
Pernyataan Ano, membungkam Enzo. Saudaranya itu tidak lagi bisa melawan. Sementara Tanca masih memikirkan apa yang terjadi pada pelayan itu, dimana Lea akan mengeksekusi mainannya. Kebiasaan ibu kandung si kembar yang membunuh hanya untuk melampiaskan amarah. Sudah seperti hobi saja. Beberapa korban masih bisa diselamatkan, tapi sisanya harus menemui sang Pencipta tanpa jejak.
Aku harus segera mengabari Bee. Hanya dia yang bisa mengatasi semua masalah saat ini, tapi bagaimana dengan Enzo dan Ano? Haruskah aku mengatakan siapa ibu mereka sebenarnya?~batin Tanca.
Kenzo melambaikan tangannya di depan wajah Tanca seraya memanggil. Namun, tidak ada sahutan sama sekali, membuat Ano memegang pundak Tanca.
"Ada apa?" tanya Tanca menatap Ano setelah sadar dari lamunannya.
Dua K saling pandang seraya mengedikkan bahu. Tentunya tidak paham kenapa Tanca bersikap aneh. Melihat reaksi si kembar, membuat Tanca menyadari lamunannya terlalu menyita waktu.
"Aku lapar, berikan makananku." rengek Tanca berusaha mengalihkan fokus si kembar, benar saja tatapan mata menggemaskan darinya membuat Ano segera mengambil nampan berisi makanan.
"Mau ku suapi?" tanya Kenzo antusias.
Ano mengalihkan nampan ke Enzo, agar saudaranya bisa menyuapi Tanca. Satu hal kecil bisa mengubah mood saudaranya. Maka tidak masalah jika harus berbagi tentang perhatian. Lagipula tidak mungkin hubungan ketiganya terputus begitu saja.
Tanca tersenyum melihat bagaimana Ano berusaha menjaga emosi Enzo. Kini senyuman manis hadir di bibir Enzo yang sibuk mengaduk nasi bersama sambal geprek udang dan sayur cah brokoli sosis. Satu sendok berisi nasi beserta lauk pauknya disodorkan.
"Aaaa....," bujuk Enzo, membuat Tanca menerima suapan pertama tanpa ragu.
__ADS_1
Kesibukan Kenzo menyuapi Tanca seraya di temani obrolan ringan keduanya. Justru memberikan kesempatan Ano untuk mengambil laptop. Diam-diam pria itu meninggalkan kamar, lalu kembali ke kamarnya sendiri yang terletak di sebelah kanan kamar Tanca.
Ceklek!
Klek!
Klek!
Pintu sudah terkunci, buru-buru laptop di buka lalu dinyalakan. Pemandangan pertama yang Ano lihat hanyalah sebuah kamar. Masalahnya itu kamar siapa? Desain yang sangat mewah dengan berbagai furniture berkelas. Jika dipikirkan, seluruh rumah memang mewah. Akan tetapi kamar itu jauh lebih mewah. Hingga satu nama terlintas di dalam benaknya.
"Dion." gumam Ano kini paham, dan kembali mengamati apa yang ada di dalam kamar itu, sepi senyap.
Tidak ada aktivitas apapun di dalam kamar itu, apakah yang dilihatnya hanya rekaman CCTV ulang? Merasa tidak ada gunanya, Ano hendak menutup laptop. Namun, suara langkah kaki terdengar dengan bayangan dari arah pintu balkon. Ano kembali fokus melihat apa yang akan terjadi. Hingga wajah berlumuran darah muncul terpampang jelas di depannya.
Bukan hanya wajah, tapi seluruh tubuh Lea di penuhi jejak merah. Sebuah benda tajam dengan tetesan darah masih tergenggam di tangan kanan wanita itu. Melihat bagaimana keadaan Lea. Mata Ano membulat sempurna seraya membungkam bibirnya sendiri.
Apa yang dia lakukan? Kenapa bermandikan darah? Aku harus tahu apa yang terjadi di dalam rumahku sendiri. Tunggu dulu. Apakah kecemasan Tanca karena rahasia milik Lea? Jika iya, itu artinya aku harus mendapatkan penjelasan dari Tanca. ~batin Ano.
Tanpa menunda, pria itu bangun dari tempatnya. Lalu mulai berjalan. Namun baru beberapa langkah terlaksana. Suara jeritan dari dalam laptop mengalihkan perhatiannya sekali lagi. Ano bergegas kembali ke tempat semula untuk melihat apa yang terjadi pada Lea.
__ADS_1
Adegan demi adegan tak luput dari pengawasannya. Hingga setengah jam menahan rasa jijik, muak, dan marah. Akhirnya Lea pingsan setelah seluruh isi kamar berhamburan ke lantai. Laptop ditutup, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kegilaan macam apa itu? Sejak kapan semua ini terjadi? Kenapa wujud aslinya tidak pernah muncul di permukaan? Apakah benar darahku sama seperti darahnya?" Ano menangkupkan kedua tangannya di wajah. "Tanca, apa saja yang kamu sembunyikan? Satu rahasia terkuak, rahasia lainnya bermunculan. Berapa banyak rahasia yang terpendam? Sekarang aku harus apa?"
Begitu banyak pertanyaan yang datang tanpa permisi. Kehidupannya seperti roller coaster yang naik menanjak, lalu turun meluncur tanpa aba-aba. Seperti benang kusut yang harus diuraikan. Kebenaran kali ini semakin mengusik isi pikiran dan hati Ano. Sementara di tempat lain, senyuman manis selalu menghiasi wajah seorang pria penjual bunga.
"Terima kasih, silahkan datang kembali." ucap nya setelah memberikan kembalian uang pelanggannya.
"Siap, Pak." jawab si pelanggan lalu pergi meninggalkan kedai bunga matahari dengan buket bunga campuran.
"Saya pesan bunga matahari tanpa kelopaknya." pesan pelanggan berikutnya, membuat bapak penjual bunga menatap si pelanggan seksama.
"Silahkan tunggu di dalam, Nona! Saya akan selesaikan dua pelanggan terakhir hari ini, mari lanjutkan. Apa pesanan adek manis?" Pak Penjual bunga, membuat satu pelanggannya menunggu di dalam sembari menanti tutup lapaknya.
Lima belas menit kemudian.
Pak penjual bunga masuk ke kedainya. Setelah menutup lapak luar dengan tulisan di tutup. Begitu pintu terbuka sambutan secangkir kopi hitam sudah ada di atas meja tempatnya beristirahat. Sedangkan wanita yang menunggu di dalam sibuk memainkan satu bunga mawar merah berduri.
"Kenapa, Anda kesini?" tanya Penjual bunga duduk di kursinya seraya menatap wanita yang berdiri di seberang meja.
__ADS_1