
Masih banyak bisikan lain dari para awak media yang bingung diundang dalam rangka apa. Hingga semua orang mengalihkan perhatian mereka. Disaat pintu aula terbuka, dan sebuah langkah memasuki aula dengan langkahnya yang anggun.
Seorang wanita bergaun biru laut dengan blazer putih panjangnya. Kacamata hitam, masker yang menutupi wajahnya, rambut tergerai, dan cincin berlian yang paling menonjol memancarkan kemewahan.
"Dia....,"
"Selamat datang Nona Aurel. Silahkan duduk di tempat Anda! Semua awak media telah menanti konferensi pers untuk berita terbaru pewaris Royal Diamond Company." Sang MC yang sejak awal gugup tiba-tiba saja lancar jaya menyambut kedatangan tunangan salah satu Tuan Muda dari keluarga Abizar.
Langkah anggun seorang Aurel menghampiri kursi yang sengaja di khususkan untuk dirinya. Seorang bodyguard yang berjaga di ujung bergegas menghampiri wanita itu, lalu menarik kursi.
"Silahkan, Nona."
Aurel membalas sang bodyguard dengan senyuman tipis seraya duduk. Kini wanita itu berhadapan dengan para awak media. Tanpa menunda acara. Aurel memberikan menjentikkan jarinya sebagai tanda agar konferensi pers dimulai.
"Siang, semuanya." Aurel menyapa para awak media dengan senyuman hangat. "Saya Aurel calon istri Tuan Muda Kenzo Dion Al Abizar. Pasti banyak yang mengenal saya setelah pesta pertunangan satu minggu lalu....,"
"Maaf, Nona Aurel. Saya menyela penyambutan yang Anda lakukan, tapi kemana anggota keluarga Abizar yang lainnya? Setidaknya calon suami Anda harus ikut menghadiri konferensi pers kali ini! Apa mungkin mereka ketakutan? Setelah berita ibu kandung si kembar terungkap." Seorang wartawan lancang menyela ucapan Aurel tanpa rasa takut.
__ADS_1
Runtutan pertanyaan sang wartawan dengan kemeja biru tua lusuh itu, membuat semua mata hanya tertuju ke depan dengan puluhan kamera live show. Aurel terlihat sangat tenang. Meskipun salah satu wartawan menyudutkan dirinya beserta keluarga Abizar. "Sepertinya, kalian tidak sabaran untuk mengeluarkan umpatan, makian dan juga cercaan. Baiklah. Silahkan tanyakan, dan puaskan rasa penasaran kalian! Lima belas menit, tidak lebih!"
Situasi semakin menegangkan. Ada bisik-bisik di barisan belakang. Ada pula yang berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengajukan pertanyaan. Hingga Aurel memberikan kode jari pada MC agar mengatur jalannya konferensi pers.
"Para hadirin sekalian. Silahkan angkat tangan! Jika ada pertanyaan." Sang MC memandu acara dengan cucuran keringat dingin.
"Yah, kamu! Apa ada pertanyaan?" tanya MC menunjuk ke wanita berbaju merah maroon yang ragu meneruskan mengangkat tangannya.
Wanita itu terlihat gugup, tapi tetap berdiri seraya meremas ujung bajunya. "Perkenalkan nama ku Izzi dari channel Gempita. Aku ingin bertanya, apa alasan seorang anak tak menganggap ibu kandungnya? Sebagai seorang wanita, dan melihat ketidakadilan di depan mata. Aku tidak terima ketika pengakuan Nyonya Lea terungkap ke publik. Terlebih seorang ibu akan tetap menjadi ibu. Lalu, apa alasan Tuan Muda Abizar membenci ibu mereka sendiri? Itu saja pertanyaan ku. Terima kasih."
Seorang pria berkacamata mengangkat tangannya, lalu berdiri dengan membenarkan kacamatanya yang melorot. "Aku tidak akan basa-basi. Sebagai seorang anak, aku menyayangkan sikap pewaris tahta bisnis Royal Diamond Company. Ups, salah. Mereka berdua bukan anak sah yang memiliki darah marga Abizar. Apa harta membutakan kedua anak muda itu? Jika iya, bukankah seharusnya Nyonya Abizar mengusir para penipu yang berniat hidup enak tanpa kerja keras....,"
Prook!
Prook!
Prook!
__ADS_1
Aurel bertepuk tangan, dan itu sukses mengalihkan perhatian semua orang. Tatapan mata dingin tanpa satu garis senyuman yang menghiasi bibir merah alami, membuat ketenangan.
"Rupanya semua orang hanya menyukai gosip. Benar 'kan?" tanya Aurel santai.
"Apa yang kalian pikirkan, dan juga yang kalian rasakan. Itu hak kalian. Baik aku, keluarga kalian, teman, sanak saudara, tidak ada yang bisa mengaturnya. Saat ini, semua berpikir Lea benar, dan kami salah. Iya, tidak?" sambung Aurel.
''Anda terlalu berputar-putar dan tidak berniat menjelaskan pada kami. Apa tujuan konferensi pers dadakan kali ini?" Sang wartawan kemeja biru tua lusuh membalas Aurel.
"Kakak wartawan. Tolong jaga sikap!" MC memperingatkan pria itu agar tahu posisi dan tempat, memang benar wanita yang mengadakan konferensi pers masih terlihat santai, tenang dan kalem.
Sang wartawan menunjukkan jarinya ke Aurel. "Dia saja diam. Kenapa aku harus ikut diam? Kita disini ingin mengetahui bagaimana dua anak tidak sah bisa menjadi pewaris....,"
"STOP!" Aurel berdiri, lalu berjalan memutari meja.
Semua orang mengikuti langkah Aurel dengan tatapan penasaran, dan jantung berdetak cepat. Hingga wanita bergaun biru itu berhenti di depan Sang wartawan yang sangat lancang berbicara tanpa perasaan.
"Apa kamu pikir, Lea benar dan yang lain salah?" tanya Aurel seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1