Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 22: Kenzo Lupa - Rapat dimulai


__ADS_3

Beberapa menit senyuman di wajah Lea masih menggembang hingga punggung Kenzo hilang di balik pintu utama. Barulah wajah wanita itu kembali geram menahan emosinya.


Lihat saja pembalasanku nenek peyot. ~batin Lea dengan pipi memerah.


Prook!


Prook!


Prook!


Langkah kaki tegak berjalan mendekati Lea lalu merangkul pinggang wanita itu tanpa malu, "Rupanya wanita bodohku mulai murka, pertahankan ini sayang. Aku ingin istri seperti rubah, bukan seperti kambing yang hanya suka mengembik di kandang."


Lea menarik tubuh Dion, membuat keduanya berpelukan erat. "Mau coba istri rasa drakula?"


"Wow, siapa takut." tantang Dion mengubah haluan, tubuh Lea terbang berpindah di lengan sang suami.


Dion menggendong Lea untuk kembali ke kamar, dirinya ingin mencoba istri rasa drakula. Jika selama ini istrinya itu seperti wanita pasrah saat melakukan pergulatan, tentu ada harapan untuk kemajuan saat bergulat di atas ranjang.


Sedangkan di tempat lain. Tepatnya di dalam mobil mercedes-benz putih, Kenzo tengah memukul stir mobil berulang kali dengan umpatan kekesalan. Hingga fokusnya bukan lagi ke jalanan, tapi terpecah belah. Suara teriakan dari depan membuatnya melakukan pengereman mendadak.


"Aaaarrggghh....."


Ciiiiit.....


Braaak....

__ADS_1


"Damn it! Siapa yang ketabrak," umpat Kenzo melepaskan sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil dan keluar.


Langkahnya berjalan ke depan, dimana seorang wanita dengan wajah tertutup rambut tergeletak di depan mobilnya. Cairan merah membasahi aspal, membuat Kenzo bergegas menghampiri korbannya.


Tanpa menyingkap rambut korban. Kenzo membopong wanita itu lalu memasukkan ke kursi samping kemudi. Tak lupa memasang sabuk pengaman, kemudian langkahnya memutari mobil bagian depan kembali ke tempatnya. Mobil dinyalakan dan melaju meninggalkan tempat kejadian.


"Kenapa hari ini s!al sekali, ayolah cepat Kenzo!"


Kenzo melajukan mobilnya melebihi kecepatan maksimal agar segera sampai di rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari tempat kejadian. Bahkan dirinya lupa untuk mengabari Ano dan Tanca jika harus terlambat mengikuti rapat hari ini.


Perjalanan selama tiga puluh menit ditempuh Kenzo. Begitu mobil di parkir kan, Kenzo bergegas menggendong tubuh si korban dan berlari menuju lobi rumah sakit.


"Dok, cepat tolong pasien!" seru Kenzo menarik perhatian seluruh orang di sekitarnya.


Seorang dokter wanita langsung menghampiri Kenzo bersama beberapa suster yang mendorong brankar. "Apa yang terjadi pada pasien?"


"Tapi,..."


"Cepat! Jika nyawa pasien melayang, kamu mau bertanggung jawab?!" tukas Kenzo meluapkan emosinya.


Seorang suster hendak menjawab, tapi ditahan sang dokter. "Baik, Tuan. Tolong isi formulirnya, kami akan tangani pasien ini. Permisi."


"Ayo, bawa pasien ke ruangan lima B!" ucap sang dokter tak ingin memperpanjang perdebatan.


Kenzo membiarkan korbannya di rawat, sedangkan dirinya berjalan menghampiri meja resepsionis. "Sus, formulir untuk pasien."

__ADS_1


"Ini, Pak. Silahkan," Suster memberikan lembar pengisian formulir pada Kenzo.


Kesibukan Kenzo mengurus korbannya, membuat pria itu melupakan ponselnya yang tertinggal di dalam mobil. Layar benda pipih itu berulang kali menyala, namun padam lagi.


Wajah geram dengan alis terangkat tangan mengepal, membuat tangan mulus putih nan wangi menggenggam dengan perasaan.


"Masih belum bisa di hubungi?" tanya wanita itu menatap prianya.


Prianya hanya mengangguk.


"Ayo, kita mulai saja rapatnya. Ingat kita dituntut profesional saat bekerja. Ayo, Ano." ajak Tanca bangun dari duduknya serta mengambil beberapa file di meja kaca.


Rasanya masih enggan untuk beranjak, tapi tidak mungkin menunda rapat sekali lagi. Terlebih tangan lembut masih setia terulur di depannya. "Ayo," Ano menyambut uluran tangan Tanca dan memberikan senyuman manis.


Keduanya berjalan meninggalkan ruangan kerja CEO, dan menyusuri lorong kantor hingga perjalanan selama beberapa menit. Barulah keduanya memasuki ruangan khusus meeting. Terlihat semua tamu rapat kali ini telah hadir, meja panjang dengan deretan kursi terpisah berjumlah sepuluh berjejer saling berhadapan.


"Selamat pagi, semuanya." sapa Tanca setelah berdiri di samping Keano yang duduk di kursi utama presdir.


"Pagi, Nona. Pagi, Tuan K." sapa anggota rapat serempak.


Keano membuka satu file merah bertuliskan perusahaan Birendra Family, "Tuan Birendra, kemana beliau?"


Tanca mengamati dari semua peserta rapat, benar tidak ada batang hidung pria Jawa dengan nama bule itu. "Miss Jeslyn, apa anda mewakili Tuan Birendra?"


Wanita berdagu belah itu bangun dari duduknya, membungkukkan setengah badannya dengan menunjukkan tonjolan besar di depan. Ntah apa maksudnya, tapi Keano tidak melirik sedikitpun. Tanca tersenyum sinis melihat kelakuan wanita satu itu.

__ADS_1


"Pasang saja kancing kemeja anda, Miss Jeslyn! Tuan K hanya menyukai barang ori," sindir Tanca dengan nada santai.


__ADS_2