja ada tiga wanita dengan usia yang berbeda. Tanca masih duduk di tempat sebelumnya. Aurel memilih berdiri, dan wanita yang baru masuk juga masih berdiri menghadap sang kakak.
"Apa kamu datang untuk diam?" Tanca melirik wanita itu tajam, "Cepat katakan!"
"Boleh duduk? Aku sudah tidak kuat berdiri terlalu lama." celetuk wanita itu.
"Jang-aan! Aku akan berdiri, tapi ampuni kakiku." Wanita itu langsung mundur satu langkah seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada, "....,"
"Shut up! Mau bicara langsung, atau?" Bee mengancam wanita itu dengan menunjukkan tangan kanannya yang selalu siap mematahkan tulang orang.
Wanita itu bukan hanya terkesiap, tetapi juga dengan susah payah bernafas di antara dua wanita yang tenang. Namun ucapan siap menikam. Deru nafas yang memburu menggetarkan tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah amplop coklat tampak dari tas wanita itu, dan dengan tangan bergetar ia meletakkan ke atas meja di depan Tanca.
__ADS_1
"Seperti permintaan Anda. Bukti nyata dari keberadaan Lea saat ini....,"
Aruna mengambil amplop, lalu memeriksa semua bukti. Setelah puas melihat hasil kerja wanita bayarannya. Satu kode jentikan jari darinya, membuat Bee mengangguk paham. Benda pipih di atas meja berpindah ke tangan, dan dalam hitungan satu menit sebuah nada dering terdengar memecahkan keheningan.
"Buka ponselmu!" titah Tanca melirik wanita yang masih saja bergetar menahan takut.
Wanita itu melakukan perintah Tanca tanpa ingin mengeluh. Ponsel yang beberapa detik lalu berdering, ia periksa. Ternyata sebuah notif dari bank atas transaksi penerimaan dana telah berhasil. Nominal yang diterima bahkan tidak main-main. Rasa takutnya berubah menjadi kebahagiaan. Tidak disangka pekerjaan mudah dapat menghasilkan banyak uang dalam sekejap mata.
"INGAT SATU HAL. SETELAH HARI INI, JANGAN PERNAH TUNJUKKAN WAJAHMU. APAPUN ALASANMU, TINGGALKAN NEGARA INI!"
Peringatan Tanca dijawab anggukan pasti tanpa keraguan. Lagipula dengan uang yang ia miliki sekarang. Hidupnya pasti terjamin. Bee mengantarkan wanita bayaran itu meninggalkan kediaman Abizar. Sementara proses pemakaman telah berlangsung. Hari berkabung berjalan lancar tanpa hambatan, dan tidak ada media yang mengekspos.
"Semua sudah di tanganku. Pertanyaannya adalah siapa yang akan ku beritahu tentang kebenaran Lea?" Ucapnya memijat pangkal hidung.
Kebenaran yang tidak bisa disembunyikan dari keluarga Abizar. Namun, yang harus dipikirkan emosi setiap anggota keluarga. Nyonya Abizar yang tidak boleh menerima tekanan lagi karena penyakit jantung. Kenzo yang mencintai sang ibu, pasti memiliki luka di dalam hati, dan Keano dengan kebenciannya pasti akan semakin benci.
"Kenapa hidupku menjadi rumit? Rasanya ingin sekali menghilang dari muka bumi, tapi....,"
__ADS_1
"Ayo, kita liburan."