Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 69: KEMARAHAN


__ADS_3

Ceklek!


"Kenapa gelap sekali kamarmu?"


Ctit!


Saklar lampu ditekan, dan lampu menyala. Kini kamar terlihat jelas, rapi dengan nuansa biru laut. Hiasan gantung dreamcatcher menjadi icon utama di kamar itu, membuat desain interior terlihat seperti seorang pemimpi sejati.


"Apa kamu marah denganku?" tanya si penyala lampu dimana ia masih berdiri di depan pintu seraya menatap si pemilik kamar yang duduk bersandar di ranjang king size memangku laptop.


Wanita bergaun tidur hitam berenda yang ada di atas tempat tidur menutup laptopnya, lalu melepaskan earphones di telinganya. "Enzo, kenapa kamu berdiri di depan pintu?"


Pertanyaan Tanca, menyadarkan Kenzo. Jika wanita itu tidak mendengar perkataannya tadi karena memakai earphones. "Apa aku boleh masuk?"


Tanca melambaikan tangannya agar Kenzo mendekat. Tanpa menutup pintu kamar, pria itu berjalan menuju Tanca. Tanpa sungkan, Ken duduk di tepi ranjang dengan tatapan mata sendu terpaut pada mata wanitanya.


"Ada yang terjadi? Enzo ku kenapa semuram ini? Apakah langit runtuh?" Tanca mengusap pipi Ken perlahan.

__ADS_1


Usapan layaknya seorang ibu, membuat pria itu memejamkan mata. Tarikan nafas dalam yang di hembuskan perlahan. Sudah pasti Ken masih berusaha mengatur emosi dari dalam hatinya.


"Enzo, kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah apapun." Tanca menyudahi menarik tangannya, lalu menggenggam tangan Ken. "Jadikan kelemahanmu sebagai kekuatanmu! Bukankah itu yang selalu ku ajarkan?"


Kenzo membuka mata. Sorotan tajam dengan bara api masih saja tertinggal di dalam tatapan pria itu. Gemuruh hatinya tidak mau dipadamkan. Apapun yang terjadi pada hari ini, sudah jelas memicu kemarahan diluar batas. Bibir terkunci rapat dengan garis halus di kening Enzo, membuat Tanca menghela nafas.


"Aku tahu, Lea adalah ibu kandungmu dan selama ini, kamu masih memperjuangkan haknya. Enzo, aku tidak mempermasalahkan apapun keputusanmu dan juga Ano, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun melukai kalian. Meskipun itu ibu kalian sendiri. Kuharap kamu paham!" jelas Tanca tanpa basa basi.


"Tanca, maafkan aku." ujar Enzo menunduk karena merasa bersalah.


Kemarahannya dikarenakan tindakan sang ibu kandung. Namun, justru terlampiaskan pada wanita yang selama ini mengorbankan hidupnya untuk melindungi mereka berdua. Tanca mengangguk dengan senyuman manis.


Sontak Tanca dan Enzo mengalihkan perhatian mereka ke arah Ano. Dimana pria itu membawa nampan berisi sepiring makanan bersama segelas jus strawberry, dan segelas air putih.


Tap!


Tap!

__ADS_1


Tap!


"Makan dulu, Honey! Kenapa masih bekerja?" Ano meletakkan nampan di atas nakal, lalu meminta laptop yang ada di sisi lain tempat duduk Tanca.


Tanca tak memberikan laptopnya, "Little work again. Kemarikan makan siang ku!"


"Tanca, pekerjaan apa, sih? Bisa 'kan dikerjain esok lagi." celetuk Enzo seraya mengambil laptop, kegesitan pria itu lebih cepat dari pertahanan Tanca.


Wajah cemas Tanca menarik perhatian Ano.


"Kamu juga makan, bro!" tukas Ano mengambil laptop dari tangan Enzo sebelum benda mati itu dibuka sempurna.


"Ya elah, baru juga mau periksa....,"


Ano meletakkan laptop di samping nampan, seraya melirik ke arah Tanca. Wajah cemas berubah helaan nafas lega. "Waktunya makan siang! Pekerjaan bisa dilanjutkan esok. Bukankah itu katamu? Lalu kenapa ingin memeriksa pekerjaan Tanca?"


Pernyataan Ano, membungkam Enzo. Saudaranya itu tidak lagi bisa melawan. Sementara Tanca masih memikirkan apa yang terjadi pada pelayan itu, dimana Lea akan mengeksekusi mainannya. Kebiasaan ibu kandung si kembar yang membunuh hanya untuk melampiaskan amarah. Sudah seperti hobi saja. Beberapa korban masih bisa diselamatkan, tapi sisanya harus menemui sang Pencipta tanpa jejak.

__ADS_1


Aku harus segera mengabari Bee. Hanya dia yang bisa mengatasi semua masalah saat ini, tapi bagaimana dengan Enzo dan Ano? Haruskah aku mengatakan siapa ibu mereka sebenarnya?~batin Tanca.


__ADS_2