
Mata terkejut dengan tatapan kosong serta wajah memucat, membuat karyawan itu menjadi bahan tontonan. Tidak hanya sampai disitu. Tanca berkacak pinggang, "Kalian semua dengarkan aku! Perusahaan ini tidak membutuhkan karyawan bermata keserakahan. Camkan ini baik-baik....,"
"Siapa kamu berani memecat karyawan perusahaan ku?!"
Suara berat dari arah pintu masuk ruangan kantor lantai tiga mengalihkan perhatian semua orang kecuali Tanca. Wanita itu semakin mendatarkan wajahnya ketika suara tak asing masuk ke gendang telinga hanya untuk merusak indera pendengarnya saja.
Langkah kaki itu semakin mendekat, membuat para karyawan membungkuk dengan wajah tegang seraya menyingkir ke samping untuk memberikan jalan. Namun, beberapa wajah terlihat sumringah dengan kehadiran pria dewasa berpostur tinggi besar dengan kumis tipis itu.
Tap!
Langkahnya terhenti tepat di depan karyawan yang masih dalam posisi setengah terbaring di lantai dengan wajah pucat. Tangannya terulur ke karyawan itu. "Ayo, jabat tanganku!''
Karyawan itu terlihat bingung untuk membuat keputusan di saat rencananya tidak sesuai. Sekilas melihat ke arah Tanca. Kedipan mata sekali itu, membuat dirinya menerima uluran tangan pria yang dikenal sebagai papa si kembar.
"Terima kasih, Tuan." ucap sang karyawan berusaha bangun dari tempatnya dengan keadaan fisiknya yang tak senormal orang lain.
Tubuh yang tidak seimbang, membuat Tuan Dion sigap menangkap karyawan perusahaannya itu. Sedangkan Tanca memilih memainkan jemarinya tanpa memandang pria di depannya itu yang menatap ke arahnya dengan sinis.
"Siapa yang memberimu hak untuk memecat karyawan di perusahaan keluarga ku?!" seru Tuan Dion mengagetkan semua karyawan di ruangan itu.
Tanca menghentikan bermain jemarinya lalu menyilangkan kedua tangannya. "Hak? Kenapa, Anda tidak tanya pewaris Royal Diamond, siapa aku?" Tanca membalikkan pertanyaan yang mengundang tawa para karyawan meskipun ditahan.
__ADS_1
Reaksi santai, dan tak terintimidasi Tanca membuat Tuan Dion mengepalkan tangannya. Tanpa sadar dirinya masih menggenggam tangan sang karyawan.
"Tuan," panggil karyawan dengan lirik membuat Tuan Dion melepaskan genggaman tangannya.
Kehebohan yang menjadi waktu bekerja sebagai tontonan menyita perhatian seorang OB. Tanpa pikir panjang, OB itu berlari menuju ke ruangan CEO.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" seru dari dalam ruangan.
OB masuk setelah dipersilahkan lalu menutup pintu kembali. Barulah memberikan salam dengan membungkukkan setengah badannya.
"Ada apa? Kami tidak memesan apapun." Kenzo bertanya dengan nada tak suka.
OB itu masih menunduk, "Maafkan, Saya, Tuan. Di luar ruangan Nona Angel....,"
Duo K saling pandang, sembari bangkit dari tempat keduanya berada lalu berlari menghampiri OB nya. "Katakan!"
__ADS_1
Kekompakan Duo K, membuat OB itu bergidik karena kata-kata yang keluar seperti bom meledak di samping telinga. Hal itu justru menjadi keterkejutan si OB dan sukses membuat pria berseragam biru tua itu tercengang dalam diam.
"Wes malah bengong. Ken, kita ke sana langsung saja." ajak Ano tak mau menunggu penjelasan dari OB.
Kenzo mengangguk. Kemudian keduanya keluar dari ruangan kerjanya tanpa mempedulikan raga shock si OB.
Suara perdebatan menyambut Duo K. Tatapan mata Ano terpatri pada sosok cantik yang berdiam diri meskipun tengah di ceramahi tentang peraturan perusahaan. Hal itu sukses membuat darahnya mendidih. Sedangkan Kenzo harap-harap cemas. Tidak seharusnya sang papa memberikan ceramah seperti itu.
Ano mempercepat langkahnya menghampiri Tanca. Tanpa basa basi, dirinya merengkuh tubuh wanitanya itu sembari menepis tangan Tuan Dion yang terarah ke Tanca.
Pluk!
"Ada apa ini?!" Seru Keano dengan nada bariton nya.
Bahkan Tanca yang awalnya tenang. Ikut terkejut dengan nada tinggi Ano.
"Kamu!" ucap geram Tuan Dion menatap Ano tajam menusuk.
Kenapa semua justru berkumpul. Aku harus mengendalikan situasi sebelum semua terlambat.~batin Tanca.
Kenzo menghampiri papanya, ''Pa, kenapa papa ke kantor?"
__ADS_1
"Aku….,"
"Apa kalian semua dibayar untuk menikmati tontonan gratis? Kembali bekerja!"