Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 85: PAK POLISI vs TANCA


__ADS_3

"Pagi, Bi. Apa Nyonya Abizar ada di rumah?" tanya Pak Polisi, membuat Bi Yatun mengangguk. "Tolong panggilkan beliau, kami pihak kepolisian memerlukan konfirmasi Identitas mayat yang ada di mobil ambulance."


"Mayat?" Bi Yatun tertegun mendengar penjelasan pak polisi.


"Tolong panggil kan....,"


Suara langkah kaki berjalan mendekati pintu utama. "Bi, siapa yang datang?"


Pertanyaan dari belakang, membuat Bi Yatun melepaskan tangannya dari pegangan pintu. Kemudian berbalik melihat siapa yang memberikan pertanyaan. Wanita cantik dengan pakaian rapi semakin mendekat, tapi di belakangnya diikuti pria tampan yang berpenampilan santai.


"Non, itu pak polisi mencari Nyonya besar." Jawab Bi Yatun sukses mempercepat langkah Tanca.


Tak ingin menunggu diperintah, Bi Yatun melebarkan pintu utama agar Pak Polisi dan anggota penghuni mansion bisa melihat apa yang akan terjadi. Sementara Tanca yang berusaha berjalan cepat harus menahan rasa sakitnya. Tentu saja luka di kakinya masih menyiksa.


"Hati-hati!" Ano langsung membantu Tanca disaat tubuh wanitanya tak seimbang, dan hampir saja terjatuh. "Pelan saja, mereka tidak akan lari."


"Hmmm. Bi Yatun pergilah!"

__ADS_1


Perintah Tanca menyingkirkan pelayan paruh baya itu dari pintu depan mansion. Kini yang tersisa hanya beberapa anggota polisi dan juga Tanca berdampingan dengan Keano.


"Maaf, apa yang bisa kami bantu?" tanya Tanca to the poin.


"Pagi ini dunia digemparkan penemuan mayat. Setelah kami selidiki, identitas korban kemungkinan besar berasal dari salah satu penghuni istana Nyonya Abizar....,"


Penjelasan Pak Polisi benar-benar tak masuk akal. Bagaimana bisa menyimpulkan hal seperti itu tanpa penyelidikan lebih lanjut? Korban baru ditemukan tadi pagi, dan dalam hitungan berapa jam. Tiba-tiba saja membawa mayat tak dikenal ke dalam wilayah mansion Abizar.


"Apa kalian berniat menuduh nenekku? Apa....,"


"Ano! Silent!" Tanca melirik tajam tunangannya agar tidak melanjutkan apapun yang ada di dalam pikiran pria itu. "Pak, kami akan membantu sebisa mungkin. Saya hanya meminta satu hal dari pihak kepolisian. Silahkan bawa mayat kembali ke rumah sakit dan lakukan otopsi! Sementara keterangan atau kesaksian yang Anda perlukan. Kami akan bekerja sama."


Ucapan Tanca tak ubahnya perintah mutlak. Meskipun suaranya lembut, bukan berarti bisa dibantah. Ketegasan dan juga kedisiplinan wanita itu tidak bisa diragukan. Sejak pertama kali memasuki kantor polisi pusat. Maka anggota pemerintah akan memilih menjauh berurusan dengan calon istri Tuan Muda Abizar.


"Baiklah, tolong kirimkan semua penghuni mansion. Baik pengawal, pelayan ataupun pemilik mansion. Saya permisi. Selamat pagi, Nona Angel, Tuan Muda." pamit Polisi yang berdiri di depan pintu sebagai pemimpin pasukan kali ini, meskipun gagal melakukan tugasnya.


"Honey?" Ano menatap Tanca yang masih terdiam menatap iringan mobil ambulans dan mobil polisi meninggalkan pelataran mansion.

__ADS_1


Suara sirine yang terdengar jelas begitu membius. Bukan itu sebenarnya, tetapi prediksi dari apa yang telah terjadi. Sudah pasti itu mayat salah satu pelayan mansion. Sekali saja tragedi di dalam rumah terkuak. Sudah pasti sulit mengendalikan situasi.


Aku harus segera menyelesaikan misi ku. Semoga saja Bee mendapatkan semua bukti, tapi sebelum itu ada yang harus aku lakukan. ~batin Tanca.


"Ano, bisa bantu aku?" tanya Tanca tanpa menatap prianya. "Kirimkan seluruh penghuni mansion ke kantor polisi pusat! Aku akan urus sisanya."


"Apa maksudmu dengan kata *Sisanya*?" tanya Ano tak paham dengan bahasa yang terdengar seperti kode keras.


Tanca menggeser posisi tubuhnya agar berhadapan dengan Keano. Kemudian mengangkat kedua tangannya menangkup wajah tampan sang tunangan. ''Close your eyes! Remember what I said yesterday." (Tutup matamu! Ingatlah apa yang aku katakan kemarin.)


Mata perlahan terpejam mencoba menenangkan pikiran dan mengingat apa yang menjadi topik terakhir.


...----------------...


Setiap korban bisa ku selamatkan, tapi beberapa sudah terlambat. Apapun kebenarannya, tetap saja Lea harus dimasukkan ke rumah sakit. Bukan untuk mengurung ibumu. Aku tidak mau tragedi selalu terjadi setiap waktu. Kebiasaan wanita itu seperti candu. Ntah esok, atau lain waktu, pasti ada saatnya semua terbongkar. Sementara bukti ku masih belum cukup. Sekarang pikirkan baik-baik, apa keputusanmu! ~ Tanca menjelaskan secara singkat akan sisi buruk Lea sebelum pria itu meninggalkan kamarnya untuk melakukan inspeksi dadakan.


...----------------...

__ADS_1


Setelah mengingat apa yang menjadi inti dari masalah kali ini. Ia membuka mata, tapi tak ada wanitanya lagi. Tetapi suara langkah kaki menuruni tangga luar mansion mengalihkan perhatiannya. Benar saja Tanca sudah meninggalkannya. "Honey!"


__ADS_2