Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 115: PEMAKAMAN


__ADS_3

"Hahahaha, dewi fortuna ada di pihak ku. Daripada aku menculik anak, kenapa tidak kembali menjadi nyonya rumah saja? Iya kan."


Suster itu buru-buru meninggalkan ruangan bayi. Niat awal adalah ingin menculik bayi yang tak lain cucunya sendiri, tapi setelah mendengar kabar bahwa Aruna meninggal dunia setelah melahirkan bayinya. Rencana penculikan berubah menjadi sesuatu yang lain lagi. Dimana ia akan berpura-pura menjadi seorang nenek yang pantas untuk dikasihi dan dimaafkan oleh keluarga sendiri.


Singkat cerita. Di tengah duka yang mendalam suara tangis si kembar menyayat hari Keano. Sementara Kenzo harus mengambil tanggung jawab mengurus semua keperluan dengan menahan rasa tidak percaya akan kematian Aruna. Siang ini menjadi hari berkabung di tempat pemakaman umum. Dimana sebuah tempat khusus sudah disiapkan untuk tempat peristirahatan terakhir menantu pertama.


Keano harus dijaga beberapa bodyguard agar tidak mempersulit proses pemakaman. Bee yang menjaga si kembar di dalam mobil, dan Kenzo bersama nenek Abizar harus menemani Keano. Banyak sekali para pebisnis yang turut hadir menyaksikan pemakaman Aruna. Di saat tanah baru saja di taburi kelopak bunga mawar. Tiba-tiba, terdengar suara tangis yang cukup kencang mengalihkan perhatian semua orang.

__ADS_1


Seorang wanita dengan kerudung hitam yang menutupi kepala. Wajah yang tidak asing, membuat banyak mata terkejut. Bagaimana tidak, wajah itu sudah dinyatakan meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Yah, dia adalah Lea istri dari Dion yang kini mendekap di penjara, "Nak, maafin ibu. Ibu benar-benar tidak tahu bisa seperti ini nasib keluarga kita...,"


Panjang kali lebar yang Lea katakan. Justru diabaikan Keano. Pria itu tidak peduli, bahkan jika wanita itu memang benar ibu kandungnya. Akan tetapi, Kenzo berusaha bersikap baik dan mendekati sang ibu, lalu memberikan usapan bahu, kemudian membimbing wanita itu untuk meninggalkan area pemakaman. Bukan karena ia percaya. Namun, ini hari yang paling menyayat hati. Jadi, tidak diperlukan sebuah drama.


Sebenarnya dari setiap anggota keluarga Abizar sudah mendapatkan nasehat yang berupa peringatan. Baik itu tentang Dion dan juga Lea. Meski begitu, jika suatu hari dua orang itu berusaha membuat ulah. Mereka diminta untuk bersikap tenang dan waspada. Jangan melakukan penolakan secara terang-terangan karena setiap hama harus dibasmi ketika penawarnya sudah dibuat. Penawar itu berarti bukti yang konkrit.


Kepergian Kenzo bersama Lea, membuat para pelayat lain ikut meninggalkan tempat pemakaman itu. Satu persatu membiarkan Keano duduk bersimpuh di depan makam dengan tatapan mata kosong. Sungguh, dia tidak menyangka, wanita yang menjadi kehidupannya pergi bertemu Sang Pencipta sebelum sempat melihat bayi mereka. Ada rasa sesal karena selama ini, masih belum bisa membahagiakan istri tercintanya.

__ADS_1


Ano mengusap papan nisan yang bertuliskan nama sang istri, lalu memberikan kecupan sayang, "Aku akan sering mengunjungi mu, Honey. Aku janji akan merawat, menjaga dan melindungi baby Z. Kamu tenang saja, akan kupastikan anak kita tumbuh menjadi pribadi yang kuat sepertimu. Sementara itu, jaga dirimu disana dan tunggu aku hingga waktuku tiba untuk berpulang."


Suara hati Keano sangatlah tulus dengan rasa yang begitu dalam. Kebiasaan dari manusia adalah mengabaikan dan menganggap hari esok masih ada. Maka, terkadang menyepelekan hal-hal sederhana. Namun, ketika kehilangan untuk selamanya karena meninggal dunia. Manusia baru menyadari, serta merasakan. Jika hati mereka kehilangan seseorang yang sangat berarti. Yah, seperti itulah manusia.


Kini nenek Abizar dan Keano bersama beberapa bodyguard meninggalkan pemakaman. Di saat mobil sedan berwarna silver mulai meninggalkan pelarangan depan pemakaman. Seseorang keluar dari balik pohon. Orang itu sejak awal bersembunyi dan ingin melihat bagaimana proses berkabung itu berlangsung. Benar saja sesuai prediksinya. Lea kembali dengan drama baru.


"Misi terakhir, semoga semua berjalan lancar. Bee, ku serahkan tanggung jawab baby Z padamu," Orang itu kembali memakai kacamata hitamnya, lalu berjalan meninggalkan pemakaman, kemudian memasuki mobil yang menjadi kendaraannya, "Aku harus mengirim pesan agar semua bersiap dan bisa dieksekusi dalam hitungan hari. Bagaimanapun baby Z membutuhkan asi dari ibunya."

__ADS_1


Jemari lentik tanpa pewarna kuku mulai berselancar di atas benda pipih yang memiliki kecerdasan buatan. Apalagi jika bukan ponsel pintar. Setelah pesan terkirim sukses dan sudah centang dua. Sesaat menunggu balasan, dan warna biru serta balasan ok dari seberang, membuat hati orang itu lega. Kini waktunya untuk kembali ke markas dan melanjutkan misi yang teramat penting. Sementara di kediaman Abizar terjadi kehebohan para pelayan.


Bisik-bisik dengan wajah pucat karena melihat orang yang telah tiada dan justru hidup kembali. Reaksi para pelayan sama seperti para pelayat saat di pemakaman. Sontak saja Lea kembali berakting dengan berpura-pura menjadi korban saudara kembarnya yang telah tiada dan sempat mengambil posisinya sebagai nyonya rumah. Drama itu kembali berlangsung, tapi Kenzo membiarkan dan memilih mengajak Bee beserta baby Z masuk ke dalam kamar.


__ADS_2