
Nyonya Abizar mengaktifkan earphones di telinganya, lalu berdiri. "Selamat malam, semuanya. Malam ini tidak ada bisnis, melainkan hanya cinta kasih. Semua orang pasti menantikan kabar bahagia. Begitu pula dengan saya. Terimakasih atas kehadiran kalian dalam momen berharga keluarga Abizar. Mari langsung mulai saja acara tukar cincin pewaris Royal Diamond."
"Kenzo Dion Al Abizar, bersama Au....,"
"Hentikan! Tuan Kenzo harus bertanggung jawab atas pelecehan yang dia lakukan!" seru seseorang dari pintu utama ballroom, membuat semua orang berdiri dan menatap ke arah sumber suara si pengacau acara.
Semua tatapan hanya tertuju pada satu makhluk dengan penampilan kontras. Pakaian yang panjang dan menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan syal putih melingkar di lehernya.
"Bukankah itu wanita di TV tadi siang?"
"Eh, iya ya. Itu dia, namanya Via."
"Apa artinya berita tadi siang itu benar?"
Suara bisik-bisik dari satu mulut ke mulut lain mulai menguasai ballroom hotel, membuat Sang devil berdiri dan mengambil mic di atas meja.
Keano menahan Kenzo agar tetap diam di tempat bersama nenek mereka. Sedangkan Sang devil berjalan menuruni panggung dan berjalan menghampiri si pengacau acara malam ini. Langkahnya terhenti di depan Via dengan jarak tiga meter.
"Para hadirin, harap tenang dan silahkan kembali duduk!" ucap Sang devil dengan suara tegasnya. "Kamu, silahkan sampaikan apapun keluhanmu sebelum acara dimulai!"
Mic dilempar ke arah Via, dan di tangkap wanita itu dengan dua tangannya. Sekilas Sang devil bisa melihat sesuatu dari balik syal saat bergoyang akibat gerakan via menangkap mic, membuat senyuman penuh arti terkembang sempurna.
"Anda baik sekali, Nona. Terima kasih." Via menangkupkan kedua tangan sebagai ucapan terima kasih.
Sang devil tidak menjawab, tapi hanya menatap Via tanpa ekspresi. Suasana menjadi hening dan menegangkan.
"Saya Vivian, seorang office girl yang baru hari pertama bekerja sudah mengalami pelecehan. Seperti yang saya katakan di channel TV Geisha beserta bukti visum. Maka, saya ingin menuntut keadilan pada Tuan Kenzo terhormat. Anda seorang pebisnis tentunya memiliki banyak kekuasaan, tapi pelecehan yang Anda lakukan telah menghancurkan masa depan saya. Saya berharap, Anda tidak berpaling dari perbuatan....,"
Prook!
__ADS_1
Prook!
Prook!
Suara tepuk tangan kembali mengambil perhatian seluruh tamu undangan di dalam ballroom hotel. Seorang wanita cantik bergaun pesta motif bunga memasuki ballroom dengan langkah kaki tegas, membuat semua orang terpaku karena wanita itu sangatlah cantik dan anggun.
Nyonya Abizar beserta duo K berdiri dan berjalan meninggalkan panggung menghampiri Sang devil.
Kini semua tatapan terarah pada orang-orang di atas karpet merah bertabur bunga mawar merah. Via masih tenang dengan wajah sedih bermata sendu. Namun, tatapannya terbentur pada wanita yang bertepuk tangan dan rasa takut mulai merasuk ke dalam hatinya.
"Hay, Via. Apa semua isi hatimu masih terpendam?" tanya Tanca tanpa ekspresi.
Via meneguk saliva dengan susah payah. "Non, Saya hanya ingin menuntut keadilan. Lihatlah perbuatan Tuan Kenzo padaku,"
Syal di leher Via dilepaskan, membuat semua mata terbelalak melihat bekas merah yang pasti si pelaku sangat ganas menerkam wanita itu. Tindakan Via justru menarik garis lengkung di bibir Tanca dengan kode mata pada Sang devil.
Sang devil mengangguk, dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedih. Kemudian berjalan menghampiri Via, tanpa kata memeluk wanita itu dengan erat. "Have fun, semoga Tuhan mengampunimu."
"Via, Aku akan memastikan Kenzo bertanggung jawab atas perbuatannya. Kemarilah!" ucap Tanca, membuat tangan Ken mengepal.
Via tertegun sesaat dengan ucapan Tanca. Ntah kenapa terdengar seperti sebuah ancaman, bukannya sebuah kepasrahan karena mengalami kekalahan.
Tanca berjalan mendekati Via lebih dekat lagi, tapi hanya sekedar lewat dan itu sudah cukup menambah tingkat debaran jantung Via.
"Bee, putar ini!" titah Tanca dengan memberikan sebuah flashdisk ke Sang devil.
"Honey!" panggil Ano, membuat Tanca mengedipkan kedua matanya agar yang lain tenang.
Tanca kembali berbalik berhadapan dengan Via, seraya memberikan satu perintah dari earphones di telinganya.
__ADS_1
Suara langkah kaki berlari memasuki ballroom. Sepuluh pria berseragam bodyguard berhenti dan mengepung Via, membuat wanita itu menatap nyalang ke arah Tanca dan keluarga Abizar.
"Semua usahamu, Aku salut Via. Sayangnya, kamu salah sasaran." Tanca menjentikkan jarinya.
Seketika gelap karena lampu dipadamkan, lalu suara dengan layar yang menampilkan pertunjukan panas di putar tanpa sensor kecuali wajah pria yang sibuk bermain peran di atas ranjang remang itu. Wajah Via memucat, pikirannya membantah jika semua rencananya untuk menjebak Kenzo ternyata gagal.
Niat hati ingin lari, tapi tubuhnya sudah di jaga para bodyguard. Video hanya sesaat berganti dengan video lainnya. Bukti dari Via sebagai wanita penghibur beserta beberapa pertemuan dengan pria yang menyewa dirinya untuk menjatuhkan bisnis keluarga Abizar.
Sepuluh menit mampu mengubah hidup Via menjadi buram tak berwarna. Lampu kembali menyala, membuat Tanca berjalan mendekati Via dengan tatapan tajam menusuk.
Plaak!
"Tamparan atas tuduhanmu."
Plaak!
"Tamparan untuk kebodohanmu."
Plaak!
"Tamparan untuk niat jahatmu."
"KAU!" seru Via bersiap membalas tamparan Tanca, tapi tangannya tak bisa digunakan.
"Apa kamu ini tidak punya pekerjaan?! Seorang wanita malam menjual tubuh mereka demi bertahan hidup, tapi kamu?" Tanca menunjuk ke arah pintu ballroom hotel dimana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tongkat.
Bodyguard memaksa Via agar berbalik dan melihat hadiah Nona Angel. Bukan hanya terbelalak, tubuh Via langsung lemas dan ambruk dengan kaki bersimpuh. Tatapan kecewa dari wanita paruh baya itu sungguh menyiksa hatinya. "Ibu....,"
"Sungguh, jika kamu meminta tolong padaku. Akan ku pastikan membawa ibu mu kembali pada pelukanmu." Tanca berjalan melewati para bodyguard dan menghampiri wanita paruh baya di depan sana. "Seorang anak bisa melakukan apapun demi ibu mereka, tapi jangan kamu pikir. Aku tidak tahu alasanmu menjual ibumu. Vio si gadis malam."
__ADS_1
Keheningan kembali terjadi dengan bisik-bisik para tamu. Tatapan yang awalnya ingin membela berubah menjadi benci dan jijik. Belum usai suara bisikan berakhir, Tanca kembali menjentikkan jarinya dan beberapa orang kembali memasuki ballroom bersama seorang pria dalam keadaan terborgol.
"Selamat malam, Tuan Amzar."