
Orang-orang di mansion Abizar harus tutup mata, telinga, dan juga mengunci mulut mereka. Meskipun di depan mata melihat jenazah dari salah satu anggota keluarga majikan yang terbujur kaku. Kesibukan para polisi dan team dokter seperti makhluk tak kasat mata.
Beberapa jam kemudian. Suasana duka terlihat di kediaman Abizar. Semua orang termasuk pelayan memakai pakaian putih. Jenazah Lea sudah siap dikebumikan. Kedatangan warga komplek sekitar juga memadati halaman rumah. Nyonya Abizar beserta keluarganya ikut berduka.
"Ka, bisa kita bicara berdua." bisik Bee setelah berdiri di sebelah Aruna, membuat kakaknya mengangguk setuju.
"Ano, jaga Ken, dan Mami. Aku ke atas sebentar." Ucap Aruna dibantu Aurel berjalan meninggalkan tempat berkabung.
Langkah keduanya sangat pelan karena mengingat kondisi Tanca masih diperban kakinya. Maka kedua wanita itu memilih memasuki ruang kerja kaca yang berjarak sepuluh meter. Kesibukan di dalam kediaman Abizar masih aman terkendali. Banyak penjaga yang dikerahkan untuk mengantisipasi setiap kemungkinan. Termasuk jika para wartawan datang dan mencari berita tak melihat situasi berduka.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu kaca ruangan kerja tertutup rapat, dan tidak lupa di kunci. Tanca duduk di sofa seraya menekan sebuah remote mini di atas meja untuk mengaktifkan kedap suara. Sementara Aurel berjalan menghampiri meja kerja untuk mengambil laptop, lalu beralih mendekati kakaknya untuk duduk di sebelah Tanca.
"Apa semua sudah dikirim?" tanya Aruna santai.
Bee memasukkan flashdisk ke tempatnya. Kemudian membiarkan jemari berselancar bebas di atas papan ketik, hingga deretan file nampak di layar laptop. Setelah semua yang ingin ia tunjukkan terlihat, laptop di geser ke depan kakaknya.
"Silahkan, Ka Runa. Semua bukti sudah terkumpul, termasuk bukti terakhir." lapor Bee, membuat Aruna mengambil earphones yang tersimpan di kotak mini di atas meja.
Tanca melepaskan earphones, menutup file terakhir. Tidak ada senyuman puas. Wajah cantiknya masih terlihat tegang akan situasi yang semakin memanas. Terlebih lagi beberapa rahasia masih tersimpan rapat, dan hanya dia seorang yang tahu. Keheningan sang kakak, membuat Aurel menoleh ke samping mengamati ekspresi kakaknya yang ternyata sangat dingin dengan tatapan mata tajam ke laptop.
"Ka!" panggil Bee.
__ADS_1
"I'm fine, semua bukti pastikan copy paste, dan simpan bukti utama di tempat biasa!" Tanca menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu memejamkan mata, "Bee, jika mungkin. Pergilah sejauh mungkin dari sini, aku ingin kamu tetap aman dan memiliki kehidupan normal."
"Jangan mulai lagi, deh, Ka. Semakin sering kakak mengusir ku, aku akan tekankan pilihan ku tetap disini bersama kakakku tercinta." Jawab Aurel, lalu memeluk Aruna penuh kasih sayang.
"Apa kamu tidak merindukan orang tuamu? Ini sudah hampir lima tahun sejak pertemuan terakhir kalian. Pergilah!" Ucap Aruna mengusap kepala Bee.
Bee semakin mengeratkan pelukannya. Ntah kenapa ucapan kakaknya terdengar seperti salah satu bentuk pengusiran. Meskipun selama ini diberikan banyak tugas. Tidak sekalipun Aruna mengekang kehidupan yang ia jalani, tapi satu hal pasti. Dimana setiap pembahasan orang tua muncul. Pasti ada hal yang disembunyikan sang kakak.
"Ka Runa terlalu berusaha keras membujuk diriku, tapi tenang saja. Nanti aku atur pertemuan kita berempat. Bagaimana?'' Jawab Bee.
Aruna terdiam mendengar jawaban Bee. Mana mungkin pertemuan terjadi. Ketika dirinya saja tidak diterima oleh keluarga barunya.
__ADS_1
Aku akan berusaha membuatmu diterima papa dan mama. Aku berjanji, Ka.~batin Aurel.