Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 59: Kejujuran Ano - Kenzo Lepas Control


__ADS_3

"Kenyataan yang seharusnya tidak pernah ingin ku dengar, dan tidak ingin mereka katakan. Kenyataan itu adalah KITA BUKAN ANAK SAH KELUARGA ABIZAR!"


Bagaikan sambaran petir di atas langit. Tatapan Kenzo berubah menjadi kosong, tangannya meraih lengan Keano. "Kamu pasti bohong kan? Katakan sekali lagi padaku!"


"Ken, kita hanya anak wanita yang kamu bela. Darah di dalam tubuh kita berdua bukanlah darah keluarga Abizar, bukan hanya itu saja. Wanita yang kamu panggil ibu siap melenyapkan kita demi mendapatkan kekuasaan....,"


Kenzo mendorong Keano hingga tubuh saudaranya itu terjungkal dan jatuh ke belakang. Hujan turun semakin deras, membuat suasana semakin mencekam dan menegangkan.


Kemarahan di mata Ken bercampur dengan shock, dan tidak mudah untuk menenangkan hati yang meledak akibat kenyataan pahit di dalam hidup keduanya. Jika selama tujuh tahun saja. Seorang Keano tidak bisa melupakan kenyataan itu, lalu bagaimana keadaan hati dan pikiran Kenzo saat ini?


Buuug!


Buuug!


Buuug!


Keano bergegas bangun, dan berusaha menghentikan amukan Kenzo yang menendang bangku taman sekuat tenaga berulang kali dengan racauan tidak jelas.


Greeb!


"Hentikan!" seru Ano memeluk Ken, tapi saudaranya itu tak mau berhenti dan melepaskan tangannya dengan satu putaran, lalu Ken membanting nya tanpa ampun hingga punggung menjadi samsak mencium pinggiran bangku taman.


Braak!


"Ken!" seru seseorang dari belakang dengan suara bergetar, di depan matanya sendiri si kembar untuk pertama kalinya lepas kontrol.


Tanpa peduli hujan yang semakin deras, membuat perban di kepalanya basah. Langkahnya berlari menghampiri duo K yang kini menatap ke arahnya.


Tap!

__ADS_1


Plaak!


Satu tamparan melayang menyentuh pipi kiri Kenzo, tapi tidak ada reaksi apapun selain mata kosong dengan wajah kusut tersiram air hujan. Keano segera bangun seraya menahan rasa sakit punggungnya akibat membentur bangku taman.


"Maafkan aku, tapi ini bukan salah Ken. Tenanglah, honey." ucap Ano mendekati Tanca yang menatap tajam Ken.


"Shut up!" Tanca menunjuk ke arah Ano, "Apa kamu bisa lihat akibat dari kejujuranmu? Lihatlah saudaramu yang diam membeku seperti es batu ini! Apa ini yang kamu mau, Ano?!"


"Honey, akuu....,"


Tanca mengangkat tangannya, membuat Ano terdiam. Sedangkan Kenzo masih diam terpaku dengan kenyataan pahit hidupnya.


"Ken, listen me!" Tanca maju seraya menangkup wajah pria di depannya, tatapan lembut tertuju pada Ken. "Calm down! Kenyataan jati diri kalian tidak akan mengubah kehidupan kalian berdua. Bagi nenek kalian, bagiku ataupun bagi dunia. Kalian adalah kebanggaan keluarga Abizar."


Kenzo menatap mata Tanca tanpa berkedip, perlahan tapi pasti emosi pria itu meredup. Deru nafas perlahan mulai teratur, membuat Tanca mengedipkan mata agar Ken percaya padanya. Sedangkan Ano melangkahkan kaki mundur. Dirinya sadar jika Kenzo lebih membutuhkan Tanca.


Tanpa Ano sadari, jika Tanca juga mengawasinya. "Ano! Stop!"


Tanca melepaskan tangannya dari wajah Ken, lalu mengambil tangan kanan Ken dengan tangan kirinya, seraya mengulurkan tangan satunya ke Ano. "Kemarilah!"


Keano bimbang ingin menyambut uluran tangan Tanca, tapi tatapan mata tenang tunangannya itu membius nya, dan dengan sadar mengangkat tangannya lalu menggenggam tangan kanan Tanca.


Tanca membawa duo K berjalan meninggalkan taman rumah sakit, tiga langkah beriringan seperti seorang ibu menjaga anaknya.


Peristiwa ini sama seperti peristiwa sepuluh tahun silam, dimana Tanca untuk pertama kalinya menerima si kembar sebagai anak asuh sekaligus penjaga keduanya.


Kenzo menatap tangan Tanca yang menggenggam tangannya dengan erat, tapi tidak menyakiti dirinya. Keano pun melakukan hal sama, sepertinya ingatan yang sama melintas secara bersamaan.


"Masuk!" titah Tanca setelah berhenti di samping mobil Kenzo, dan melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


Si kembar seperti anak penurut, keduanya masuk mobil dengan wajah menunduk. Sementara Tanca bergegas memutar belakang mobil dan masuk ke kursi depan, dimana Aurel sudah stand by di kursi kemudi.


"Jalan, Bee!" titah Tanca setelah menutup pintu mobilnya.


Aurel mengangguk dengan lirikan ke spion tengah, wajah duo K sangat kacau dengan keadaan basah kuyup. Begitu juga dengan kakaknya, sorot mata sang kakak terlihat sangat lelah, gelisah dan tegang.


Keheningan di dalam mobil berbanding terbalik dengan senyuman puas di bibir seseorang. Satu jarinya sekali lagi menekan tombol play di layar pipih di atas mejanya.


"Perfect! Sekarang aku sudah memiliki buktinya, tunggu dan lihat saja kejutanku nenek tua." ucap orang itu dengan wajah sumringah.


Seminggu kemudian setelah hari kebenaran terungkap. Situasi kediaman keluarga Abizar sangat sunyi bak kuburan, tapi hari ini dimana mentari pagi terbit membawa kehebohan.


"Nyonyaa!" seru seorang pelayan yang berlari menghampiri meja makan dengan ponsel menyala di tangan kanannya, membuat semua anggota keluarga Abizar berbalik mengalihkan perhatian mereka pada tubuh gempal terbalut seragam biru muda ala pelayan.


Tanca bangun dari kursinya, lalu mengambil segelas air, dan menyerahkan ke pelayan dengan name tag Yuyun. "Minumlah!"


"Non, ambil ini, terima kasih untuk minumannya." ucap Yuyun menyerahkan ponsel dari tangan kanannya, dan mengambil gelas dengan tangan kirinya.


Tanca menatap layar di depannya dimana video masih berputar dengan suara sangat minim, tapi tulisan di bawahnya sebagai topik utama terbaca jelas.


"Nak, ada apa?" tanya Nyonya Abizar penasaran dengan perubahan wajah Tanca yang mendadak diam terpaku dengan tangan menggenggam erat ponsel milik Yuyun.


Keano dan Kenzo ikut bangun, lalu menghampiri Tanca. Belum juga sempat melihat apa yang menjadi alasan Tanca terdiam, ponsel sudah retak di tangan wanita itu.


Tes!


Tes!


Tes!

__ADS_1


"Daraah....,"


__ADS_2