Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 45: Kenzo - Tanca - Aurel


__ADS_3

"Katakan semuanya! Anggaplah aku boneka pendengar yang baik." ucap pria itu dengan menyandarkan kepala Tanca ke pundaknya.


Tanca terkekeh mendengar ucapan pria di sampingnya. "Kamu ini sangat manis, apa kamu tahu? Selama ini aku memilih diam....,"


Suara langkah kaki terburu-buru memasuki balkon dengan gaun terangkat, membuat Tanca dan pria di sampingnya menatap intens ke depan.


"Syukurlah, Aku menemukanmu. Aku akan bawa Nona Angel ke kamar reservasi."


"Biar aku saja." cegah Kenzo.


Tanca bangun di bantu Kenzo, tapi Aurel bergegas ikut menopang tubuh kakaknya.


"Ken, kembalilah ke pesta! Bee ada bersama ku, tenanglah." Tanca melepaskan tangannya dari lengan Kenzo, membuat Ken menatap wanita yang memenuhi relung hatinya dengan tatapan sayu.


Tatapan mata itu menusuk hati Tanca. Tangannya terulur mengusap pipi Ken dengan perasaan, "Ken, apa yang kamu dengar dan lihat selalu memiliki banyak kebenaran. Kepercayaan itu mahal, tapi kebenaran itu lebih pahit. Pergilah!"


"Ken, Nona Angel sudah bersama ku. Aku akan membawanya ke kamar kami." jelas Aurel meyakinkan tunangannya itu.


Kenzo menghela nafas, ''Aku akan antar! Setelah itu aku balik ke pesta."


Tubuh bergaun princess terbang beralih pada tumpuan tubuh kekar Kenzo, membuat Aurel tertegun sesaat. Kesadarannya seakan dipermainkan. Dirinya lupa jika baik Kenzo ataupun Keano tidak mungkin meninggalkan kakaknya sendirian. Terlebih di saat situasi yang buruk sekalipun.


"Ken!" panggil Tanca lembut.

__ADS_1


Ken hanya melirik dengan langkah kaki berjalan menuju pintu balkon. Aurel hanya bisa menjadi pengikut di belakang dengan pikiran yang berkecamuk antara benar dan salah akan keputusannya menerima pertunangan malam ini.


"Katakan satu hal padaku, bagaimana perasaanmu? Apakah impianmu masih sama?" tanya Tanca menatap Kenzo.


"Pernahkan matahari bersatu dengan bulan? Bukankah kami seperti itu? Mimpiku hanyalah mimpi, kenyataannya adalah aku seorang pemimpi bukan seorang pemilik." jawab Kenzo.


Begitu besar rasa cintamu untuk kakakku. Aku tahu cintamu tulus, Ken. Namun, kami tidak bisa merusak hidup kalian dalam satu lubang dosa. Maaf, aku harus menggantikan posisi wanita yang sangat kamu cintai. Sekarang aku paham kenapa ka Runa meminta aku menjagamu. ~batin Aurel mencoba memahami isi hati Kenzo.


Kenzo berhenti di depan pintu kamar hotel nomor lima A. "Buka!"


Aurel bergegas maju dan menekan beberapa digit sebagai password kamar hotel, pintu terbuka. Kenzo masuk bersama Tanca diikuti dirinya. Pintu ditutup dari dalam, dan pemandangan manis lagi-lagi tersaji di depan matanya.


"Ken! Aku bisa sendiri." protes Tanca, tapi tak menghentikan Kenzo membantu wanita itu melepaskan hiasan rambut.


Sepuluh menit kemudian.


"Ken, Aku baik. Bee ada bersama ku, mulai esok belajarlah mencintai Aurel." Tanca meraih tangan Kenzo, "Dia pilihan kami, cukup salahkan aku jika ini menyakitimu. Percayalah, dia bisa menjagamu lebih baik dariku....,"


Kenzo menarik tangannya, sesaat tatapan matanya tertuju pada sang devil yang duduk di sofa dengan mata terpejam. Kemudian beralih menatap Tanca yang duduk di depannya. "Dia bodyguard ku, bukan hatiku. Sedangkan kamu hatiku, dan malaikat pelindungku."


"Not now! Pleasee." pinta Kenzo, membuat Tanca memejamkan matanya.


Usapan lembut di pipi dengan sekilas kecupan hangat terasa menyentuh keningnya. Aroma parfum itu masih sama dan selalu meninggalkan bekas.

__ADS_1


"Aku pergi, biarkan malam ini menjadi malam gelapku. Jangan paksa aku mencintai seseorang yang tidak masuk ke dalam hatiku. Istirahatlah!" bisik Kenzo setelah melepaskan kecupan nya di kening Tanca.


Suara langkah kaki yang menjauh, dan pintu terbuka lalu tertutup kembali, membuat tubuh Tanca luruh dari tempatnya duduk. Kamar kedap suara itu menyaksikan isakan tangis seorang wanita di hari pertunangannya.


Aurel yang hanya berpura-pura tidur, berlari mendekati sang kakak.


Greeb.


Satu dekapan dengan bisikan-bisikan agar kakaknya tenang berlangsung cukup lama. Hingga hatinya tak mampu bertahan dan air mata jatuh mengiringi tangisan sang kakak.


"Ka, please. Kita pergi saja, keluarga kita sudah memiliki cukup harta dan rumah untuk hidup tenang. Biarkan semuanya menyelesaikan masalah mereka masing-masing." bujuk Aurel.


Tanca mendongak, lalu mengusap air mata Aurel. Ntah dari mana senyuman manis itu berasal, membuat adiknya bergidik ngeri. Senyuman semanis madu, tapi memiliki makna yang pahit.


"Aku tidak bisa membiarkan monster itu mencapai tujuannya. Tidak akan! Cukup bayiku yang menjadi korbannya." Tanca mengusap air matanya, lalu berdiri dengan bantuan Aurel.


Keduanya berdiri bersama. Tanca berjalan menghampiri meja rias, dimana sebuah cermin memantulkan bayangannya. Tangannya terulur ke arah cermin di depan sana.


"Gaun itu sangat indah. Semua mata terpana dengan wajah itu, senyuman itu, tapi siapa yang melihat rasa sakit di dalam sini?" Tanca menunjuk ke dadanya sendiri. "Tidak seorangpun."


"Ka!" cicit Aurel.


Tanca berbalik menatap adiknya. "Aku rela melepaskan cintaku, tapi bayiku? Tidak. Benar aku melakukan semua ini demi balas dendam, tapi kita tahu kenyataan tak sesederhana itu, Bee. Dia siap melenyapkan bayiku, dan duo K menjadi penghalang terbesarnya saat ini."

__ADS_1


"Tenanglah, Ka. Aku ada bersamamu, kita akan bersatu dan aku berjanji akan selalu menjadi pendukung kakak." Aurel menarik tubuh Tanca ke dalam pelukannya.


"Maafkan, kakak....,"


__ADS_2