
Film di belakang Aurel terus bergulir hingga semuanya menjadi jelas. Seperti mata buta mendapatkan pencerahan. Kebenaran yang awalnya berpihak pada Lea mulai berubah haluan. Aurel bahkan tidak tanggung-tanggung menunjukkan kebenaran secara jelas. Melalui rangkaian rekaman CCTV tercipta satu film berdurasi empat puluh menit yang menjadi kain lakban untuk para awak media. Terutama si wartawan baju biru tua lusuh.
Sementara di tempat lain. Sebuah benda bulat yang tergenggam di tangan seseorang digenggam erat. Hingga otot tangan orang itu terlihat menonjol. Lalu satu gerakannya, membuat benda bulat itu terbang dan menuju layar pipih yang terpasang di dinding.
Pyaaar!
"Aaarrrgggggh. S!AL!"
Dari luar seorang pelayan terburu-buru masuk ke kamar sang majikan. Beruntung pintu kamar terbuka setengah, membuatnya tidak perlu mengetuk pintu lagi. Begitu masuk ke dalam kamar, TV di depan sana sudah hancur tak berbentuk. Sedangkan sang majikan berdiri terpaku menatap TV dengan kedua tangan mengepal erat.
"Nyonya Lea?" panggil si pelayan seraya berjalan mendekati sang majikan.
Lea berbalik menatap pelayan itu dengan senyuman aneh. Sontak langkah si pelayan terhenti.
"Kenapa nyonya menatapku seperti itu?" tanya si pelayan gugup.
__ADS_1
Lea melepaskan kepalan tangannya, lalu melambaikan tangan agar si pelayan mendekati dirinya. Tanpa rasa curiga. Pelayan itu mendekat dengan kegugupan serta degup jantung tak beraturan.
"Ada apa, Nyonya?" tanya si pelayan.
Bukannya menjawab. Lea langsung menarik tubuh pelayan nya dengan bekapan mulut. Pemberontakan tak terelakkan. Sayangnya saat ini Lea tengah dikuasai amarah yang meledak, membuat tenaga wanita itu tidak terkalahkan. Terlebih lagi si pelayan sudah berumur cukup lanjut usia.
"Emmppttt." suara si pelayan sebelum berakhir pingsan di tangan Lea.
Bruug!
Tatapan haus darah dengan senyuman aneh yang hadir di wajah Lea tak ubahnya seperti tatapan seekor ular kelaparan. Langkah kakinya berjalan mendekati tubuh pelayan yang terkapar di lantai.
"Satu pelayan menghilang. Siapa yang akan sadar? Tidak ada." Lea bergumam seraya menyambar pisau buah di atas keranjang buah yang selalu tersedia di dalam kamarnya. "Salah siapa masuk ke kandang macan?"
Lea berjongkok. Kemudian memainkan pisau buah di wajah si pelayan. Ntah apa yang merasuki wanita itu, tiba-tiba saja memberikan satu goresan dengan panjang lima centi. Warna merah perlahan keluar dari luka goresan, membuat Lea mencolek cairan itu dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Sepah. Apa karena terlalu tua ya? Bodo amat, aku dapat mainan baru." keluh Lea setelah menjil@t darah di pisaunya.
Tidak ingin terlalu lama berpikir ini dan itu. Lea melanjutkan aksinya. Pisau buah yang tajamnya tak setajam pisau daging mulai ditorehkan untuk melukis wajah si pelayan.
Sepertinya pelayan itu benar-benar pingsan tingkat tinggi. Lihat saja perbuatan Lea sama sekali tidak mengusik alam bawah sadar pelayan itu sedikit pun. Hingga goresan memanjang tercipta seperti rel kereta api memenuhi wajahnya. Senyuman aneh di wajah Lea semakin mengembang sempurna dengan mata nyalang siap menerkam.
Tanpa Lea sadari. Jika kamarnya sudah dipasang CCTV tersembunyi, membuat si pemasang kamera menggelengkan kepala dengan tatapan jijik. Bagaimana tontonan di layar laptopnya sangat tidak manusia.
Ceklek!
"Kenapa gelap sekali kamarmu?"
Ctit!
Saklar lampu ditekan, dan lampu menyala. Kini kamar terlihat jelas, rapi dengan nuansa biru laut. Hiasan gantung dreamcatcher menjadi icon utama di kamar itu, membuat desain interior terlihat seperti seorang pemimpi sejati.
__ADS_1
"Apa kamu marah denganku?" tanya si penyala lampu, dimana ia masih berdiri di depan pintu seraya menatap si pemilik kamar yang duduk bersandar di ranjang king size memangku laptop.