
Nyonya Abizar mengangguk, "Selesaikan pekerjaan seminggu ke depan hari ini juga!"
"WHAT'S?" seru si kembar serempak.
Tanca menahan tawanya melihat reaksi si kembar yang menggemaskan, sementara Lea yang melihat keakraban keluarga tanpa dirinya menghentakkan sendok di tangannya dengan emosi.
Klutak...
Nasi yang bercampur kuah sop dengan daging berhamburan di meja depan Lea, membuat Nyonya Abizar bangun tanpa menyelesaikan sarapan paginya.
Prook!
Prook!
Prook!
Tiga tepuk tangannya membuat para pelayan berlari dan berkumpul di depan sang majikan.
"Kalian semua dengarkan aku. Jangan ada yang membereskan meja makan, biarkan wanita patung itu membersihkan kekacauan atas perbuatannya sendiri!" ujar nyonya Abizar lalu mengibaskan tangannya agar para pelayan kembali bekerja.
Kenzo bangun dan berjalan menghampiri sang nenek, "Nek, bisa kita bicara?"
__ADS_1
"Tidak sekarang. Lakukan tugasmu, dan jangan masuk ke jalan penuh kebohongan. Pergilah ke kantor," usir nyonya Abizar dengan nasehat seorang nenek terhadap cucunya.
Kenzo tak ingin menyerah. Langkah kaki neneknya kembali berjalan menuju tangga di depan sana. Tanpa pikir panjang, Kenzo menarik nafas.
"Wanita patung itu ibuku!" seru Kenzo membuat wajah Lea tersenyum bangga.
Tapi tidak dengan Keano yang langsung mengangkat piring di depannya lalu melemparkan ke arah Kenzo.
Pyaar....
Suara itu membuat semua orang tegang. Nyonya Abizar berbalik, Lea berlari menghampiri Kenzo yang terkejut, sedangkan Tanca memilih mendekati Keano.
Greeb
"Calm down! Kita berangkat ke kantor! Jangan membantahku, ayo." ajak Tanca melepaskan pelukan kemudian menggandeng tangan Ano dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar tablet dan tas jinjingnya.
Keano hanya bisa berjalan mengikuti tarikan tangan Tanca dengan tatapan marah melihat Lea menyentuh tubuh saudaranya.
Nyonya Abizar mendekati Kenzo dan Lea, tatapan matanya tak bisa diartikan.
"Kenzo Dion Al Abizar! Itu namamu, kamu menganggapnya ibu bukan?" Nyonya Abizar berjongkok lalu mengambil satu pecahan piring dengan ujung yang sangat runcing dan tajam.
__ADS_1
Kenzo mengangkat tangannya, tapi ditarik Lea agar tidak mendekati sang nenek.
"Nek,...." panggil Kenzo.
Nyonya Abizar hanya tersenyum simpul, "Seorang ibu rela memberikan nyawanya demi kehidupan anak-anak mereka. Tanyakan pada ibumu. Dimanakah dia saat kedua putra kembarnya memerlukan transfusi darah di malam badai tanpa akses jalan menuju rumah sakit lain, dan dimana dia saat kalian menangis meminta tolong di tengah kobaran api,"
"Bu....."
Tangan nyonya Abizar terangkan, dirinya tak ingin mendengar satu kata pun dari wanita patung itu. "Sejak kamu menelantarkan si kembar, bagiku kamu hanyalah patung. Pelayan rumahku lebih berharga darimu Lea Dion dan kamu cucuku, pilihlah sesuka hatimu. Nenek, Runa ataupun Ano tidak akan memaksakan penilaian kami terhadap wanita patung ini."
Semua ucapan neneknya tertancap seperti pecahan piring tajam di bawahnya. Tapi, bagaimanapun wanita patung itu adalah ibu yang melahirkan dirinya. Melawan arus hanya akan menenggelamkan seluruh keluarganya. "Maafkan aku, Nek."
Nyonya Abizar tak menggubris, kakinya tak ingin tinggal di ruangan yang sama dengan wanita patung. Seluas apapun ruangan itu, pasti terasa sesak. Langkah tak semangat wanita paruh baya itu meninggalkan Kenzo dan Lea.
Kepergian ibu mertuanya, membuat Lea langsung memeluk Kenzo erat. "Terima kasih, Nak. Sungguh ibu bahagia dengan pengakuan mu, ibu berharap Kea juga mau menerima ibu."
"Sebaiknya ibu kembali ke kamar, Aku akan pergi ke kantor." saran Kenzo melepaskan pelukan ibunya.
Lea mengubah ekspresi wajahnya menjadi sendu dengan mata memelas, membuat Kenzo menangkup wajah ibunya itu. "Kita bisa bicara saat malam, Kenzo harus bekerja."
"Ibu tunggu, Nak. Hati-hati di jalan." ucap Lea menunjukkan ketulusan hatinya mengiringi kepergian sang putra.
__ADS_1
Beberapa menit senyuman di wajah Lea masih menggembang hingga punggung Kenzo hilang di balik pintu utama. Barulah wajah wanita itu kembali geram menahan emosinya.
Lihat saja pembalasanku nenek peyot. ~batin Lea dengan pipi memerah.