Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 107: SIAP KEMBALI


__ADS_3

Berita di dalam televisi itu, menghentikan tangan yang sibuk memotong sayuran di dapur. Seorang wanita tersenyum tipis mendengar berita itu. Kemudian ia menghentikan aktivitasnya untuk mengambil segelas air yang ada di sisi kiri meja, "Aku senang, akhirnya mendengar berita yang kutunggu. Baiklah, sudah waktunya aku kembali. Aku juga sudah siap untuk menghadapi semuanya."


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu terdengar cukup jelas dari dapur. Rumah itu tidak begitu besar, sehingga sangat cukup jelas jika ada suara apapun di sekitar rumah. Ketukan pintu yang tidak sabaran, membuat wanita yang sibuk di dapur meletakkan pisaunya. Kemudian berjalan meninggalkan tempat yang biasa menjadi penghilang penat di setiap saat merasakan kebosanan.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Dia ini tidak pernah bisa sabar. Untung saja, aku tidak memberikan kunci duplikat dan tidak memberikan izin untuk mendobrak jendela ataupun pintu," gumam Wanita itu berjalan dengan sangat hati-hati, mengingat kondisinya saat ini tengah hamil memasuki usia enam bulan.


Ceklek!


Pintu dibuka, yang terlihat untuk pertama kali di depan mata adalah buket bunga mawar merah dengan harum yang semerbak. Aroma segar menandakan bunga itu baru saja dipetik dari kebunnya secara langsung. Lihatlah warna merah yang menggoda dengan dedaunan yang hijau segar. Wanita itu mengambil buket bunga, lalu menghirup nya perlahan.


"Harum, tapi caramu tidak benar. Telinga ku bisa tuli. Jika kamu mengetuk pintu dengan emosi," ujar Wanita itu seraya mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap wajah seorang pria yang datang berkunjung.


Senyuman manis dengan tatapan kerinduan. Jelas terpancar di mata Sang pria, membuat Sang wanita membalasnya dengan senyuman yang tulus, "Ayo, kita masuk. Masih cukup waktu untuk datang ke acara bukan?"


Keduanya masuk ke dalam rumah. Langkah kaki beriringan dengan genggaman tangan yang tidak ingin dilepaskan. Namun, tiba-tiba wanita itu terhuyung kebelakang. Sontak saja, pria yang ada disampingnya langsung menangkap tubuh wanitanya. Tatapan mata tak bisa terelakkan, perlahan tapi pasti kedua insan itu melepaskan rindu dengan menikmati kebersamaan.


"Tidak, Honey. Aku menerima keputusanmu karena kepercayaan di hatiku tidak akan pernah luntur. Kamu bukan hanya cintaku, tapi kini sudah menjadi istri dan ibu dari anakku. Kita adalah keluarga. Benar bukan?" Sang Pria mengungkapkan isi hatinya, meski diakhiri dengan pertanyaan yang membutuhkan kepastian.


Wanita itu mengangguk, dan ia meraih tangan Sang pria. Membiarkan tangan kekar itu memberikan usapan di perutnya. Ia ingin ayah dari anaknya, bisa merasakan kehadiran sang anak. Usapan yang selalu menjadi rindu disaat malam menjelang. Kehidupan yang memisahkan kedua insan itu, tidak bisa dihindari. Semua demi kebaikan bersama.

__ADS_1


"Bolehkah, Aku berbicara dengan anakku?" tanya pria itu dengan semangat dan penuh harap.


Wanita itu mengangguk, membuat sang suami mendekat untuk berbicara dengan anak yang masih di dalam kandungan.


"Anakku, apa kabar mu, sayang?"


"Maafin, Papa, ya. Papa tidak bisa jagain kamu dan juga mama, tapi papa janji. Nanti saat kita tinggal bersama. Papa akan selalu menjaga kalian. Iya kan, Honey?"


Harapan demi harapan diucapkan sang pria, membuat wanita itu menyadari. Ia telah merenggut waktu dan hak seorang ayah untuk dekat dengan anaknya sendiri. Meski, ada penyesalan. Tetap saja, ada rasa syukur karena pria di depannya bersikap dewasa dan mau menerima keputusan yang telah ia buat.


"Aku siap untuk kembali." Kata Wanita itu, membuat suaminya berhenti berceloteh panjang kali lebar, lalu mendongak menatap sang istri dengan tatapan menelisik.


"Katakan sekali lagi, Honey," pinta Pria itu dengan harapan yang siap meledak.


"Keano Dion Al Abizar. Istrimu Aruna Kenzo Dion Al Abizar siap kembali."

__ADS_1


Keputusan yang diumumkan Aruna, membuat Keano mengerjapkan mata tak percaya. Namun, sentuhan bibir lembut sang istri menyadarkan dirinya. Semua itu nyata. Kehidupan yang selama beberapa bulan di penuhi kesendirian. Sebentar lagi akan dipenuhi warna pelangi. Sungguh hari ini adalah hari terbaik bagi seorang Keano.


"Love you, My Wife," Keano mengecup kening Aruna, setelah kecupan singkat di bibirnya melepaskan diri, "Katakan satu hal, apa alasanmu kembali?"


__ADS_2