
Tanpa menunggu jawaban. Tanca meninggalkan duo K yang berdiri seperti patung dengan wajah pucat pasi. Bibir kedua pria itu kelu, otot-otot pun melemah hingga tubuh keduanya ambruk dengan tatapan putus asa.
"Katakan padaku! Semua yang kudengar itu tidak benar 'kan?" tanya Ano dengan menatap nanar ke arah tangga dimana Tanca masih menapaki tangga satu persatu.
Kenzo memegang dadanya sendiri. Detak jantungnya bahkan sudah terlampau cepat. Pendengaran yang jelas, tapi terasa seperti ledakan bom. Keano mengalihkan tatapan matanya ke arah Ken, tapi...
"Kenzo!"
Tubuh saudaranya terkapar dengan tatapan mata kosong melebihi dirinya. Wajah pucat Kenzo langsung membuat Ano memeriksa denyut nadi dan deru nafas Ken.
"Syukurlah, kamu masih bernafas." Ano menghela nafas, lalu membantu Ken bangun.
Tubuh lemah akibat shock berubah menjadi kekuatan demi saudaranya. Keano memapah tubuh Kenzo meninggalkan ruang tamu. Sedangkan di tempat lain perpisahan baru saja terjadi.
"Syukurlah semua berjalan lancar, dan kini waktunya aku melakukan tahap terakhir." gumam seorang wanita dengan pakaian kebesaran melangkahkan kakinya memasuki sebuah club dari pintu belakang.
Klik!
Klik!
Klik!
Tanpa disadari wanita itu. Jika setiap langkah kakinya telah diawasi oleh seseorang. Dari balik pohon, sepasang mata menatap tanpa berkedip mengambil setiap moment di depan sana. Bagaimana wanita itu mencumbu penjaga club pintu belakang dan sentuhan nakal si pria sembari membawa tamu gelapnya ke dalam club.
__ADS_1
Benar-benar menjijikkan. Ish mataku ternoda hanya karena tikus jalanan.~batin sang pengawas mencebikkan bibirnya.
Tak ingin kehilangan banyak momen, membuat sang pengawas meninggalkan persembunyiannya dan memutari bangunan hiburan itu. Panas matahari tak seterik tadi. Sebelum mencapai bagian depan, dua kancing kemejanya dibuka. Barulah pintu kaca tanpa penjaga luar didorong perlahan.
"Hay, Bro!" sapanya dengan memberikan tos ala anak club.
Penjaga di dalam menyambut tos salam itu, dan tidak curiga dengan tamu clubnya. Suara musik tidak sekeras biasanya, membuat sang pengawas bebas berkeliaran dengan jumlah pengunjung yang hanya beberapa.
Langkahnya terhenti di depan bartender yang siap melayani. Satu kode jemarinya, membuat si bartender mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya si bartender.
"Aku mencari teman yang bisa ku ajak ke hotel. Apa disini ada?" bisik sang pengawas agar tidak terdengar semua pengunjung, tapi ucapannya tepat mengenai sasarannya.
S!al! Kenapa wanita itu seperti bunglon. Ck! Ck! Dasar wanita murah@n.~ umpat sang pengawas di dalam hati.
"Dia?! Apa tidak ada yang lain?" tanya sang pengawas dengan nada tidak percaya jika wanita di sudut sana yang menatapnya seperti kue brownies sudah siap menerkam.
Bartender mengeluarkan uang seratus ribu dari saku seragam kerjanya lalu meletakkan di atas meja sang pengawas. "Taruhan, jika dia tidak memuaskan Anda. Malam ini saya traktir Anda sepuasnya, tapi jika Anda kalah. Maka siapkan uang sepuluh juta sebagai uang kekalahannya. Bagaimana?"
"Bro, aku tidak menolak tantangan mu. Siapa takut," Sang pengawas mengedipkan satu matanya ke arah wanita yang masih setia memainkan gelas wine dan menatap ke arahnya.
Satu kedipan, membuat wanita itu bangun dan berjalan menghampiri sang pengawas. Si bartender memilih menjauh dan membiarkan tamunya mendapatkan servis terlebih dahulu dari wanita terpopuler di clubnya itu.
__ADS_1
"Vio, bawa Tuan ini ke kamar satu dan layani dengan kelas eksklusif!" Bartender memberikan kode jari agar wanita kesayangannya itu mau memanjakan tamunya tanpa perlu meninggalkan saat pelepasannya.
Vio langsung menggandeng tangan tamu pertamanya. "Ayo, Bang. Fin, aku have fun dulu."
Si bartender mengangguk dan membiarkan Vio membawa tamunya menuju pintu hitam dengan tulisan ruang manager.
Lima menit kemudian, keduanya sampai di dalam kamar yang cukup luas dengan kasur terlihat empuk dan aroma pengharum ruangan manis menggoda. Belum sempat mengucapkan apapun. Tubuhnya didorong hingga terjatuh di atas kasur.
"Hey, sabaar!" ucap sang pengawas dengan mengangkat tangannya, membuat Vio berhenti menurunkan lengan gaunnya dan menatap pelanggan pertamanya dengan mata berkaca.
Sang pengawas bangun dengan senyuman tipisnya. Mengambil ponsel dari saku dan melepaskan jam tangannya. Langkah kakinya berjalan menghampiri Vio. Tentu saja setelah meletakkan barangnya di atas meja yang menghadap ke arah ranjang.
"Come on cantik, aku akan memanjakanmu ditengah senja yang tenggelam." rayu sang penjaga, dan meraup bibir manyun Vio.
Pagutan panas dimulai dengan sedikit terburu-buru, membuat air keluar dari mulut keduanya.
Suara yang menggema dengan derit ranjang melebur menjadi satu bersama sang senja yang menuju peraduan. Pergulatan dengan nafsu dan tuntutan membakar kamar temaram itu selama dua jam hingga tiga ronde.
Wajah dengan senyuman puas dan sinis menatap kearah sampingnya. Dimana Vio terkapar akibat ulahnya. Sejenak ditatap nya tubuh penuh stempel merah itu. "Kamu sangat liar, tapi bukan tandingan ku. Thanks buat upahmu. Sekarang tugasku selesai."
Sang pengawas memunguti pakaiannya lalu memakainya kembali. Tak lupa mengambil ponsel dan jam tangannya. Senyuman puas sang pengawas berubah menjadi smirk. Satu pesan di ketik, dan dikirimkan pada seseorang.
"Done." gumam sang pengawas melirik ke ranjang dan berjalan meninggalkan kamar remang itu.
__ADS_1