
Sementara di ruangan pemeriksaan. Dokter terdiam mendengarkan perdebatan di depannya. Hingga suara lirih mengalihkan perhatiannya.
"Tuan, pasien….,"
Ken dan Ano menghentikan perdebatan. Keduanya berebut untuk melihat keadaan Tanca, dan itu membuat sang dokter terjepit di antara duo K.
"Kalian HENTIKAN!" Tanca berusaha bangun dengan tangan sebagai tumpuan nya.
Seruan Tanca, membuat duo K berhenti berebut dan menyadari jika dokter menjadi korban emosi mereka.
"Maaf, Dok." ucap serempak duo K dan memberikan akses pada dokternya untuk memeriksa Tanca.
Dokter mengusap dadanya, dan melantunkan istighfar berulang kali. Sedangkan duo K merapat dan saling menyikut. Racauan yang saling menyalahkan jelas seperti anak kecil saja.
"Dok, bisa berikan suntikan saja?! Aku harus bekerja." pinta Tanca to the poin.
Dokter membenarkan perban yang membalut kepala pasiennya. "Sebaiknya Anda istirahat! Meskipun ini luka kecil, tapi lebih baik melakukan citi scan."
"Citi scan? Apa lukanya separah itu?" Kenzo menatap sang dokter dengan serius, membuat Ano memilih berjalan memutari brankar dan berdiri di sisi lain brankar.
Ano meraih tangan kiri Tanca, lalu menyatukan dengan kedua tangannya. "Lakukan apapun demi pencegahan! Soal biaya jangan dipikirkan." ujar Keano menatap Tanca penuh cinta.
"Benar kata Ano. Lakukan citi scan, jika itu demi kebaikan Tanca." sambung Ken menyetujui keputusan saudara kembarnya.
Citi scan? Tidak! Aku harus mencari cara agar pemeriksaan tidak di lakukan, tapi kedua anak ini pasti tidak mau menyerah.~batin Tanca diam dengan kemelut di dalam pikirannya.
__ADS_1
Dokter mengambil kertas laporan di meja, dan menuliskan sesuatu. Kertas di sobek, lalu di serahkan pada Kenzo. "Sebaiknya bawa pasien ke rumah sakit! Saya hanya petugas tetap di hotel, dan di sini tidak ada alat apapun untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Ini rumah sakit terdekat, Ano sebaiknya kita bawa Tanca sekarang! Bagaimana?" Kenzo menyerahkan kertas ke Ano agar saudaranya juga ikut memeriksa laporan dari dokter hotel Kencana.
"Okay, sebaiknya aku siapkan mobil....,"
Kenzo menahan Keano dengan lambaian tangannya. "Aku saja. Kamu bawa Tanca ke lobi!"
Tanpa menunggu jawaban, Kenzo berjalan meninggalkan ruangan pemeriksaan. Kini tersisa tiga orang, Tanca menarik tangannya.
"Ano, berikan ponselmu!" pinta Tanca mengulurkan tangannya.
Ano memeriksa saku celananya, tapi tidak ada benda pipih yang bersembunyi di dalamnya. "Ponselku ketinggalan di kamar, Honey."
Sang dokter mengambil ponselnya dari saku jas dokternya, lalu mengulurkan ke Tanca. "Anda bisa memakai ponselku."
Dokter mengangguk, membuat pasiennya melakukan panggilan yang terjawab tanpa menunggu nada sambungan.
"Apa dokter Naumi ada di tempat?" tanya Tanca to the poin.
[Maaf dengan siapa saya berbicara?]~ tanya balik dari seberang.
"Berikan saja ponselnya pada dokter Naumi!" tukas Tanca menahan rasa sakit di kepalanya.
Dua menit kemudian,
__ADS_1
[Siapa....,]
"Mahkota berbingkai duri." ucap Tanca, membuat Keano mendongak dan menatap wanitanya dengan tatapan tanda tanya.
[Aku stay untukmu. Cepatlah datang!]~ ucap dari seberang.
Tanca mematikan telepon, lalu menghapus riwayat panggilan dan memberikan pengaman agar tidak ada yang mengetahui soal dokter panggilannya. Meskipun menyebutkan nama, bukan berarti akan mudah menemukan orangnya itu.
"Terima kasih, Dok. Ano, ayo kita pergi!" ajak Tanca setelah ponsel di kembalikan.
Dokter menatap punggung Ano yang menggendong Tanca sang pasien dengan suka cita. Bukannya mengeluh, tapi pria itu justru tersenyum manis dengan langkah kaki yang terlihat sangat ringan.
"Semoga pasangan itu langgeng. Ameen." ucap Sang dokter dengan tangkupan kedua tangannya.
Tiga puluh menit kemudian.
Ano berniat menggendong Tanca untuk memasuki rumah sakit Harapan. Namun niatnya harus pupus karena beberapa suster langsung berkerumun menyambut kedatangan mereka.
Bagaimana bisa Tanca mendapatkan pelayanan yang maksimal tanpa registrasi terlebih dahulu? Atau semua ini karena dokter Naumi? ~batin Ano dengan tubuhnya yang diam tak berkutik, ketika dua suster wanita membantu Tanca duduk diatas kursi roda.
Pluk!
"Ada apa?" Kenzo menepuk pundak Ano, "Ayo! Lihat mereka semakin menjauh."
Ano menggelengkan kepalanya, membuat Kenzo berpikir saudaranya itu tidak ingin masuk kerumah sakit.
__ADS_1
'Perasaan yang takut jarum itu aku, tapi kenapa kamu yang berkeringat dingin sih?" cetus Kenzo mengelap butiran jagung di kening saudaranya.
Keano menepis tangan Ken lembut. "Ayo!"