
Silahkan tunggu di dalam, Nona! Saya akan selesaikan dua pelanggan terakhir hari ini, mari lanjutkan. Apa pesanan adek manis?" Pak Penjual bunga, membuat satu pelanggannya menunggu di dalam sembari menanti tutup lapaknya.
Lima belas menit kemudian.
Pak penjual bunga masuk ke kedainya. Setelah menutup lapak luar dengan tulisan di tutup. Begitu pintu terbuka sambutan secangkir kopi hitam sudah ada di atas meja tempatnya beristirahat. Sedangkan wanita yang menunggu di dalam sibuk memainkan satu bunga mawar merah berduri.
"Kenapa, Anda kesini?" tanya Penjual bunga duduk di kursinya seraya menatap wanita yang berdiri di seberang meja.
Wanita bergaun biru meletakkan bunga mawarnya di atas meja seraya menari satu kursi, lalu duduk dengan santainya. "Apa Anda siap bertemu kedua putra kesayangan....,"
"Sanggup." jawab penjual bunga dengan lelehan air mata.
Melihat rasa haru bercampur sedih pria paruh baya yang seusia papanya sendiri, membuat wanita itu mengulurkan sapu tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih." Si penjual bunga menerima sapu tangan itu untuk menghapus air matanya.
"Aku hanya bisa menjadikanmu sebagai supir pribadi si kembar. Pasti kamu tahu situasi saat ini 'kan? Ku harap kamu bisa bekerja sama dengan kami." jelas wanita itu jujur dengan kedua tangannya bertautan di atas meja.
"Apapun untuk kedua putraku. Kenapa, nona sendiri yang kemari? Kemana nak Runa?" tanya Si penjual bunga dengan khawatir.
"Ka Runa masih istirahat karena insiden kecil yang menimpanya." Aurel menghela nafas panjang akan posisinya yang serba salah.
Satu sisi harus fokus dengan berbagai jadwal pekerjaannya, dan disisi lain hati serta pikirannya tidak bisa diajak kompromi. Sorot mata lelah dengan helaan nafas Aurel, membuat si penjual bunga bangun. Lalu memberikan usapan lembut di pundak wanita itu.
"Paham, boleh aku tanya sesuatu?" tanya si penjual bunga.
Aurel mengangguk.
__ADS_1
"Apa kalian sungguh-sungguh ingin menikah dengan putraku?" tanya si penjual bunga, membuat Aurel memejamkan matanya.
Jika bukan karena keputusan mutlak sang kakak. Sudah pasti dirinya tak ingin bertahan di dalam keluarga Abizar yang penuh tipu muslihat dan harus pandai menjaga diri. Akan tetapi apapun yang tersimpan di dalam hati dan pikirannya. Tidak seorang pun boleh tahu, apalagi sampai memahami seluruh kisah dalam hidupnya bersama sang kakak.
"Aku tahu si kembar putra Anda, tapi jangan pernah lupakan dimana tempat kita semua berpijak." Aurel bangun dari tempat duduknya, lalu berdiri berhadapan dengan si penjual bunga.
Tatapan mata keduanya saling terpaut. Beberapa saat hanya ada keheningan hingga suara sering ponsel mengalihkan perhatian Aurel. Ia membuka kunci layar, lalu menggeser icon hijau untuk menerima panggilan telepon. Belum sempat memberikan sapaan. Akan tetapi suara dari seberang membungkam bibirnya.
Wajah dingin dengan seringaian menghadirkan aura tak mengenakkan. Ntah apa yang dikatakan orang di ujung telepon sana, tapi ekspresi Aurel seperti singa betina siap mencabik mangsanya. Hal itu membuat si penjual bunga mengundurkan diri untuk bersiap. Sebelum ikut terkena dampak buruk tanpa melakukan kesalahan.
Aurel sengaja mengubah ekspresi wajahnya agar pria paruh baya itu pergi dari hadapannya. Setelah memastikan hanya seorang diri di dalam ruangan itu, Aurel menghilangkan seringaian dari bibirnya. "Done! Lanjut rencana kedua."
Panggilan diakhiri, baik Aurel maupun sang penelpon bernafas lega. Tidak akan ada yang menyangka apa yang akan terjadi nanti, karena setiap langkah sudah diperhitungkan dengan matang. Sang perencana sudah memulai aksinya dalam hembusan angin dan tenggelam dalam keheningan.
__ADS_1
"Let's start." gumam Aurel seraya meraih mawar di atas meja lalu mematahkannya tanpa peduli tusukan duri yang menancap di telapak tangannya.