
"Ambil sampel darah, rambut, kuku, korban! Lakukan tes DNA!" Aurel mengambil ponselnya, lalu mengambil beberapa foto untuk dijadikan bukti pribadi. "Dok, pastikan hasil laporan datang sebelum jenazah dikebumikan!"
"Siap, laksanakan, tapi bagaimana dengan sampel kedua? Anda ingin, aku mencocokkan dengan DNA siapa?" tanya Dokter Prili.
Tatapan mata tajam Aurel layangkan pada dokter di depannya, membuat wanita berjas putih itu menundukkan pandangannya.
"Tunggu di depan! Aku sendiri yang akan mengantarkan sampel kedua." Ucap Aurel, lalu berdiri, kemudian berbalik.
Langkahnya berjalan menjauh dari tempat bunuh diri. Tidak ada yang bisa memahami apa isi pikiran wanita itu. Meskipun pertanyaan ingin sekali dikeluarkan. Tetap saja tidak mungkin dapat disampaikan. Ketegangan di wajahnya menjelaskan banyak hal, tetapi tak mengubah seluruh rencana yang harus dijalankan.
Pintu utama terbuka lebar, membuat Aurel berlari kecil menyusuri lantai yang teramat luas. Langkah demi langkah berpijak hingga melewati anak tangga yang cukup melelahkan. Tatapan matanya terpatri pada kamar dengan hiasan dreamcatcher di depan pintu. Siapa lagi, jika bukan kamar Tanca. Nafasnya masih teratur karena terbiasa berlari. Tanpa menunggu lama, ketukan pintu di lakukan, membuat seorang wanita muncul di balik pintu begitu terbuka.
"Masuk, Bee!" Tanca membiarkan adiknya masuk, lalu menutup pintunya kembali.
Seorang pria terbaring di ranjang dengan mata terpejam. Ntah ia terlelap karena tidur atau pengaruh obat. Aurel menoleh ke arah Tanca dengan kode matanya.
__ADS_1
"Lakukan saja! Keano dalam pengaruh obat bius. Peralatan ada di atas nakas." Jelas Tanca tanpa basa basi.
"Ka, bagaimana jika firasat ku benar?" tanya Aurel dengan helaan nafas panjang.
Aruna mengusap pundak adiknya agar tenang. "Apapun kemungkinan, kita tahu kebenarannya. Tes DNA hanya untuk memastikan. Meskipun hasil mengatakan iya. Aku merasa, Lea masih hidup."
"Kenapa Ka Runa berpikir seperti itu?" tanya Aurel menyipitkan kedua matanya menatap Tanca.
Senyuman tipis penuh arti terkembang samar di bibir semerah cherry. "Lea memiliki jiwa balas dendam, tapi bukan putus asa. Bukti yang ingin kamu dapatkan. Bukan sebagai penguat feeling saja, tapi sebagai jalan menemukan kebenaran lainnya." Jelas Tanca.
"Lakukan tugasmu, Bee. Setelah bukti ada, akan aku katakan semuanya. Setuju?" Tanca mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut Aurel tanpa pikir panjang.
"Setuju." Jawab Aurel.
Persetujuan Bee, mengubah jalur rencana yang sudah lama terancang. Belum lagi dengan adanya kasus Lea bunuh diri. Maka ia harus bersiap memberikan penjelasan pada papa si kembar. Apapun alibi pasti patut di curigai, tetapi bukan berarti seorang Tanca tidak siap. Waktu mengajarkan pentingnya berjalan limapuluh langkah lebih maju dari musuh.
__ADS_1
Saat ini Aurel sibuk mengambil sampel darah, rambut milik Keano yang terbaring di ranjang. Tentu tidak ada pemberontakan. Pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat. Dua kantong plastik dimasukkan ke kotak obat kosong, lalu ditenteng di tangan kanan wanita itu.
"Aku tunggu penjelasan Ka Runa. Sementara itu, aku handle semua dibawah. Oh iya, aku belum melihat monster sejak masuk ke mansion. Dimana pria itu?" Ucap Aurel.
"Dia? Mungkin sedang di pojokan kamar berusaha mempersembahkan drama terbaik. Air mata palsu harus terkuras hari ini, kamu paham 'kan Bee?" Jawab Tanca santai.
Aurel tersenyum sinis dengan bibir sedikit terangkat ke atas. Benar juga yang dikatakan kakaknya. Istrinya baru saja melakukan bunuh diri dengan menggantung di pohon mangga. Jadi sudah pasti pria itu akan menjadi seorang suami yang ditinggal orang terkasih.
"Turunlah! Sebentar lagi, Ano pasti sadarkan diri." Ucap Tanca mengingatkan.
"Okay, Ka Runa jaga diri. Aku akan urus semuanya." Balas Aurel, lalu melangkahkan kaki meninggalkan kamar kakaknya.
Lea, aku tahu kamu tidak semudah ini menyerah. Bagimu harta lebih penting dari si kembar. Aku ingin tahu, saat ini kamu tengah bermain di ranjang bersama siapa? ~ batin Tanca dengan smirk di bibirnya.
Orang-orang di mansion Abizar harus tutup mata, telinga, dan juga mengunci mulut mereka. Meskipun di depan mata melihat jenazah dari salah satu anggota keluarga majikan yang terbujur kaku. Kesibukan para polisi dan team dokter seperti makhluk tak kasat mata.
__ADS_1
...----------------...