
Michael!" Panggil Lea menghampiri pria yang langsung menoleh ke belakang, "Bagaimana kabarmu? Dimana anak kita?"
Michael tidak menjawab, tapi tangannya menunjuk ke arah kiri. Kamera yang tertempel di tas Lea tidak sesuai arah, hingga orang yang dituju oleh wanita itu. Justru tak nampak, kecuali suara dan pemandangan lorong hotel yang terlihat.
"Kedua putriku sangat cantik. Apa kalian bosan disini? Bagaimana kalau kita pindah dari rumah lama, dan masuk ke istana. Mama sudah menyiapkan calon suami yang cukup kaya dan sebentar lagi. Pasti akan menuruti semua permintaan ku," ujar Lea seraya mengusap kepala kedua putrinya.
"Apa pekerjaan Mama sudah selesai? Tidak biasanya, mama datang kesini awal bulan. Jadi, apa sudah waktunya untuk Rara dan Rani menjadi pendamping Duo K?" Rara bertanya dengan antusias, membuat Lea tersenyum puas.
Tas bergoyang-goyang, hingga diletakkan ke atas meja. Sungguh mengejutkan, ketika kamera menangkap dua wajah wanita se-usia Duo K duduk di kursi roda masing-masing dengan seringaian yang menyeramkan. Cantik dan mirip seperti Lea, tapi sorot mata bengis tidak bisa diragukan lagi. Ntah apa yang dilakukan Lea pada dua wanita itu.
"Rani, kenapa kamu diam? Apa ada yang mengganggumu?" Lea bertanya kepada putrinya yang memakai gaun berwarna merah menyala, sedangkan Rara bergaun biru tua.
Rani melirik ke arah belakang. Dimana tangan kanan sang Mama berdiri dengan sikap waspada. Isyarat mata yang mendapat penolakan, "Ma, Aku ingin bermalam dengan dia, lagi."
__ADS_1
"Siapa maksudmu? Mama tidak paham...,"
Ketidaktahuan Lea terhenti karena Rani menunjuk ke arah sang penjaga yang ditugaskan melindungi kedua putrinya. Namanya adalah Aji dan sudah menjadi orang kepercayaan selama bertahun-tahun. Jika putri tercintanya ingin bersenang-senang. Kenapa harus meminta izin? Hotel itu sengaja di jadikan rumah agar bisa bebas melakukan apapun.
"Kalian boleh melakukan apapun yang kalian suka, tapi ingat. Saat sudah memasuki rumah Abizar. Kalian harus menjaga sikap. Paham?"
Si kembar mengangguk paham, tapi Michael langsung melemparkan vas bunga yang ntah diambil dari mana. Suara pecahan terdengar mengejutkan, membuat ketiga wanita di ruangan itu menoleh ke arah sang pelaku.
"Ayo, kita pergi dari negara ini, dan hidup seperti keluarga pada umumnya. Hanya kita berempat. Biarkan keluarga Abizar tenang. Sekarang tidak ada alasan untukmu membalas dendam, bukan? Jadi, mari kita menjadi keluarga sederhana."
Lea tertawa mendengar semua ucapan dari Michael. Baginya semua kata keluarga itu adalah bullsh!t. Jika ada keluarga, dulu Dion tidak akan berselingkuh dengan banyak wanita. Rasa benci yang menumpuk, membuat mata buta. Yah, kebenaran akan selalu pahit. Apapun yang terjadi, semua orang turut andil.
"Kamu itu hanya pria biasa. Memang benar, aku mencintaimu dan bukti dari hubungan kita adalah Rara dan Rani. Aku tahu, seperti apa Dion. Di saat kelahiran anak ku. Semua dokter ku suap untuk menukar bayiku. Yah, Kenzo dan Keano bukan anak kandung ku karena ibu kandung mereka sudah jatuh ke jurang. Ups. Apapun yang kulakukan, semua demi masa depan putriku."
__ADS_1
Pengakuan yang dilakukan Lea, membuat telinga Kenzo dan Keano terbakar amarah. Bagaimana hidup mereka yang berat tercipta karena kesalahan satu orang saja. Rasa benci di hati semakin dalam, tapi yang paling terluka adalah Kenzo. Dimana pria itu, selama ini berusaha bersikap baik dan masih menganggap Lea sebagai ibu kandung.
Usapan lembut di punggung, membuat Ano merasa lebih baik. Setidaknya ada Aruna yang pasti akan selalu mendampinginya. Begitu juga dengan Aurel berusaha untuk menenangkan Kenzo. Inilah yang tidak diinginkan. Dimana duo K tahu rahasia terakhir dari Lea. Meski begitu, mungkin sudah takdir si kembar untuk tahu identitas mereka dari orang yang tepat.
"Ano, bantu aku untuk menjaga Ken. Kita berdua tahu benar. Diantara berempat hanya Kenzo yang memiliki emosi tinggi. Rencanaku segera dimulai karena mereka akan segera datang."
Ano mengalihkan perhatian dari layar ponsel, lalu menatap mata sang istri, ''Apa rencanamu?"
Aruna menjawab pertanyaan Ano dengan senyuman tipis seraya mengerlingkan mata. Di waktu bersamaan terdengar suara tembakan dari earphones. Ntah apa yang terjadi, begitu kembali menatap layar ponsel. Tubuh Michael sudah terkapar di lantai dengan luka tembak di perut. Kebenaran tak mengubah apapun. Beberapa saat pria itu menjadi ayah kandung, meski hanya dalam kepalsuan.
Aruna mengambil alih ponsel, lalu mengirim pesan singkat untuk melakukan plan B pada misi terakhir. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Lihat saja si kembar dikuasai emosi. Niat hati ingin membawa sang suami pergi dari tempat persembunyian. Tiba-tiba saja ada yang menodongkan senjata dari arah belakang.
"Angkat tangan kalian!"
__ADS_1