Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 62: Nenek! - Warna Merah penyulut Emosi


__ADS_3

"Nak!" seru Nyonya Abizar menahan dadanya yang terasa sesak, membuat Tanca mengalihkan perhatiannya dan melihat wajah pucat sang mami.


Tanca tetap melangkahkan kaki di atas pecahan guci, tapi langkahnya bukan menuju ke Ano. Melainkan berlari menghampiri Nyonya Abizar, dimana wanita paruh baya itu mulai sempoyongan.


Ano melihat kemana arah Tanca. "Nenek!"


Seruan Ano terdengar hingga lantai atas. Dimana Kenzo yang masih berusaha meredam amarah di dalam hatinya langsung berlari keluar kamar. Setelah berlari selama dua menit, langkah kaki Ken terhenti di depan tangga.


"Nenek!" seru Ken menuruni anak tangga terburu-buru.


Nyonya Abizar pingsan dan terbaring di pangkuan Tanca, sedangkan Ano langsung menelepon dokter pribadi keluarga dengan wajah cemas. Ken berlari seraya menghindari pecahan guci.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Ken berjongkok di depan neneknya.


Tanca menatap Ken, "Are you okay?"


"Astaga drama keluarga ini tidak pernah berakhir. Sebaiknya aku pergi saja." gumam Lea mundur teratur.


Dion yang memperhatikan semua tanpa melakukan apapun, dan menonton seperti seorang penonton. Akhirnya memilih mengikuti langkah istrinya. Hingga langkah sang istri keluar dari kediaman Abizar, begitu pula dengan dirinya.


"Mau kemana kamu?" tanya Dion menghentikan langkah Lea.


Lea berbalik menatap manik mata sang suami. "Kenapa? Apa penting bagimu, aku mau kemana?"


Tangan Dion terkepal menahan rasa yang bergejolak, tapi tidak dengan bibirnya yang tersenyum manis. Lalu melangkah maju seraya memperdalam tatapan matanya. Satu rengkuhan, membuat Lea masuk ke dalam pelukan erat sang suami.


"Dion, sakit!" protes Lea berusaha melepaskan pelukan suaminya yang sangat erat hingga rasanya tulang punggung seperti dipatahkan.


Dion mendekati wajah Lea, lalu berbisik sesuatu. Wajah pemberontakan wanita itu perlahan menciut dengan tatapan mata ketakutan. "Please jangan usik dia, aku milikmu."

__ADS_1


"Good, ayo kita ke hotel!" Dion melepaskan pelukannya, lalu mencengkram tangan kanan Lea dengan kuat.


Ringisan Lea yang menahan sakit, tak dipedulikan pria tempramen itu. Keduanya berjalan menuju mobil yang selalu terparkir di barisan ketiga. Sementara di dalam sana. Kenzo baru saja merebahkan tubuh neneknya di atas ranjang king size bermotif bunga matahari.


"Dokter masih dalam perjalanan. Ken, tolong ambilkan kotak obat di laci sebelahmu!" jelas Ano seraya menunjuk ke buffett sisi kanan ranjang.


Kenzo mengambilkan kotak obat seperti yang diminta Ano, lalu mengulurkan ke saudaranya. "Apa tidak sebaiknya kita tunggu dokter? Mungkin saja dokter memberi resep baru untuk nenek."


Saudaranya itu tidak menjawab. Justru langkah kaki Ano menjauhi ranjang dan berjalan menuju Tanca yang bersandar di sofa dengan mata terpejam. Kotak obat di letakkan di atas meja kaca, lalu tanpa permisi mengangkat kaki kiri Tanca.


"Ano, lepaskan!" titah Tanca sedikit terkejut dengan tindakan tunangannya itu, sedangkan Ken langsung bangun dengan mata tak berkedip.


Warna merah segar nampak masih basah. Aroma anyir tercium sangat kuat. Sudah pasti itu darah, tapi kenapa telapak kaki Tanca bisa berdarah? Seketika ingatan tentang pecahan guci di lantai, membuatnya paham apa yang terjadi.


"Apa ini ulahnya?!" tanya Kenzo.


"Ken, kabari Bee rapat ditunda dan tunggu kabar selanjutnya. Jika bee tanya kenapa, katakan saja semua baik." Tanca mencoba mengalihkan amarah Kenzo dengan pekerjaan.


"Hmmm. Kalian hutang penjelasan padaku. Aku akan menjadi wakil untuk rapat kali ini, dan tenang saja. Semua orang akan ku bungkam." ujar Kenzo lalu berbalik.


"Pergilah! Sekali kamu keluar dari mansion. Jangan salahkan aku pergi meninggalkan kehidupan kalian." ancam Tanca, membuat tangan Ken semakin mengepal erat hingga tangan memutih.


Ano menatap Tanca lembut. Dirinya tahu jika semua perkataan sang tunangan hanyalah untuk menghentikan tindakan nekat saudara kembarnya. Tanca mengedipkan mata agar Ano tenang tentang Ken.


Namun, suara langkah kaki terdengar menjauh mengalihkan perhatian keduanya. "Ken!"


Yah benar, pria yang terlanjur gelap pikiran itu berjalan meninggalkan kamar. Tanca menurunkan kakinya, lalu berdiri menahan rasa sakit.


"Apa yang kamu lakukan, honey? Duduklah! Aku akan mengejar Ken."

__ADS_1


...****************...



Deraian air mata perjuangan sang pahlawan


Tak peduli siang dan malam


Merayap dan menyerang tiada hentinya


Berkorban jiwa dan raga


Seruan alam semesta


Membangunkan jiwa yang lara


Menghimpit asa


Kami para generasi muda


Membangun mimpi yang telah tiada


Berperang tanpa senjata


Membangkitkan jiwa yang tersisa


🇮🇩JAYALAH INDONESIA **MERDEKA 🇮🇩


Happy Independen Day Indonesia**.

__ADS_1


__ADS_2