
"Love you, My Wife," Keano mengecup kening Aruna, setelah kecupan singkat di bibirnya melepaskan diri, "Katakan satu hal, apa alasanmu kembali?"
Aruna tersenyum, lalu melepaskan tangan Ano dari perutnya. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya. Langkah kaki berjalan menuju jendela rumah yang berjarak dua meter dari sofa ruang tamu. Jendela itu masih tertutup dengan tirai putih yang menjuntai. Satu tarikan tangan Runa, membuat cahaya diluar sana masuk menerangi ruang tamu. Kemudian, ia menarik kunci jendela dan mendorong ke depan bingkai kaca di depannya.
Cahaya mentari menerobos masuk, tapi tak membuat Aruna memejamkan mata. Wanita itu masih bisa menyesuaikan dengan pemandangan yang berubah. Tatapan matanya begitu jauh ke depan dengan banyak pertimbangan di dalam kepalanya. Jika ingin jujur, selama lima bulan terakhir ini hanya di penuhi dengan ketenangan. Tidak ada pekerjaan yang rumit, tidak perlu begadang dan tidak juga harus bersikap dewasa yang penuh ketegasan.
Kehidupan sehari-hari hanya menikmati pagi, siang, sore, dan malam. Memasak, dan membersihkan rumah seorang diri. Ia hanya sesekali pergi ke kota demi memperoleh kebutuhan makan dan lainnya. Tidak ada file kerjasama, tidak ada tatapan penuh selidik. Setiap waktu seperti burung yang terbang bebas, bahkan meski Ano tahu tempat tinggalnya. Tetap saja, pria itu tidak bisa mengusik keputusan yang sudah ia putuskan.
__ADS_1
"Adikku membutuhkan ku, Aku tahu. Saat ini, Bee sangat berharap kehadiran ku. Aku juga siap untuk menghadapi dunia luar," Aruna berbalik, lalu menatap Ano yang ternyata sudah berdiri di belakangnya, "Sudah saatnya, Kenzo menerima kenyataan dan suamiku mendapatkan hak seorang ayah. Bawalah aku pulang, dan genggam tanganku hingga nafas terakhir ku."
Keano menatap Aruna begitu dalam. Pria itu mengangkat tangan kanan, lalu mengusap pipi Sang istri, "Jika kamu belum siap. Jangan paksakan ini, Honey. Aku tidak ingin membahayakan kalian berdua...,"
"Jangan khawatir. Anak buahku sudah membereskan semua pekerjaan, selama aku disini. Kita harus bersatu dan segera menyelesaikan masalah di dalam keluarga," Aruna menghela nafas panjang, sesaat menjeda ucapannya, "Aku harap kamu tidak marah karena persiapan penangkapan papamu sudah berlangsung."
"Benar, tapi selama lima bulan ini. Dion melakukan beberapa kecurangan yang tidak kalian sadari. Aku juga sudah menemukan dimana ibumu berada. Jadi, apa keputusanmu? Aku akan mempertimbangkan, aku hanya berharap satu hal darimu. Kamu akan selalu mendukungku dan juga bersamaku."
__ADS_1
Keano menangkup wajah Aruna. Sorot mata wanitanya terlihat tenang, tapi berselimut luka. Meski masa lalu Sang istri sudah ia ketahui sejak empat bulan lalu. Tetap saja, hatinya tidak berubah. Baginya, semua sudah takdir dan tentu bersyukur karena memiliki seorang wanita tangguh dan bisa menjadi kekuatan disaat badai kehidupan menerjang.
"Honey, Kita ini satu. Tidak ada yang perlu kamu jelaskan. Aku pernah marah padamu dan aku menyesal, tapi mulai saat itu. Aku belajar, apa itu sebuah hubungan. Kenapa kamu bertindak tanpa memberitahu kami dan sebagainya. Orang lain bisa meragukanmu, tapi aku janji, aku akan selalu percaya denganmu," ujar Keano, lalu merengkuh tubuh Aruna ke dalam pelukannya.
Sisa rasa di hati Aruna, membuat hubungan suami istri itu didasari kepercayaan yang cukup besar. Apalagi saat ini ada anak yang harus mereka perjuangkan. Kebersamaan di dalam rumah yang terpencil itu meninggalkan banyak kenangan. Satu jam kemudian, kedua pasutri itu keluar dari rumah. Tak lupa mengunci pintu, dan baru memasuki mobil yang terparkir tiga meter dari depan rumah.
"Tempat konferensi pers atau lainnya, Honey?" tanya Ano seraya memasangkan sabuk pengaman sang istri.
__ADS_1
Aruna mengusap perutnya yang kian membuncit, kandungnya terbilang cukup sehat dan baik-baik saja. Akan tetapi, sebelum memulai pertempuran kembali. Ia harus memastikan semuanya aman. Termasuk kondisi si jabang bayi, "Ke rumah Dokter Xavier, Jalan xxx."