
"Apa yang terjadi pada Nona kalian?" tanya pria bule.
"Tidak usah banyak tanya! Terus saja tersenyum, sebelum duniamu berubah." ketus bodyguard dua seraya melambaikan sopir taxi agar menghampiri mereka.
Apapun yang akan dilakukan kedua bodyguard itu, tidak dipedulikan. Setidaknya ini jalan satu-satunya untuk bertemu kembali dengan Aruna. Sementara wanita yang ingin ditemui tengah memeriksa semua bukti melalui laptop selama di perjalanan pulang ke mansion. Kesibukannya seraya menahan rasa sakit akibat kecelakaan.
"Ka, are you okay?" tanya Bee meringis sendiri melihat kondisi Tanca yang memprihatinkan.
"I'm okay, apa kamu membawa Kenzo kembali kerumah?" tanya balik Tanca tanpa melihat Aurel karena fokus utamanya masih di depan laptop yang menyala.
"Kenzo aman di tempat lain, Ka. Aku belum sempat membawa pulang anak itu. Lagian disaat bersamaan aku menghubungi Keano agar melarangmu keluar, tapi terlambat." Jelas Aurel mengalihkan perhatian Tanca yang memberikan usapan lembut di pundaknya.
"Fokuslah menyetir, kita jemput Kenzo. Aku akan selesaikan semua ini, jadi sedikit percepat laju mobilnya." pinta Aruna tersenyum manis, membuat Aurel ikut tersenyum.
__ADS_1
"Ka, boleh aku tanya?" tanya Aurel seraya memasukkan gigi tambahan.
Hening.
"Apa kita harus membunuh monster itu? Jika iya, kenapa tidak sekarang saja? Bukankah kasus kematian pelayan hari ini, juga dia dalangnya?!" tanya Aurel dalam sekali terjang.
Aruna hanya mendengarkan tanpa menjawab, tangannya masih sibuk mengirimkan beberapa data ke tempat seharusnya. Setelah sibuk selama sepuluh menit. Akhirnya laptop di tutup, dan tatapan mata beralih ke depan. Dimana jalan utama terlihat cukup ramai.
"Membunuh sang monster? Aku memiliki banyak kesempatan untuk melakukan itu, tapi tidak ku lakukan. Kenapa?" tanya balik Aruna.
"Ternyata seperti itu, kenapa kakak tidak bilang....,"
"Kakak ingin kamu fokus dengan tujuan awal. Sebentar lagi, Bee. Bukan hanya jeruji besi, tapi hukuman yang setimpal juga pantas monster itu rasakan." Jelas Aruna menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
__ADS_1
"Ka, kenapa tiba-tiba aku merasa takut. Semua akan baik 'kan ka?" Aurel mengurangi kecepatan mobil setelah memasuki kawasan perumahan yang jarang penduduknya karena tidak banyak peminatnya.
"Bee, apapun yang terjadi nanti. Cukup percaya, semua yang terjadi demi kebaikan. Jangan pikirkan lebih dari itu!" Jawab Aruna.
Percakapan keduanya terhenti tepat dengan mobil memasuki sebuah rumah minimalis berdinding cat putih dengan beberapa tanaman hijau di pot yang tersusun rapi tergantung di atap.
"Kakak, tunggu saja di dalam! Aku akan panggil mereka." ucap Aurel seraya membuka pintu mobil.
Kepergian Aurel, membuat Aruna mengambil ponsel adiknya yang sengaja ditinggal untuk menghubungi seseorang. Deretan angka yang ia hafal di dial. Sesaat suara sambungan telepon tersambung, tapi kenapa tidak ada yang menjawab?
"Ayolah, angkat! Kalian lagi apa, sih?" gumam Aruna kembali mendial nomor yang sama untuk kedua kalinya.
[Halo....]
__ADS_1
"Silent! Aku mengirimkan semua data, periksa dan kirim balik padaku! Jangan katakan apapun, cukup kerjakan!" Ucap Aurel langsung mematikan panggilan, dan menghapus riwayat panggilan sebelum meletakkan kembali ponsel ditempat semula.