
"Boleh, Aku panggil keluargamu?" tanya Dokter, membuat Aruna mengedipkan matanya tanda setuju.
Persetujuan Aruna membuat dokter itu bangun dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri pintu ruangan kerjanya, lalu membuka pintu mempersilahkan keluarga sang pasien untuk masuk ke dalam ruangan. Nenek, Kenzo, Keano dan Aurel yang melihat pasien sudah duduk di kursi saling pandang satu sama lain.
"Silahkan duduk!" Dokter mempersilahkan, tapi reaksi keluarga pasien benar-benar di luar dugaan. Sontak saja ia langsung berkata poin dari permasalahan, " Jangan khawatir. Pasien hanya mengalami dehidrasi ringan dan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah."
"Honey!" panggil Ken dan Ano bersamaan.
Si kembar saling pandang, hingga Ken memilih mengalah dengan anggukan kepala memberikan hak saudaranya untuk menghampiri calon istrinya. Perlahan memang ia harus mengikhlaskan semuanya tanpa menyimpan rasa iri dan dendam. Terlebih setelah semua yang terjadi. Masalah sudah terlalu banyak dan tidak perlu membuat masalah baru.
Ano berjalan menghampiri Aruna. Senyuman di wajah sang tunangan tak mengubah rasa khawatir di hatinya, tapi tetap bersyukur karena semua baik-baik saja. Kini keempat anggota keluarga Abizar tengah mendengarkan panjang kali lebar penjelasan sang dokter. Tak lupa juga selembar kertas resep obat, sedangkan yang tengah dibicarakan justru sibuk bermain ponsel.
Lima belas menit kemudian.
"Ayo, kita pulang," Ano bersiap mendorong kursi roda Aruna, tapi tangannya ditahan wanita itu, kini tatapan mata saling bertemu. "Apa kamu mau sesuatu, Honey?"
__ADS_1
"Bee, antar Ken dan Ano ke bandara!" titah Aruna jelas dan menghiraukan tatapan penolakan Ano.
"Nak, kamu lagi sakit. Apa tidak sebaiknya, ditunda dulu kepergian Ano dan Ken?" tanya Nenek Abizar mengingatkan akan kondisi yang seharusnya saling mendukung.
Aruna menggelengkan kepala, lalu ia menunjukkan sesuatu dari benda pipih yang sejak tadi menjadi mainnya. Sebuah berita telah di tonton begitu banyak orang. Jika itu tentang bisnis masih bisa diatasi dengan cepat. Sayangnya berita yang kini menjadi trending topic adalah tentang meninggalnya Lea ibu si kembar.
"Bagaimana bisa berita itu keluar dari mansion?" tanya nenek Abizar menghela nafas berat, untung Ken ada di sampingnya dan sigap memberikan usapan agar sang nenek tetap tenang.
"Berita ini tidak bisa dibiarkan. Sudah mati saja, masih merepotkan. Apa...,"
"Apa kamu tidak membutuhkan aku?" tanya Ano berharap semoga sang tunangan berubah pikiran.
Pertanyaan Ano hanyalah sebuah alasan untuk tetap bersamanya. Sementara ia sudah membuat rencana untuk hal besar selama seminggu ke depan. Jadi suka, tidak suka. Mau, tidak mau. Semuanya harus berjalan sesuai rencana. Termasuk keberangkatan Duo K ke London tidak bisa dinegosiasikan lagi.
Keheningan Tanca berarti keputusannya sudah final. Maka dengan berat hati, ia harus meninggalkan negara ini dan menghadiri pameran London bersama saudara kembarnya Ken. Kode mata dari Aruna membuat Bee mengangguk paham.
__ADS_1
"Ken, Ano, kita harus pergi sekarang." ucap Bee.
"Sekarang? Penerbangan bisa ditunda satu jam lagi 'kan?" tanya Ano masih tetap ingin disisi sang tunangan.
Aruna meraih tangan Ano, lalu memberikan usapan lembut. Tatapan mata keduanya saling beradu, "Ano, pergilah, dan cepat kembali. Aku akan selalu menunggumu."
"Janji?" Ano bertanya dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
Aruna tersenyum manis agar prianya tak memiliki beban hati yang berat karena harus pergi meninggalkan dirinya. Kemudian menyambut janji jari kelingking agar semakin meringankan beban pikiran juga.
"Janji, pergilah!" titah Aruna.
"Ok, take care of yourself, Honey. Nek, Ano pamit dulu," Keano memberikan ciuman kening sebagai tanda perpisahan, begitu juga dengan Kenzo.
Pemandangan yang mengharukan, tapi nenek Abizar melihat kode mata kedua wanita yang akan menjadi istri cucunya. Kepergian Bee, Kenzo dan Keano meninggalkan Aruna, sang nenek dan dokter di ruangan itu.
__ADS_1
Semua yang terjadi tak luput dari pengawasan Aruna, dan sebelum pertanyaan menghampirinya. Maka lebih baik dirinya mengatakan sebuah kebenaran, "Mami, jangan berpikir negatif. Aku akan memberitahukan segalanya. Silahkan, Dok!"