
Tap!
Langkah Ken terhenti tepat di depan Ano. "Kita ini bersaudara 'kan? Katakan padaku, apa alasanmu sangat membenci papa dan ibu kita? Aku tahu, mereka tidak berusaha menyelamatkan kita saat kedua putranya dalam bahaya, tapi aku juga tahu hatimu tidak seburuk itu. Jadi apa alasanmu membenci papa dan ibu? Hingga melarangku membela mereka?!"
"Aku membenci mereka karena....,"
"Anoo....,"
Bruug!
Seruan Tanca mengalihkan perhatian duo K, tatapan mata membulat dengan langkah seribu si kembar bergegas menghampiri Tanca.
"Honey!" seru keduanya.
Tanca jatuh tak sadarkan diri, tubuhnya terbaring di atas rumput. Kenzo langsung mengangkat kepala Tanca dan membaringkan ke pangkuannya seraya memberikan tepukan di pipi. "Bangun, Honey! Come on kamu tidak selemah ini."
Keano ikut berjongkok, lalu memberikan usapan pada tangan Tanca secara bergantian. "Ken, sebaiknya kita bawa Tanca ke rumah sakit lagi!"
"Ayo! Biar aku yang gendong Tanca, kamu carilah dokter yang membawa Tanca ke taman." saran Ken dengan rasa paniknya.
__ADS_1
Keano menurut, karena apapun yang terjadi adalah tanggung jawabnya. Namun, belum sempat bangun dari tempatnya. Langkah kaki dari belakang terdengar berhenti dengan nafas ngos-ngosan.
"Cepat bawa Ka Runa ke dalam rumah sakit!" Aurel mengatur nafasnya.
Duo K mengikuti permintaan Aurel untuk kembali membawa masuk Tanca kerumah sakit. Hal yang aneh adalah ketika dokter Naumi sudah stand by dengan brankar di pintu masuk rumah sakit bersama beberapa suster. Kenzo bergegas merebahkan Tanca dengan perlahan ke atas brankar. Tanpa si kembar sadari. Aurel bersama dokter Naumi melakukan kode mata.
"MD, tolong urus sisanya, dan aku akan tangani Nona Angel." tukas dokter Naumi seraya memberikan kode pada suster agar membawa brankar keruangan pemeriksaan.
Kenzo menahan brankar, ''Aku harus ikut!"
Ano menepuk bahu saudaranya, membuat Ken melirik tajam. Sedangkan Aurel mencari jalan keluar agar si kembar tidak ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Kenzo menghela nafas, dan melepaskan tangannya dari brankar. "Pergilah! Pastikan Tanca kembali sadar dan sehat."
"Permisi, ayo Sus!" ajak dokter Naumi meninggalkan tiga sekawan di depan pintu utama rumah sakit.
Kekhawatiran duo K, tak sebanding dengan rasa khawatir Aurel. Meskipun begitu, wanita yang kini menjelma menjadi gadis cantik tanpa luka gores di pipinya itu harus memendam perasaan yang bergejolak di dalam hati.
Aku harus tahu apa yang kakak sembunyikan dariku. Sudah cukup aku kecolongan selama ini, hingga aku tidak tahu bagaimana perjuangan kakak di dalam istana emas keluarga Abizar. ~batin Aurel mengepalkan kedua tangannya seraya berhitung di dalam hati agar emosinya mereda.
__ADS_1
Tanpa Aurel sadari, duo K sudah menghilang dari sisi nya.
Langit mendung bersamaan jatuhnya rintik air tak terhingga. Perlahan tapi pasti, dua tubuh kekar yang berdiri saling berhadapan diam terpaku saling menatap satu sama lain. Tatapan keraguan, pertanyaan, kegelisahan, kekecewaan dan putus asa tersirat jelas tanpa tirai penutup.
"Katakan, Ano!" Suara serak Kenzo terdengar semakin berat, membuat Keano semakin mantap untuk mengatakan kebenaran kedua orang tuanya pada saudaranya itu.
Ano mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Ken, "Berjanjilah kamu akan diam, meskipun kebenaran terungkap dan pastikan Tanca tidak tahu hal ini!"
Bukankah terdengar aneh? Sejak kapan ada rahasia dengan jari kelingking di antara dirinya dan Ano? Yang terbiasa melakukan itu adalah Tanca, dan itupun agar mereka bisa disiplin. Lalu, kenapa Ano meminta janji jari kelingking? Ada apa sebenarnya?
Diamnya Ken, membuat Ano menurunkan jari kelingkingnya. "Tidak ada janji, maka aku....,"
"Janji!" ucap Kenzo menyambut jari kelingking Ano sebelum benar-benar turun.
Keano tersenyum seraya mengeratkan jari kelingkingnya. ''Rahasia ini bermula tujuh tahun yang lalu. Ken, apa kamu ingat saat kita mulai pindah dari satu tempat ke tempat lainnya hanya untuk bertahan hidup?"
"Ingat, malam dingin yang selalu di temani secangkir minuman penghilang mimpi buruk." jawab Kenzo melepaskan jarinya dengan wajah mendongak ke atas menatap langit berselimut awan gelap.
"Untuk kesekian kali kita meminum secangkir racikan ramuan dari nenek, tapi malam dengan hujan deras pada malam kebenaran terungkap. Aku tidak meminum minuman ku karena tumpah, dan berkat itu akhirnya aku mendengarkan percakapan Tanca bersama nenek." ucap Keano mulai bercerita, membuat Ken serius menyimak.
__ADS_1
"Kenyataan yang seharusnya tidak pernah ingin ku dengar, dan tidak ingin mereka katakan. Kenyataan itu adalah….,"