
Duug!
Pyaaar!
Keributan yang terjadi, membuat semua pengunjung cafe berjalan ke arah sumber suara.
"Maafkan, Saya, Tuan." ucap si pelayan menundukkan kepala dengan tangkupan tangan di dadanya.
Tanca memegang kepalanya yang terasa berputar setelah membentur cabang pohon akibat Ano berputar tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Ka....," seru Aurel menghampiri Tanca dengan wajah cemas nya, membuat Ano dan Ken saling pandang.
Tanca menyadari panggilan Aurel untuknya terdengar janggal bagi si kembar dan keluarga Abizar lainnya.
"Aku memintanya untuk memanggilku kakak setelah pertunangan, lagipula sekarang semua menjadi satu keluarga. Bukan begitu, Bee?" jelas Tanca meminta pembenaran.
Aurel mengangguk, "Bubar semuanya!"
"Kamu, bereskan semuanya. Berhentilah menunduk!" ujar Tanca, membuat si pelayan mengerjapkan mata tak percaya.
Bagi para pelayan jika melakukan kesalahan. Sudah pasti para orang kaya menghina dan segala macam perkataan bisa terdengar seperti rentetan kereta api, tapi baru kali ini ada pengunjung yang bersikap tenang.
"Terima kasih, Non." Si pelayan menunduk sekali lagi, lalu jongkok dan memunguti pecahan piring beserta makanan yang tumpah berceceran di atas rumput.
Tanca melepaskan tangan Ano dari pinggangnya. Kemudian berjalan menghampiri si pelayan, sedangkan para pengunjung lain sudah membubarkan diri karena suara intimidasi Aurel.
"Non, jangan! Saya....,"
__ADS_1
Tanca menatap pelayan dengan lembut, membuat wanita berseragam hitam putih berdasi bunga salah tingkah.
"Honey, biarkan pelayan yang....,"
Tanca mengangkat tangan kanannya, peringatan agar diam dari wanitanya membuat Ano menghela nafas. Melihat bagaimana tunangannya jongkok dan membantu pelayan membersihkan kekacauan itu. Sungguh hatinya tidak rela.
"Bangun!" Ano menarik Tanca dengan perasaan, dan menggantikan pekerjaan yang di lakukan tunangannya itu dengan satu tangan.
Nyonya Abizar berbalik, "Biarkan keduanya, kita kembali ke pendopo! Ano, Runa, cepatlah datang."
"Honey, pergilah bersama yang lain!" titah Ano tanpa menatap Tanca, tapi tangannya melepaskan tangan Tanca dari genggamannya.
Tanca tersenyum, seraya melambaikan tangan pada pelayan lain yang nampak dari arah timur.
"Permisi, Tuan, Nyonya. Biarkan saya yang membantu rekan kerja saya. Maafkan atas kecerobohannya." ucap pelayan itu dengan menundukkan kepala sesaat.
"Okay, pastikan bersih dari pecahan beling. Jangan sampai pengunjung ada yang terluka." ucap Ano memberikan peringatan, membuat pelayan yang berdiri di hadapannya itu mengangguk paham.
"Ano, biarkan mereka bekerja. Kita temui yang lainnya, ayo!" ajak Tanca berjalan di depan, dan diikuti Ano tanpa komplain.
Keduanya berjalan meninggalkan tempat kekacauan, tapi Ano memperhatikan bagaimana cara jalan wanita di depannya itu. Tubuh Tanca tidak seimbang, dan rambutnya terlihat basah. Padahal tidak ada hujan ataupun baru selesai keramas.
Ano mempercepat langkah kakinya. Lalu dengan tangan kiri yang bersih menyentuh kepala bagian belakang tunangannya itu, dan sensasi kental terasa menyapa kulit tangannya. Tanca berbalik dengan tatapan tanda tanya. "Ano, ada apa?"
Telapak tangan kirinya di perlihatkan, sontak membuat bola mata Ano membulat sempurna. Sedangkan Tanca menggelengkan kepala karena pandangan matanya mulai buram. Ntah apa yang terjadi, tapi sekelilingnya semakin hilang berganti gelap secara perlahan.
Tangannya terangkat untuk mencari sebuah pegangan ditengah rasa pusingnya yang semakin menyiksa. Tanca mengerjapkan mata, dan tubuhnya limbung ke belakang. Melihat hal tidak beres dari tunangannya, membuat Ano menangkap tubuh Tanca dengan cepat.
__ADS_1
Puk!
Puk!
Puk!
"Honey?!" panggil Ano sembari menepuk pipi Tanca agar sadar.
Tanca tak sadarkan diri, membuat Ano bergegas menggendong tunangannya. Namun, langkahnya bukan menuju pendopo melainkan berbalik arah dan berlari menuju pintu cafe yang berjarak sepuluh meter.
Aurel yang tak sengaja melihat tindakan Ano, langsung berdiri. "Nyonya, sepertinya terjadi sesuatu pada ka Runa."
Laporan Aurel, membuat Kenzo, dan nyonya Abizar mengalihkan pandangan mereka ke arah dimana dua anggota keluarganya berada.
"Ken, susul mereka!" titah Nyonya Abizar seraya berdiri mengambil ponselnya di atas meja.
Ken mengangguk dan berlari meninggalkan pendopo, sedangkan Aurel hanya bisa menahan diri dengan hatinya yang cemas memikirkan keadaan sang kakak. Wajah sendu, tatapan gelisah sang devil, tak luput dari perhatian nyonya Abizar.
"MD, duduklah!" titah Nyonya Abizar setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
Aurel duduk dengan kedua tangannya saling bertautan menahan rasa cemas nya.
Hening!
"Sejauh apa kalian dekat?" tanya nyonya Abizar dengan menatap Aurel.
Aurel membalas tatapan wanita paruh baya itu sesaat, lalu tatapannya dialihkan ke arah lain. Tindakannya itu, membuat nyonya Abizar curiga.
__ADS_1
"Apa yang kalian sembunyikan?"