
Lima jam kemudian.
"Kamu? Apa yang terjadi? Kenapa....,"
"Tooolooong,"
Warna merah yang membasahi seluruh pakaiannya dengan langkah kaki tertatih menahan rasa sakit, membuat pria berkumis benar-benar lelah setelah berjuang keras untuk sampai ke tempat yang di tuju. Sementara yang dimintai tolong bergegas membantu pria itu untuk duduk di kursi terdekat dengan hati-hati.
"Tunggu! Aku ambil kotak obat dulu." Sang penolong berlari menuju bufet mini yang ada di depan kamar tidur, setelah mengambil kotak obat dari laci atas, ia kembali menghampiri pria berkumis yang hampir kehilangan kesadaran diri.
Tak!
Kotak obat di letakkan di atas meja, lalu dibuka dan sebuah gunting langsung diambil. "Siapa yang berbuat ini padamu?"
"Auuw, pelan-pelan. Pelurunya masuk ke dalam, dimana putraku sekarang?" tanya balik pria berkumis.
Sang penolong berhasil menggunting sebagian seragam sopir pria berkumis, dan kini luka yang menganga terlihat jelas. "Mau obat pereda rasa sakit, atau gigit bantal?"
"Jawab dulu, dimana putraku?" Pria berkumis kekeh menunggu jawaban, baginya keselamatan puteranya lebih penting dibandingkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Dia ada di dalam, dan terlelap. Aku sengaja memberikan obat tidur. Sekarang ambil bantal ini, dan gigit!" jawab Sang Penolong tegas.
__ADS_1
Tidak ada lagi pertanyaan, apapun yang diinstruksikan oleh Sang Penolong dilakukan. Hingga tangan putih yang tertutup gulungan kemeja mulai memegang pencapit mini, dan mengarahkan senter yang digigit kearah luka tembakan. Fokusnya tak teralihkan, tidak ada deru nafas. Satu tarikan pencapit mini mengeluarkan peluru yang berukuran 9mm.
Peluru dimasukkan ke gelas yang berisi air putih, lalu melakukan perawatan berikutnya dengan menjahit luka yang cukup lebar itu tanpa rasa takut ataupun gentar. Perban disiapkan sebagai langkah terakhir. Waktu berlalu begitu saja dengan fokus pada pria berkumis.
Lima belas menit kemudian, Sang Penolong bangun seraya membereskan perlengkapan pengobatan kembali ke dalam kotak obat. Setelah selesai, ia berjalan meninggalkan ruang tamu lalu menuju dapur. Hanya beberapa wanita itu membuatkan minuman hangat, barulah kembali ke ruang tamu.
"Sekarang bisa jelaskan, apa yang terjadi?" tanya Sang penolong menyodorkan secangkir teh hangat ke pria berkumis.
"Seperti yang ku katakan, mereka ingin mencelakai putraku. Aku sengaja menyuruhmu membawa Kenzo keluar dari perusahaan lewat pintu lain, dan aku berhasil mengalihkan perhatian orang-orang itu....,"
"Orang-orang itu?!" tanya Sang Penolong menaikkan satu alisnya.
"Bisa jelaskan seperti apa wajah atau postur tubuh pria yang memiliki luka bakar itu?" tanya Sang Penolong untuk mengidentifikasi target musuhnya.
"Pria itu seumuran dengan Ken, mungkin tiga tahun lebih tua. Luka bakar yang ada di lengan kiri, tapi yang paling mencolok jam tangan merah menyilaukan mata saat terkena sinar matahari." jelas pria berkumis mengingat kejadian satu jam yang lalu setelah keluar dari perusahaan RD Company untuk mengalihkan perhatian musuh. "Ada apa? Apa kamu tahu sesuatu?"
Sang Penolong menggelengkan kepalanya, tapi sorot mata khawatir menimbulkan ketidakpercayaan pria berkumis. "Apa aku tidak berhak tahu apapun? Meskipun itu menyangkut keselamatan putraku?"
"Awasi saja sekitarmu, dan pasang telinga baik-baik. Jangan berusaha masuk lebih jauh! Aku tidak bisa mengambil resiko, apalagi menambah tanggung jawab ku melindungi banyak orang." Sang penolong beranjak dari tempat duduknya, "Satu lagi, jangan katakan apapun pada Kenzo, apalagi Keano!"
Kepergian sang penolong, membuat pria berkumis tertegun. Apalagi setelah peringatan yang diberikan wanita itu, rasa khawatir akan keselamatan kedua putranya semakin menjadi. "Aku tidak tahu apa yang kamu dan dia rencanakan, tapi aku tidak akan tinggal diam."
__ADS_1
Malam berlalu begitu cepat, berganti sinar mentari. Namun, dunia selalu menghadirkan begitu banyak berita yang memanas tanpa peduli siang ataupun malam. Bukan berita tentang keluarga Abizar saja tentunya, kali ini layar kaca menyiarkan penemuan mayat di pinggir sungai dalam keadaan mengenaskan.
Siapa mayat itu? Kenapa menjadi trending topic yang membuat banyak telinga sibuk mendengarkan dengan mulut yang berargumen sesuka hati para penonton berita.
Tingtong!
Tingtong!
Tingtong!
Bel rumah berbunyi berulang kali, membuat beberapa pelayan yang sibuk melakukan tugas terburu-buru menghentikan kegiatan dan berlari menuju pintu utama mansion.
"Bi Tun, kamu aja yang buka. Aku balik ke dalam biar sarapan segera disajikan."
"Yo, Ndu. Aku wae sek mbukak lawang." Jawab Bi Yatun mengelap tangannya yang basah dengan celemek yang terpasang di tubuhnya.
Tangan wanita pelayan itu menggenggam besi keemasan dengan kepala bunga teratai di depannya. Lalu menariknya, dan perlahan pintu terbuka. Beberapa orang berseragam polisi sudah berdiri di depan pintu utama, "Pak polisi?"
"Pagi, Bi. Apa Nyonya Abizar ada di rumah?" tanya Pak Polisi, membuat Bi Yatun mengangguk. "Tolong panggilkan beliau, kami pihak kepolisian memerlukan konfirmasi Identitas mayat yang ada di mobil ambulance."
"Mayat?" Bi Yatun tertegun mendengar penjelasan pak polisi.
__ADS_1