Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 56: Tinggalkan kami berdua!


__ADS_3

"Aku mau kamu membatalkan pertunangan ini! Itu syarat ku untuk pertemanan yang kamu tawarkan." ucap Ken tanpa keraguan, membuat Ano menggelengkan kepalanya.


Aurel melepaskan tangan Ken, lalu menunjuk ke arah kanan dimana itu jalan yang sama seperti saat dirinya datang. "Dia yang memiliki keputusan mutlak. Aku hanya menjalankan tugasku."


Kenzo dan Keano kompak menatap siapa yang dimaksud oleh Aurel. Senyuman di wajah pucat menyambut keduanya dengan tatapan mata dingin nan tajam.


"Honey!" ucap Duo K serempak.


Dokter Naumi mendorong kursi roda Tanca. Melihat bagaimana reaksi Duo K, membuat wanita di atas kursi roda tersenyum tipis. "Dok, berhenti!"


Dokter Naumi mengikuti permintaan Tanca berhenti di depan Ken dan Aurel dengan jarak satu meter setengah.


Kecemasan di wajah Ken jelas terlihat sekali. Sedangkan Aurel hanya mengamati dan diam karena syarat yang Ken ajukan diluar dari rencana kakaknya.


"Bee, Ano, Dok. Tinggalkan kami berdua!" Tanca menautkan kedua tangannya seraya tatapan matanya tak lepas dari Kenzo.


Aurel melambaikan tangannya ke Keano, "Ayo, Ano, Dok, kita pergi!"


Kenzo melirik ke arah Keano dengan gelengan kepala pelan agar saudaranya itu tidak pergi meninggalkan dirinya bersama Tanca seorang. Namun, Ano mengedipkan matanya. "Honey....,"

__ADS_1


Tanca mengangkat tangan kanannya, dan itu menghentikan niat Ano untuk membela saudaranya. "Pergilah!"


"Okay, jangan paksakan Ken untuk menerima pertunangan terlalu cepat. Berikan dia waktu, honey." pinta Ano, lalu menyusul langkah kepergian Aurel dan dokter Naumi yang sudah berjalan di depannya.


Tanca tak menggubris, membuat Ano menghela nafas. Setelah beberapa saat diam, Tanca memutuskan kontak matanya dengan Ken. Kemudian menjalankan kursi rodanya, membuat Ken bergegas membantu tanpa permisi.


"Mau kemana?" tanya Ken memegang dua pegangan besi kursi roda Tanca.


"Kemanapun selama tidak ada yang menguping," Tanca memberikan kode jari ke arah belakang, dimana tiga makhluk tak berdosa asyik bersembunyi di balik pagar taman hijau setinggi dua meter.


Kenzo paham maksud Tanca, dan mendorong kursi roda menuju ayunan yang jaraknya cukup jauh dari bangku taman pertama.


Kenzo mengunci kursi roda, lalu menggendong wanitanya untuk di pindahkan ke ayunan taman. "Apa ini sudah cukup jauh?''


"Terima kasih, Ken." ucap Tanca dan membenarkan posisi duduknya.


Ken memilih duduk di ayunan satunya lagi, dengan tatapan ke depan. Sedangkan Tanca mengamati ekspresi Ken sejenak dengan serius.


"Hentikan tatapan itu! Aku takut tenggelam dalam rasa yang tak mampu ku miliki." cetus Kenzo jujur.

__ADS_1


Tanca tersenyum tipis. "Sekali saja tatap aku, Ken!"


"Untuk apa? Bukankah sudah jelas. Jika hubungan kita berakhir? Apa artinya....,"


"Baiklah. Jangan tatap aku, tapi pikirkan sekali lagi akan syaratmu pada Bee." pinta Tanca mengalihkan tatapannya ke depan, sedangkan Kenzo melirik ke arah Tanca.


"Aku tidak akan menghalangimu memberikan hak seorang ibu pada Lea, karena itu memang hak nya. Namun, aku berharap apapun keputusan yang kamu ambil. Jangan pernah lupakan saudaramu Ano, dia mencintaimu lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Bukankah begitu, Ken?" Tanca mengayunkan ayunan nya perlahan.


Kenzo tak memahami kenapa tiba-tiba Tanca mengganti topik pembicaraan. Bukankah seharusnya masih membahas pertunangan, tapi kenapa berubah menjadi membahas soal ibunya. Diamnya Ken, membuat Tanca menghentikan ayunan dengan satu kaki kanan.


"Ken, aku bukan hanya sebagai pelindung kalian selama ini. Emosi, sifat, sikap, kenakalan mu dan diamnya Ano. Semua tentang kalian berdua, aku berusaha memahami dari dalam hatiku. Kalian sudah dewasa dan sah saja mengambil keputusan mandiri. Termasuk soal pertunangan ataupun memberikan hak pada ibu kalian, tapi aku akan ingatkan sekali lagi padamu. Pikirkan dengan matang, sebab dan akibat dari jalan yang kamu pilih." jelas Tanca, membuat Kenzo menundukkan wajahnya.


"Kenapa selalu seperti ini?" Kenzo bangun dari ayunan, lalu bersimpuh di depan Tanca seraya menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita itu.


Tanca mengusap kepala Ken. Sebagai seorang pengasuh yang menjaga anak asuhnya dengan segenap jiwa dan raga. Penderitaan dan dilema yang dialami Kenzo pastilah sangat menyiksa batin pria satu ini.


"Aku hanya ingin memiliki keluarga yang harmonis. Hanya itu yang ku impikan, tapi kenapa mimpiku seperti matahari yang siap membakar bumi? Ada apa dengan keluarga ku? Baik kamu ataupun nenek, masih saja menyimpan banyak rahasia. Aku merasa kami seperti anak kecil yang harus selalu di lindungi....,"


Tanca menahan rasa sesak di dadanya. Dari dalam lubuk hati, ada rasa bersalah terhadap kehidupan Duo K yang benar-benar dipenuhi tipu muslihat. Namun, berkata jujur pun tidak akan menyelesaikan masalah apapun yang sudah mendarah daging. Hanya tangannya yang memberikan usapan lembut di kepala Ken, dengan harapan bisa meredam penderitaan Kenzo.

__ADS_1


Andai kamu tahu seperti apa kedua orang tuamu. Wajah asli mereka di balik senyuman palsu, dan topeng yang mereka kenakan. Aku tidak ingin kamu jatuh ke dalam jebakan mereka dan memenuhi obsesi yang tiada ujungnya. ~batin Tanca memejamkan matanya.


__ADS_2