Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 60: Seorang Ibu atau Seorang Iblis?


__ADS_3

"Nak, ada apa?" tanya Nyonya Abizar penasaran dengan perubahan wajah Tanca yang mendadak diam terpaku dengan tangan menggenggam erat ponsel milik Yuyun.


Keano dan Kenzo ikut bangun, lalu menghampiri Tanca. Belum juga sempat melihat apa yang menjadi alasan Tanca terdiam, ponsel sudah retak di tangan wanita itu.


Tes!


Tes!


Tes!


"Daraah....,"


Keterkejutan Yuyun hanya di balas seringaian di bibir Tanca. Tanpa menunggu menjelaskan situasinya, wanita itu berbalik menatap Lea yang tenang menyantap sarapannya seperti tak berdosa.


Tanpa kata, ponsel di lemparkan dan tepar terjatuh di piring Lea, tindakannya membuat semua orang melongo. Namun, tidak dengan reaksi Lea yang santai mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang terkena kuah sop serta cipratan nasi. Sedangkan Dion menatap Lea dengan kedua alis bertautan.


Apa dia kesambet? Sejak kapan wanita satu ini tenang seperti di pantai, dan kenapa pula pengasuh itu marah dengan tatapan siap menerkam. ~batin Dion seraya menyilangkan kedua tangannya di atas meja.


"Nak?" panggil nyonya Abizar lembut, Tanca menatap wanita paruh baya dengan ketenangan.

__ADS_1


Keano yang melihat darah menetes dari tangan kiri Tanca bergegas mengambil kotak obat, sedangkan Kenzo otot syarafnya seakan mati. Ntah apa yang akan terjadi, tapi aura Tanca sudah jauh berbeda. Bahkan bulu kuduk nya ikut merinding.


"Kamu seorang ibu atau seorang iblis?" tanya Tanca dengan suara tegas seraya menunjuk ke arah Lea dengan jari yang meneteskan darah kental ke lantai.


Lea bangun seraya mendorong kursi ke belakang dengan kakinya. Langkah wanita itu berjalan memutari meja, hingga terhenti di depan Tanca di samping Kenzo, dan menurunkan jari Tanca yang masih mengarah kearahnya.


"Aku hanya mengambil hak ku. Apa salahnya dengan keinginan ku? Disini tidak ada yang dirugikan, dan satu hal pasti adalah kini dunia tahu jika Keano dan Kenzo putraku." jelas Lea tanpa rasa bersalah sedikitpun, tapi tanpa wanita itu sadari jika tatapan Kenzo perlahan berubah memerah.


Keano membuka kotak obat, lalu membimbing Tanca agar duduk di kursi. Namun, Tanca melepaskan tangan Ano dan tetap berdiri di depan Lea.


"Honey!" panggil Ano tanpa peduli situasi tegang di sekitarnya.


"Kamu bilang *HAK*?" Tanca tersenyum sinis, seraya mengambil ponsel dari kemeja Ano yang berdiri di sampingnya.


Hanya dalam hitungan detik, ponsel Ano di tunjukkan ke arah Lea, Ken, Ano dan Nyonya Abizar. Tanpa menunda Tanca menekan tombol volume agar suara maksimal.


"Pemirsa, saya Opick dari channel TV Merdeka akan menyiarkan berita terpanas pagi ini yaitu kebenaran tentang pewaris Royal Diamond yang terkenal dengan ketampanan dan juga sikap dingin mereka. Semua pasti tidak akan percaya, jika dua pria kembar yang di gadang-gadang sebagai penerus tahta bisnis kerajaan keluarga Abizar ternyata bukan keturunan dari Tuan Dion Al Abizar. Pihak terkait juga menyatakan jika kebenaran ini benar adanya." Opick si penyiar berhenti sesaat mengatur nafas, "Mari kita saksikan kebenaran ini secara bersama-sama."


Opick terlihat mengarahkan ponsel pribadinya pada kamera yang tengah melakukan siaran langsung. Video singkat dimana Keano mengatakan kebenaran di depan Kenzo, video itu yang menjadi tontonan seluruh publik. Bukan hanya itu saja, video itu berlanjut dengan tangisan air mata buaya Lea yang terlihat seakan selalu tak dianggap oleh kedua putranya serta meminta haknya sebagai seorang ibu.

__ADS_1


Tanca mematikan siaran langsung dari ponsel Keano, lalu menyerahkan ponselnya ke si pemilik.


"Kenapa dengan wajah kalian semua?" tanya polos Lea. "Ayolah, ini bukan hal baru 'kan? Sampai kapan kenyataan di dalam keluarga Abizar terbungkus topeng palsu kalian....,"


Kenzo menarik tangan Lea seraya mengangkat tangan kanannya dan mendarat sempurna di pipi kiri wanita itu.


Plaaak!


Suara tamparan yang menggema menyisakan jejak jari di pipi Lea, membuat wanita itu tercengang dengan reaksi putranya yang justru menampar dirinya. "Ken....,"


"Diam!" Kenzo mengangkat tangan kanannya dengan jari terbuka. "Tidak seharusnya ibu melakukan semua itu! Aku pikir, ibu berhak mendapatkan tempat di hatiku, rumah ini dan juga kehidupan kami. Ternyata aku salah besar. Ibu bukanlah seorang ibu."


Kenzo menepis tangan Lea yang hampir saja menyentuh wajahnya. "Jangan sentuh aku! Aku jijik memiliki ibu seperti mu. Saat Ano mengatakan kebenarannya, Tanca masih berusaha menenangkan diriku tanpa peduli dengan kepalanya yang terluka. Sementara saudaraku sendiri siap mengalah membiarkan tunangannya menjagaku di tengah malam, disaat mimpi buruk datang menyapaku. Sedangkan kamu justru menusuk hati dan kepercayaan ku tanpa mengenal kasihan. Apa kamu seorang ibu?"


"Ano, bawa Ken ke kamar!" titah Tanca tak tahan melihat keterpurukan Kenzo sekali lagi, terlebih setelah seminggu usahanya mengembalikan semangat Ken dan kini dirusak Lea dalam sekali gerakan.


Ano masih diam dengan kedua tangannya terkepal hingga kukunya memutih, tapi satu sentuhan di bahu membuat pria itu memejamkan mata untuk menetralkan emosinya yang lumer seperti lahar gunung berapi.


"Pergilah bawa Ken ke atas!"

__ADS_1


__ADS_2