
"DIAM!"
Galak bener nih, cewek. Lagi pms kali, ya? Sayangnya beneran cantik, gak ada bedanya dengan cewek di negaraku. ~batin pria bule itu nyengir karena seruan keras sang pasien.
Ketika mata pasien itu terbuka, membuat pria bule tertegun terpesona. Tanpa ia sadari tangannya terangkat, "Boleh kenalan?"
Pluk!
Tanca menepis tangan pria bule itu, meskipun tidak ada tenaga. Tetap saja ia masih sanggup memberikan pelajaran. "Dok, bisa pinjam ponsel?"
"Tentu, tunggu sebentar. Aku ambilkan dari dalam tasku." Jawab Dokter itu berjalan menuju kursi tempatnya bekerja.
Pria bule mengambil ponsel dari saku celananya, lalu menyodorkan ke pasien yang ia tolong. "Ambillah! Kamu bisa gunakan, dan soal tadi. Aku minta maaf."
Niat baik pria bule tak dianggap. Justru Tanca tetap menunggu ponsel sang dokter. Yah, wanita itu masih enggan bersosialisasi dengan orang asing. Terlebih seorang pria. Tentunya selain Ano dan Ken. Dokter kembali mendekati pasiennya dan memberikan ponsel yang ia miliki.
"Silahkan." ucap Dokter.
Ponsel itu diterima, lalu beberapa angka di ketik. Barulah menjadi sebaris nomor telepon yang selalu menjadi nomor terpenting dalam hidupnya. Nada dering tersambung terdengar. Hanya hitungan detik, sebelum panggilan dijawab dari seberang. "Jemput aku di klinik Cahaya. Kita harus urus semuanya malam ini!"
__ADS_1
Ntah jawaban apa dari seberang karena panggilan begitu singkat. Kemudian ponsel kembali di otak-atik. Sebelum dikembalikan oleh Tanca. "Dok, terima kasih."
"Sama-sama, istirahatlah. Luka masih terlalu basah, pastikan jangan terkena air. Apa ada keluhan?" tanya Dokter.
"Aku baik, Dok. Don't worry, bisa katakan dimana supir ku?" tanya Tanca kembali ke topik seharusnya.
Dokter terdiam karena tidak paham. Supir yang mana? Sementara pria bule menarik nafas panjang. Lalu menarik kursi yang biasa digunakan untuk menunggu pasien, dan duduk seraya menatap wanita cantik di atas brankar dengan sendu.
"Maaf, supir mu tidak bisa ku selamatkan. Dia mengorbankan diri agar kamu selamat." jelas Pria bule penuh penyesalan.
Penjelasan itu, membuat Tanca mengepalkan kedua tangannya. Pipi putihnya merona merah. Bukan karena malu, tapi karena menahan amarah. Sudah jelas dalang di balik kecelakaan nya kali ini tengah bahagia diatas keberhasilan yang merenggut nyawa orang lain. Aura dingin menyebar, membuat pria bule menautkan kedua alisnya.
"Apa....,"
Suara langkah kaki yang masuk tanpa permisi mengalihkan perhatian ketiga penghuni ruang pemeriksaan.
"Ka?! Syukurlah aku menemukanmu." ucap seorang wanita dengan penampilan berantakan langsung menghampiri brankar.
Wanita itu langsung memeluk Tanca begitu erat tanpa melihat emosi yang tengah dirasakan sang kakak. "Aku sudah menemukan pelakunya. Kita....,"
__ADS_1
"Hmmm. Bisa kita pergi? SEKARANG!" sela Tanca menekankan ucapan terakhirnya.
Pelukan terpaksa dihentikan. Ketika suara bariton sang kakak menegaskan keadaan. "Dok, tolong kursi rodanya!"
".....,"
"Jangan khawatir, esok pagi akan ada pengiriman kursi roda sepuluh kali lipat." sambung wanita itu membungkam dokter yang melongo mendengar ucapan tak disaring dari keluarga pasien.
Tanca mengusap lengan adiknya agar bisa bersikap sedikit lembut. "Dok, maafkan adik saya. Bisa minta tolong, berikan satu kursi roda untukku. Aku bisa berlari, tapi aku memiliki tugas yang lebih penting. Kaki ku harus cepat sembuh untuk tugasku."
Dokter mengangguk paham, dan melakukan apa yang diinginkan Tanca. Setidaknya sikap pasiennya lebih lembut dibandingkan sikap sang adik. Sementara pria bule masih mode menyimak situasi, dan diam melihat semua yang terjadi.
Lima belas menit berlalu. Akhirnya Tanca keluar dari klinik menggunakan kursi roda yang didorong Bee. Keduanya mendekati mobil yang dijaga dua bodyguard. Dimana salah satu bodyguard dengan sigap membukakan pintu mobil bagian belakang untuk majikannya.
"Tunggu!"
Panggil pria bule dari belakang, membuat Bee berhenti mendorong kursi roda sang kakak. Telinganya dipertajam untuk mendengarkan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Hingga tibalah wujud pria bule berhenti di sampingnya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Bee melirik sinis pria bule itu.
__ADS_1
"Aku mau berkenalan dengan kakakmu! Apa boleh?" tanya pria itu seraya mengulurkan tangannya sekali lagi ke arah Tanca.