Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 100: MAJIKAN ARROGANT - KEPUTUSAN FINAL?


__ADS_3

Aurel mengikuti apapun yang Ano inginkan. Jujur dirinya juga ikut khawatir. Ketiganya keluar dari kamar mandi beriringan, membuat Ken dan nenek Abizar panik kembali. Niat hati ingin menghampiri, tetapi isyarat tangan MD menjelaskan semua aman terkendali.


"Ken, kita susul mereka sekarang!"


Kepergian semua anggota keluarga, membuat seorang pria dengan penampilan santai menuruni anak tangga. Langkah kakinya sangat arrogant, bahkan para pelayan yang masih sibuk membersihkan meja makan memilih menghentikan pekerjaan mereka. Lalu mengundurkan diri begitu saja untuk kembali ke belakang.


"C!h, Aku juga majikan disini, tapi perlakuan mereka benar-benar menjengkelkan. Mereka pikir aku siapa? Anak pungut?" gumaman tanya yang tak enak untuk didengarkan terus saja keluar dari mulut beraroma alkohol.


Ntah sudah berapa botol wine yang pria itu habiskan. Mungkin ia turun hanya karena merasa lapar. Jika tidak, sudah pasti memilih untuk kembali meneguk wine di dalam kamar. Setelah kepergian sang istri. Bukannya sadar menjadi manusia lebih baik. Justru kelakuan semakin minus saja.


"Heh, KAU, kemari!" seru Dion melambaikan tangan kepada seorang pelayan muda yang baru saja lewat dengan seember air pel kotor.


Gadis itu menunduk. Tetapi langkah kakinya berubah arah menghampiri sang majikan yang memanggilnya. Langkah kaki yang gemetar masih berusaha ia seret dengan berat hari, hingga jarak menyisakan tiga meter. Suara lantang mengejutkan, membuat ember yang tergenggam terlepas dari tangannya.

__ADS_1


"LAMBAN!" hardik Dion dengan suara petirnya.


Ember menggelinding dengan tumpahan air pel kotor yang tercecer kemana-mana. Sontak saja Dion melangkah mundur sebelum kakinya menyentuh air hitam yang pasti penuh kuman. Tatapan matanya merah padam, membuat gadis pelayan semakin ketakutan.


Tanpa diduga kesalahan kecilnya akan dijadikan alasan untuk kepentingan sang majikan. Dion tersenyum nakal, lalu berjalan kembali menuju tangga. Sang gadis pelayan menghirup udara bebas, dan berpikir semua baik-baik saja. Namun, pikiran itu hanya sesaat. Sebelum di hempaskan ke lembah yang dalam di saat suara perintah majikannya kembali terdengar.


"Bawa makanan ku ke kamar!" titah Dion dengan langkah kaki semakin mendekati lantai dua.


Bukan hal aneh lagi. Ketika pelayan muda dengan status perawan akan merasa was-was ketika di minta mengantarkan makanan ke kamar majikan tuan Dion. Bukan rahasia lagi tabiat majikan satu itu, karena banyak pelayan yang menjadi korban


"Rena, biar bibi saja yang antar. Kamu mending bersihin kamar bawah," Ucap Bi Yatun tak ingin gadis ceria itu mengalami nasib seperti pelayan lainnya.


Rena yang mendengarkan itu langsung menghamburkan diri memeluk pelayan dengan usia sama seperti ibunya di kampung, "Bi Yatun, makasih banyak. Aku takut...,"

__ADS_1


"Wes, Ndu. Bibi juga punya keponakan cewek di kampung. Ya udah, bibi siapin makanan buat tuan Dion, dan kamu selesaikan pekerjaan lainnya," kata Bi Yatun mengusap kepala Rena sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara di tempat lain. Tepatnya di gedung serba putih, wajah khawatir Ano, Bee, Ken, dan nenek Abizar masih tergambar jelas. Bagaimana tidak cemas. Setelah Tanca masuk ke dalam ruang pemeriksaan selama sepuluh menit. Dokter masih saja belum keluar untuk memberikan keterangan. Ketegangan di luar ruangan, juga terjadi di dalam ruangan.


Dokter menatap pasiennya dengan tatapan mata tak percaya. Bagaimana bisa seorang wanita mengambil resiko yang besar, setelah mengetahui kondisi kesehatannya sendiri tengah di ambang maut. Gelengan kepala pasrah sang dokter menjadi seulas senyum di bibir Aruna. Keduanya tak mau sepakat, tetapi tetap saja harus ada yang mengalah.


"Aku tanya sekali lagi. Apa semua ini sudah menjadi keputusan final?" tanya dokter dengan doa di dalam hari agar Aruna membatalkan rencana gilanya.


Aruna terkekeh pelan. Bukan menertawakan usaha sang dokter, tetapi menertawakan kehidupannya yang selalu di ujung persimpangan. Setiap kali pintu satu terbuka, justru pintu lain tertutup. Termasuk situasinya saat ini, tak ada pilihan yang bisa menguntungkan. Meskipun begitu, tidak ada kata menyerah sebelum berperang.


"Seribu kali, kamu bertanya. Jawabanku akan tetap sama. Aku siap mempertahankan bayiku. Apapun resikonya," Jawab Aruna serius tanpa keraguan, bahkan lelehan air matanya menjadi saksi jiwa keibuan wanita itu kembali hadir mengisi relung hatinya.


Dokter menganggukkan kepala, lalu menandatangani surat perjanjian yang memberikan begitu banyak pasar secara tertulis. Surat di sodorkan ke Aruna dengan sebuah pulpen di atasnya. Tanpa basa-basi, wanita cantik itu membubuhkan satu tanda tangan persetujuannya. Kini kontrak kerja sama telah disepakati.

__ADS_1


"Boleh, Aku panggil keluargamu?" tanya Dokter, membuat Aruna mengedipkan matanya tanda setuju.


__ADS_2