
Semua yang terjadi tak luput dari pengawasan Aruna, dan sebelum pertanyaan menghampirinya. Maka lebih baik dirinya mengatakan sebuah kebenaran, "Mami jangan berpikir negatif. Aku akan memberitahukan segalanya. Silahkan, Dok!"
Dokter yang menangani Aruna mengangguk, lalu membuka laci yang ada di samping kiri. Surat perjanjian yang sudah ditandatangani dikeluarkan. Kemudian ia letakkan ke atas meja. Dimana nenek Abizar bisa memeriksa isi surat perjanjian itu.
"Apa ini, Runa?" tanya nenek Abizar menatap Aruna, sedangkan yang ditatap memilih berjalan menghampiri meja sang dokter.
Surat perjanjian itu diambil, lalu tanpa melihat ke arah nenek Abizar. Aruna membacakan setiap poin demi point, bahkan ia tak melihat bagaimana reaksi nenek Abizar. Baginya, saat ini yang penting adalah kebenaran. Kebenaran akan satu kenyataan di mana saat ini dirinya tengah hamil.
Akan tetapi, kehamilannya tidak bisa seperti wanita pada umumnya. Ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan calon anaknya dan dengan surat perjanjian itu. Maka dokter memberikan izin, apapun resikonya nanti hanya akan ditanggung oleh Aruna seseorang.
"Hentikan! Apa maksud dengan semua ini? Apa yang kamu inginkan sudah benar?" tanya nenek dengan suara tak senang.
Runa hanya tersenyum tipis seraya menahan semua rasa yang ia rasakan. Rasa yang tidak terlihat dan tak ingin orang lain melihat ataupun menatap dirinya dengan belas kasihan, "Mami, Aku sudah memutuskan semua ini. Tolong ijinkan aku karena aku tak mungkin untuk melepaskan calon anakku. Bukankah masa depan dari keluarga Abizar ada di dalam rahimku."
"Mami, tahu benar. Jika masa laluku dengan anak mami tak bisa lagi diubah. Penghianatan, permainan, semua tentang dia sudah berakhir dan aku tidak mungkin untuk mengakhiri apa yang sudah diakhiri. Saat ini yang aku pikirkan adalah kehidupan yang tak berdosa di dalam perutku."
__ADS_1
"Aku tahu, ini sangat sulit untuk diterima. Mami, please biarkan aku melakukan semuanya. Aku sengaja mengirim si kembar untuk pergi ke luar negeri karena aku ingin melakukan hal ini tanpa sepengetahuan mereka berdua. Yah, semua ini demi kebaikan kita bersama."
Untuk pertama kalinya. Aruna berbicara begitu panjang kali lebar. Wanita yang selalu bersikap tegas dan to the poin. Hari ini mencurahkan seluruh isi hati dan pikiran sebagai seorang putri pada mamanya sendiri. Nenek Abizar mencerna semuanya. Apapun yang dikatakan oleh Aruna, tapi jika semua itu dilakukan. Berarti sama saja membahayakan wanita itu.
Seketika ia memikirkan sesuatu yang mungkin bisa mengatasi semuanya. Sesuatu yang akan menjadi solusi terbaik. Tentu saja selain melakukan risiko yang jauh lebih tinggi. Akan tetapi, tatapan mata Aruna sangatlah tidak bisa untuk di tolak. Wanita itu menginginkan apa yang terbaik.
"Baiklah, Mami akan setuju yang menjadi permintaanmu, tapi dengan satu syarat," Ucap Mami menyetujui apa yang akan menjadi keputusan Aruna.
Aruna tersenyum lega, tanpa ia sadari persetujuan sang mami akan meminta sesuatu yang jauh lebih besar. Aruna memegang tangan nenek Abizar dengan tatapan yang dalam, "Apa syaratnya? Apa yang harus aku lakukan demi mempertahankan calon anakku?"
Jika aku tidak setuju saat ini, mungkin semua akan terlambat. Jadi lebih baik aku setuju dan untuk urusan esok, aku bisa mengurusnya lagi. Semua akan baik-baik saja dan disaat Bee kembali. Dia akan melakukan tugasnya.~ batin Aruna seraya menganggukkan kepala tanda setuju dengan syarat yang diajukan Nenek Abizar.
"Baiklah. Aku setuju dengan syarat dari Mami, tapi untuk sementara ini, biarkan aku menginap di rumah sakit. Aku harus melihat bagaimana prosedur dan mencari tahu segala sesuatunya agar bisa memutuskan langkah selanjutnya," Aruna mengerlingkan mata agar suasana kembali normal.
Nenek Abizar memahami apa yang dimaksud oleh Aruna dan tak ingin menekan wanita yang tengah berbadan dua. Maka akan lebih baik untuk menyetujui sekali lagi, "Baiklah, Runa, kamu boleh untuk tetap di rumah sakit, tapi ingat kamu harus kembali setelah tiga hari."
__ADS_1
Percakapan keduanya tanpa melibatkan sang dokter. Yah, dokter itu hanya bisa menjadi penyimak setia. Berbeda dengan di tempat lain dimana perdebatan masih bergulir begitu alot hingga salah satu tak mau mengalah dan salah satunya lagi masih ngotot.
"Apa kamu serius. Aku, sangat bosan di sini. Aku, ingin jalan-jalan. Aku, ingin shopping dan juga ingin pergi ke salon untuk merawat diri. Cuma karena semua yang kamu rencanakan. Kini aku harus diam karena kamu mengurungku di tempat ini. Apa ini yang dinamakan kehidupan? Ayolah, biarkan aku keluar dari sini." ujar seorang wanita dengan nada yang tak senang karena sudah sangat bosan setelah dikurung selama beberapa jam ditempat yang begitu gelap.
Seorang pria mengibaskan tangan. Dia tak ingin apapun yang ia rencanakan diketahui oleh siapapun. Setelah semua siap. Kenapa harus mengambil resiko yang mungkin akan menggagalkan segala sesuatunya. Tentu saja semua harus berjalan lancar dan sebentar lagi semua ada ditangannya. Baik harta, tahta dan juga wanita. Tba-tiba saja ia ingin merengkuh tubuh wanita itu, tetapi justru wanitanya memundurkan langkah kaki.
"Keluarkan Aku dari sini dan aku izinkan kamu menyentuhku. Jika tidak, selama kamu tidak mengizinkan aku keluar. Jangan harap bisa menyentuhku," putus wanita itu dengan acungan tangannya ke arah wajah sang pria.
"Siapa kamu? Kamu, hanyalah mayat bagi semua orang. Kamu sudah mati dan sikapmu ini disebut bodoh. Jangan pernah berpikir sesuatu yang tidak seharusnya karena kamu hanyalah budak. Bukan majikan." Pria itu benar-benar tak bisa lagi menahan rasa geramnya melihat tingkah wanita yang kini selalu saja memiliki emosi yang tinggi.
"Apa? Kamu bilang aku bodoh, lalu kamu sendiri apa? Kamu hanya pria pemangsa wanita. Ingat ya, aku ini istri sahmu dan wanita yang meninggal itu adalah saudara kembarku. Jadi jangan pernah berpikir, aku mengalah. Aku, tidak mengalah karena saat ini aku sudah kembali dan aku tidak mau kehilangan apapun baik itu anakku ataupun hartaku."
Pernyataan wanita itu tak bisa lagi di diabaikan, tapi bukan itu yang akan menjadi masalahnya. Sang pria memilih untuk diam dan meninggalkan wanitanya. Tak lupa ia mengunci ruangan tersembunyi itu. Tentu ia tak mau, jika wanita itu keluar diam-diam apalagi membuat sesuatu di luar sana dan menjadi sebuah kebenaran yang akan terungkap. Mungkin banyak orang yang akan bertanya bagaimana orang meninggal kembali hidup sementara jasadnya saja tidak pernah diangkat kembali.
"Dia, pikir dirinya pintar, tapi sayangnya tetaplah menjadi budak ku bukan majikan ataupun istriku. Tinggallah di dalam sana. Kamu adalah mayat bukan manusia lagi hanya tinggal nama dan tinggal kenangan."
__ADS_1
Suara pria itu masih cukup bisa didengar hingga ke dalam ruangan rahasia. Sontak saja wanita di dalam sana menyambar apapun yang ada di dekatnya.