Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 79: PELAJARAN TERAKHIR


__ADS_3

Tap!


Tap!


Tap!


Satu langkah demi langkah semakin mengikis jarak wanita itu dengan kamar incarannya. Hingga jarak tersisa tiga meter, langkahnya terhenti karena lambaian tangan seseorang yang berdiri bersandar di pintu kaca terbuka setengah.


"Aku?" tanya Sri dengan isyarat tangannya menunjuk diri sendiri, membuat orang yang memandang pelayan itu mengangguk. "Aku kesana."


Langkah Sri berubah haluan, ia berjalan menuju ruangan olahraga. Tidak ada pikiran buruk ataupun sebuah pertanyaan, yang wanita itu tahu hanyalah. Saat ini sang tuan tengah menanti dirinya di dalam ruangan kaca itu. Pintu yang masih terbuka memudahkan Sri untuk masuk ke dalam seraya membawa nampak buah di kedua tangannya.


"Tuan memanggilku?" tanya Sri berdiri di depan pintu setelah masuk ke ruangan olahraga.


Dion yang baru saja menyelesaikan olahraga menyeka keringat menggunakan handuk kecil dengan tatapan terpatri pada tubuh sem0k sang pelayan. "Apa kamu tidak lelah membawa nampan itu?"


"Lelah, Tuan, tapi ini pekerjaan Sri." jawab Sri menyambut majikannya dengan senyuman terbaik, membuat pria paruh baya itu melambaikan tangan.


Jarak empat meter perlahan berkurang karena Sri mengikuti isyarat tangan Tuan Dion. Dimana pria itu menunjukkan pesona terakhirnya pada sang pelayan. Tak lupa wanita itu meletakkan nampan di atas sebuah nakas sebelum memberikan apa yang diinginkan sang majikan.

__ADS_1


"Sri, apa kamu ingat pelajaran terakhir dariku?" tanya Tuan Dion menarik pinggul pelayan itu agar mendekat tanpa menyisakan jarak.


Sri mengangguk dengan semburat merah di pipinya, membuat Dion terkekeh pelan. "Ngapain malu? Kamu udah lihat adik kecilku 'kan? Sekarang ikut aku! Aku ingin lihat bagaimana hasil akhirnya."


"Tuan, bagaimana dengan buah untuk....,"


"Lupakan soal hal tidak berguna, Sri. Kamu mau uang lebih, dan aku mau kepuasan. Bukan begitu?" Tuan Dion mencolek dagu Sri dengan kedipan mata nakalnya.


Sri hanya mengangguk pasrah, dan itu membuat Tuan Dion langsung menarik tubuh Sri berpindah keruangan lain. Kamar mandi di ruang olahraga sudah tersedia pemandian air hangat yang bertujuan untuk merilekskan otot setelah melakukan pergulatan bersama alat kesehatan.


Ceklek!


Hening!


"Tuuaan, bagaimana....,"


Bibir tebal tanpa polesan pewarna terampas kerakusan sang pemangsa. Deru nafas saling berebut, membuat Sri memukul dada Dion agar melepaskan bibirnya. Namun, bukannya lepas. Pria itu semakin menuntut dengan pagutan tanpa perasaan.


"Hossh..., hosssh...,"

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa menahan lebih lama?" Dion menatap Sri dengan mata berkabut, sudah jelas pria itu mulai terpengaruh hasrat.


Sri menarik nafas dalam, lalu perlahan menghembuskannya. "Tuan, kasih pelajaran terakhir bukan ciuman panjang. Sri tidak kuat....,"


"Cukup! Sekarang turun, dan lakukan pelajaran terakhir dariku!" titah Dion.


Sontak Sri mengerjapkan mata berulang kali, tapi tatapan mata Dion tak mau menerima bantahan. Perlahan ia memposisikan diri dengan berdiri, dan menjadikan lutut sebagai tumpuan. Kini posisinya tepat menatap benda keras yang masih memakai sarung. Hanya saja benda menonjol itu sudah memberontak meminta keluar.


Glek!


"Tuan?" cicit Sri masih tak sanggup melakukan pelajaran terakhir dari sang majikan.


"Pejamkan matamu!" Dion mengangkat tangan yang berhenti tepat di ikat pinggangnya. "Ulurkan tangan, bukalah, dan rasakan."


Instruksi dari sang majikan di lakukan tanpa kurang, membuat kedua tangan wanita itu mulai meraba tubuh bagian bawah Dion. Pelajaran terakhir akan dimulai, dimana sang pelayan menjadi alat pemuas nafsu sang pemangsa. Tangannya sibuk bermain squash dengan imajinasi liar, sedangkan yang mendapatkan pelayanan mulai merasakan gelenyar aneh di seluruh aliran darah.


"Pelan, tambah kecepatan!" Suara parau Dion mempercepat permainan Sri.


Tidak seorang pun tahu kebersamaan majikan dan sang pelayan di dalam kamar mandi itu, bahkan suara erangan nikmat hanya kedua insan itu yang mendengar. Tanpa mengingat dimana keduanya berada, surga dunia tersaji begitu saja. Sementara aura ketegangan menyelimuti menyebar di dalam ruangan dengan meja dan kursi berjejer rapi. Terlihat beberapa orang tengah saling pandang, tidak ada percakapan selain perang mata.

__ADS_1


Tak!


"Apa keputusan kalian sudah fix?"


__ADS_2