Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 122: Part Ending


__ADS_3

Aruna mengambil alih ponsel, lalu mengirim pesan singkat untuk melakukan plan B pada misi terakhir. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Lihat saja si kembar dikuasai emosi. Niat hati ingin membawa sang suami pergi dari tempat persembunyian. Tiba-tiba saja ada yang menodongkan senjata dari arah belakang.


"Angkat tangan kalian!"


Mereka berempat ketahuan. Akan tetapi, Aruna memberikan isyarat gelengan kepala agar tidak melakukan perlawanan. Secara perlahan berdiri, tapi tidak seorangpun menyadari apa yang dilakukan oleh TanCa. Dimana wanita itu menjatuhkan sesuatu, lalu menyampar menggunakan kakinya hingga masuk ke dalam celah batu.


"Jalan!"


Tidak satupun kata yang keluar dari keempatnya. Ntah kenapa seakan serempak memilih diam dan menurut. Aruna dan Bee berjalan di depan dikawal dua pria, sedangkan Keano dan Kenzo di barisan kedua. Mereka memperhatikan bangunan hotel yang terlihat sudah cukup tua.


Begitu pintu hotel utama terbuka untuk menyambut kedatangan mereka. Ekspresi wajah Aruna sudah berubah menjadi dingin tanpa senyuman. Lirikan mata menelusuri setiap sudut dengan memperhitungkan setiap langkahnya. Begitu juga dengan Aurel. Kakak beradik itu seperti dua raga dengan satu pemikiran.


Senyuman sumringah dengan tepukan tangan terdengar menggema di seluruh ruang aula hotel. Yah, para anak buah Lea membawa tawanan ke dalam seperti yang diperintahkan oleh bos mereka. Lihatlah, wanita serakah itu duduk seperti bos besar. Ditemani kedua putri kembarnya.


"Selamat datang, musuhku. Aku kira, otakmu tidak ada. Ternyata salah. Bagaimana rasanya ditawan?" tanya Lea seraya menatap Aruna sinis, tapi yang ditatap hanya diam tak bergeming dengan aura dingin membuat semua orang merasakan adanya perubahan energi disekitar mereka.


Lea bangun, lalu berjalan menghampiri ke empat tawanannya. Sasaran pertama adalah Aurel karena selama ini hanya si Devil yang selalu memblokir usahanya untuk menghabisi duo K. Tatapan mata saling beradu, "Kamu itu bodoh atau apa? Apa kakakmu memberikan banyak uang. Hidupnya terjamin, tapi hidupmu harus berjuang. Ck. Ck. Gabung denganku, maka .... "


"Gabung denganmu?" Aurel terkekeh, sepertinya Lea terlalu banyak minum obat palsu. Hubungan saja dianggap permainan. Jadi, apa manfaatnya jika bekerja sama dengan wanita tidak waras, "Come on, Ibu mertua palsuku. Aku tidak tertarik dengan uang."


"Apa kamu pikir, semua orang berpikiran picik sepertimu? Tidak. Aku rela berkorban karena dia kakakku. Uang bisa memberikan kenyamanan, tapi bukan kebahagiaan. Ups, Aku lupa, hati ibu mertuaku sudah mati," Sambung Aurel menyindir Lea secara terang-terangan, membuat sang ibu mertua palsu menarik pakaian atasnya.


Dua pengawal menjaga tangan Aurel agar tidak memberontak. Sementara Lea semakin kuat menarik pakaian wanita yang berani bersikap kurang ajar dengan tatapan emosi, "Dasar wanita ja .... "


"Shut up! Siapa yang kamu katain jal@ng? HAH."

__ADS_1


Semua mata teralihkan akan suara bentakan yang memekakkan telinga. Lea bahkan sampe terperanjat dan spontan melepaskan tangannya dari pakaian Aurel. Untuk pertama kalinya, Kenzo membentak wanita itu. Selama ini, jangankan berkata dengan nada tinggi. Satu kata kasar pun tidak pernah keluar dari mulut pria itu.


"Berhenti menatapku seperti itu! Apa kamu pikir, setelah aku tahu keburukanmu. Aku sudi menjadikan wanita ular seperti mu sebagai ibuku? Cih. Jangan harap .... "


Amarah yang memuncak, membuat Kenzo mengeluarkan semua kata kasar dan makian. Pria itu tak lagi memiliki rasa kasihan dan kepedulian. Meski sebagai sesama manusia. Terlebih, TanCa tidak menghentikannya. Itu berarti hari ini dia bebas mengungkapkan seluruh isi hati dan pikiran.


Rara dan Rani malah bertepuk tangan melihat perdebatan antara Lea dan Kenzo. Semua umpatan semakin memberikan efek rasa senang pada gadis kembar yang ternyata memiliki kelainan pada tulang kaki hingga dinyatakan tidak bisa berjalan. Keadaan semakin menegang, tapi Aruna memilih menghitung waktu dengan suara jarum dari jam tangannya.


Wanita itu tengah menunggu waktu yang tepat. Dari tempatnya berdiri, ada banyak penjaga yang siap memberikan perlawanan dan perlindungan demi Lea. Jika bergerak satu langkah, bisa jadi keluarganya yang terancam. Disisi lain, sang ibu mertua palsu memiliki senjata asli.


"Aku memang picik, tapi tak lebih buruk dari papa kalian. Hahahha," Suara tawa Lea seperti nenek sihir, "Kenapa menatapku seperti itu? Oh, Aku lupa. Kalian tidak tahu, jika Dion memang ayah kandung. Hahahaha, kalian itu anak haram."


Djuuar!


Lagi, dan lagi. Kehidupan macam apa yang menjadi takdir duo K. Tolong katakan semua rahasia tentang semua masa lalu mereka. Ingin sekali mengeluh, tapi hanya bisa menerima kenyataan yang pahit.


"Sudah?" Aruna bertanya seraya melirik ke arah Lea yang berdiri di depan Aurel, "Jika belum. Lanjutkan! Waktumu hanya satu menit dari sekarang."


Lea bertepuk tangan melangkahkan kaki menghampiri Aruna, "Akhirnya, kamu angkat bicara. Kupikir .... "


"Empat puluh detik, lagi."


"Diam! Aku .... "


"Tiga puluh detik,"

__ADS_1


Peringatan yang diberikan Aruna, membuat rasa frustasi menyerang Lea. Tiba-tiba saja perasaan gugup masuk membelenggu hatinya. Ntah kenapa bisa seperti itu, tapi aura TanCa memang begitu kuat membuat tubuhnya bergidik ngeri. Ada yang salah. Namun, dimana letak kesalahan itu?


"Done. Bee, satu tambah satu," ujar Aruna mengerlingkan mata seraya mengepalkan kedua tangan, sedangkan Lea langsung memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menyerang wanita itu.


Sayangnya, disaat bersamaan terdengar suara tembakan dari arah belakang dan para anak buah Lea terkapar bersimbah darah. Rasa terkejut sang ibu mertua palsu berubah rasa panas yang menyentuh pipinya.


Plaak!


"Tamparan pertama untuk adikku."


Plaak!


"Tamparan kedua untuk adikku."


Aruna bersiap untuk memberikan stempel jari, lagi. Namun ada tangan yang menahannya, ketika menoleh ke samping. Ternyata Keano yang menghentikan, "What?!"


"Tanganmu tidak boleh kotor. Aku sendiri yang akan menghukum wanita ini," kata Keano menggantikan posisi sang istri, percakapan singkat itu justru dimanfaatkan Lea mengambil pisau lipat dari balik sakunya.


Aruna melihat pergerakan wanita itu, lalu tanpa aba-aba mendorong tubuh Keano seraya menahan tangan Lea yang hampir saja menghunus suaminya. Tindakan itu membangkitkan amarah Ano. Bukan karena keselamatan dirinya sendiri, tapi jika terjadi sesuatu pada ibu dari anak-anak.


"Beraninya KAU!"


Pisau yang tergenggam di tangan Lea dibiarkan. Akan tetapi, Ano menggenggam tangan wanita itu. Kemudian memaksakan arah tusukan tepat mengenai perut si ibu palsu. Aruna tercengang karena tindakan suaminya terlalu cepat. Warna merah mengalir bahkan ketika pisau di cabut tanpa permisi.


"Dunia tidak butuh nyawa penuh dosa seperti mu."

__ADS_1


"Bee, bawa mereka pergi. Sekarang!"


__ADS_2