
Tanca yang masuk dengan perlahan tersenyum melihat bagaimana Kenzo bisa mengendalikan emosinya. Si kembar memang memiliki sifat dan sikap yang saling melengkapi. Meskipun dirinya memiliki tujuan tersendiri, tetap saja kebersamaan si kembar tidak akan dirusak olehnya.
"Ekhem! Apa kalian melupakan aku?"
Tanca berjalan mendekati si kembar dengan mimik wajah cemburu, serta bibir cemberut. Namun, duo K tengah mode mellow membuat keduanya merentangkan tangan mereka secara bersamaan. "Kemarilah!"
Warna merah darah mengalihkan perhatian wanita itu. Niatnya ingin menggoda justru berubah menjadi cemas dengan keadaan Kenzo. Langkahnya berjalan semakin cepat lalu memeriksa dada Kenzo. Tapi, pria yang diperiksa justru tersenyum manis.
"Darah? Darah siapa ini?" tanya Tanca serius.
"Itu....,"
Kenzo buru-buru mengangkat kedua tangan lalu memegang telinganya sembari menatap Tanca dengan senyuman manis. "Sorry, Honey. Aku tidak sengaja menabrak orang, tapi tenang okay. Korban ku sudah dirawat di rumah sakit."
"Ano, cari tahu siapa korban Ken! Aku tidak mau ini jadi skandal, dan satu lagi pastikan semua saksi tutup mulut. Sedangkan kamu anak nakal, mulai hari ini tidak ada fasilitas mobil pribadi. Jangan berharap ada kelonggaran. Kamu paham anak nakal?!" Tanca menyilangkan kedua tangannya sembari menatap Kenzo serius.
Kenzo hanya bisa menghela nafas kasar. Hidup tanpa mobil mungkin bukan hal baru, tapi yang jadi masalah adalah hidupnya setelah ini. Setelah setahun tidak bertemu bodyguard kejam, dan karena insiden hari ini. Maka dunianya akan kembali menjadi di bawah bayang-bayang bodyguard kejam.
"Kurasa anak nakal ku sudah paham, Ano jaga saudaramu. Pergilah lakukan pekerjaan kalian! Aku harus pergi," pamit Tanca membalikkan tubuh dan berniat melangkahkan kakinya.
Namun, tangannya ditarik seseorang.
__ADS_1
"Ken!" panggil Tanca tegas.
Kenzo melepaskan tangannya, "Please, jangan panggil dia."
"Peraturan tetaplah peraturan. Hidup kalian bukan hanya milik kalian, harusnya kalian mengingat hal terpenting di dalam hidup kalian berdua. Bukankah selama ini, aku memberikan kebebasan? Lalu, kebebasan mana lagi yang kalian harapkan?" ujar Tanca dengan lembut.
Keano mengusap bahu saudaranya, "Tanca, pergilah! Pekerjaan seminggu ke depan akan kami selesaikan. Jangan khawatirkan Ken, aku ada bersamanya."
"Thanks, Boy. Good luck." pamit Tanca berjalan meninggalkan ruangan rapat sembari mengambil ponsel di saku blazer nya.
Tanca berjalan di lorong perkantoran, dimana para karyawan masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Langkahnya terhenti ketika sambungan telepon berubah menjadi sapaan seseorang dari seberang.
"Datanglah! Pekerjaan menantimu, dan kali ini tugasmu akan panjang. Sudah cukup hibernasi mu." ucap Tanca dengan ketegasan, ucapannya terdengar berat.
[Okay, Aku meluncur]~ jawab dari seberang.
Tanca mengakhiri panggilan setelah mendapatkan jawaban pasti. Sejenak matanya memperhatikan para karyawan yang sibuk melakukan pekerjaan, dan beberapa tengah mondar-mandir mengurus berkas.
Siapa sangka hidupku berubah menjadi mesin waktu tak berhati. Bagaimana rasanya hidup normal seperti mereka? Apakah aku memiliki kesempatan memiliki hidup sederhana tanpa rasa sakit yang membelenggu? Ku harap api dendamku tidak membakarku habis. Tetapi, itu mustahil. ~batin Tanca.
Seorang karyawan berjalan menghampiri Tanca dengan satu map putih yang dipeluk erat, membuat wanita itu menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Bu, saya ingin resign." ucap karyawan itu gugup.
"Buatlah surat resign mu, kirimkan ke HRD!" titah Tanca membuat karyawan itu semakin gugup.
Reaksi itu menarik perhatiannya. Lagipula untuk apa karyawan meminta izin resign padanya. Peraturan perusahaan bahkan sudah jelas. Terlebih karyawan itu bukannya bersyukur diperbolehkan resign, justru wajah pucat yang tersaji.
Merasa ada yang tidak beres, membuat Tanca mengambil map putih dari pelukan pria itu. Kemudian map dibuka, betapa terkejutnya ketika isi di dalam map sangatlah penting. Map ditutup, Tanca menatap karyawan di depannya yang masih pucat pasi.
"Ikut keruangan ku!" titah Tanca berjalan melewati sang karyawan dengan wajah dingin.
Para karyawan membungkukkan setengah badan mereka ketika melihat Tanca lewat. Namun, beberapa karyawan menatap was-was ketika salah satu rekan mereka ikut berjalan di belakang tangan kanan bos perusahaan.
Suara bisik-bisik saling melemparkan kode mata terekam melalui CCTV. Tanpa semua orang sadari, ruangan yang katanya bebas dari CCTV itu ternyata memiliki CCTV tersembunyi.
Ceklek!
Tanca memasuki ruangan pribadinya. Dimana ruangan itu serba bernuansa biru langit dengan rangkaian dreamcatcher bulu merak dan kristal di atas langit serta di deretan depan dinding kaca yang mengarah keluar sana. Tanca duduk di kursi kerjanya sembari meletakkan map di tangannya ke atas meja.
Karyawan itu masih berdiri di depan pintu, membuat Tanca memberikan isyarat tangan agar pria muda di depan sana duduk di kursi depannya.
Pria itu berjalan mendekat dengan langkah terseret. Tanca memperhatikan bagaimana cara karyawannya berjalan. Kaki kanan pria itu seperti dipaksakan untuk melangkah, bukan hanya itu. Setelah mengamati dengan seksama. Tangan kiri pria itu bergetar tidak lazim.
__ADS_1
Tanca berdiri dan memutari meja, lalu tangan kanannya menarik satu kursi.
"Duduk!"