
"Aku akan antarkan paketnya, tapi bisa katakan apa isi paket mu, dan untuk siapa paket itu?" tanya Ano.
"Benarkah, hanya itu yang mau kamu tahu?" tanya balik Aruna dengan tenang.
Ano mengangguk tanpa keraguan. Tanpa kata tangan Aruna menarik kemeja tunangannya hingga tubuh keduanya saling berhimpitan dengan tatapan mata terpatri satu sama lain. Tatapan yang menghanyutkan. Tetapi wanita itu dengan cepat membisikkan sesuatu. Suara yang lirih dengan hembusan nafas hangat.
"Honey!" panggil Ano menahan dirinya.
"Yes, any something wrong, Boy?" tanya Aruna manja.
(Ya, ada yang salah, nak?)
Suara yang lembut menggoda, membuat Ano tak peduli tempat. Satu rengkuhan membuat tubuh keduanya berbagi kasih. Rasa manis bibir tanpa ada kata permisi hanya menyisakan suara decakan. Pagutan menuntun membawa terbang pasangan itu hingga atmosfer sekitar mereka berubah menjadi panas.
Aruna melepaskan pagutan, lalu mengusap bibir basahnya. "Jangan tanyakan lagi untuk siapa dan apa isi paket ku. Nanti kamu akan tahu sendiri tanpa harus ku katakan. Okay, boy?"
__ADS_1
"Hanya satu ciuman? Sungguh tidak adil....,"
"Pergilah, dan cepat kembali. Pernikahan akan terjadi. Jika kamu selesai mengantarkan paket ku." sela Aruna seraya mendorong tubuh Ano agar menjauh darinya.
Tentu saja hanya dorongan pelan. Ano menatap Aruna tanpa berkedip. Ada sesuatu yang dipikirkan tunangannya itu, tapi apa? Apakah tentang kematian Lea? Jika iya, apa alasannya? Bukankah selama ini, kedua wanita itu tidak pernah akur.
"Hentikan berpikir ini dan itu! Aku masih bisa membereskan semua pekerjaan ku. Don't worry, Ano." sindir Aruna tanpa membalas tatapan Ano.
"I know, ntah kapan kamu bisa jujur padaku. Tentunya tanpa semua teka teki yang selalu menjadi jawaban absurd." sindir balik Ano dengan helaan nafas panjang.
Ano mengikuti sikap serius Aruna. Keduanya saling menatap dengan tatapan tenang menenggelamkan.
"Apa kamu siap menerima kenyataan. Meskipun kenyataan itu adalah mimpi terburukmu?" tanya Aruna.
"Pikirkan dulu sebelum menjawab. Sekali kamu mengiyakan. Kamu tidak bisa kembali ke titik awal." Ucap Aruna memperingatkan prianya.
__ADS_1
Jelas sekali Ano tengah berpikir keras dengan satu alis terangkat, pria itu harus memutuskan pilihannya. Jika ingin semua terbongkar, maka cukup katakan iya. Jika ingin sama seperti biasa tanpa badai, maka cukup katakan tidak. Sementara di tempat lain. Deretan gundukan tanah berjejer rapi. Orang-orang mulai membubarkan diri. Kecuali keluarga yang masih enggan beranjak dari tempat pemakaman. Tanah basah dengan bunga mawar segar.
"Nak, ayo kita pulang. Lihatlah langit mendung. Pasti sebentar lagi hujan." Ucap seorang wanita di atas kursi roda.
Pria dengan kemeja hitam masih tak rela atas kepergian ibunya yang mendadak. Meskipun dirinya sadar bahwa sang ibu tidak pernah memberikan perlindungan. Semua kenangan yang bisa dihitung dengan jari menjadi serpihan kaca dengan begitu banyak tanda tanya.
"Nek, apa aku tidak pantas dicintai?" tanya pria itu dengan nada bergetar.
Wanita paruh baya tak sanggup mendengar pertanyaan cucunya. Tanpa peduli dengan kesehatannya, ia turun dari kursi roda, dan langsung memeluk sang cucu. Kecupan hangat menjadi pelipur duka.
"Nak, kami sangat mencintaimu. Jangan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu lagi." Ucap sang nenek semakin mengeratkan pelukannya.
Tidak ada lagi kata selain suara tangisan keduanya. Bukan karena meratapi jasad yang terpendam di bawah tanah, tetapi karena badai kehidupan datang tanpa permisi. Hari berkabung berlalu dengan rintik hujan. Tidak sekalipun media sosial memberikan tentang peristiwa yang baru saja terjadi di keluarga Abizar.
Lima hari berlalu hanya dengan ketenangan dunia. Namun, tidak dengan hari ini. Suara alarm terdengar begitu kencang berdering saling bersahutan. Tangan yang menyembul dari balik selimut berusaha meraih alarm.
__ADS_1
Praang!