
Sapaan pagi dengan senyuman manis di bibir pria itu, membuat sang wanita ikut tersenyum. "Morning too."
"Mau sarapan bersama?" tanya pria itu dengan menyibak selimut yang menutupi keduanya.
Sang wanita mengedipkan mata seraya mengulurkan kedua tangannya, membuat pria itu bangun lalu menggendong wanitanya yang bersikap manja.
Langkah kaki berjalan menuju pintu kamar, membuat sang wanita berpikir sejenak. "Mau kemana, kita?"
"Kita akan sarapan bersama di bawah, bersama yang lain. Tidak apa 'kan?" tanya sang pria menghentikan langkah kakinya sebelum membuka pintu kamar.
Tanca tersenyum, dan mencubit pipi prianya gemas. "We can breakfast together, Ano." (Kita dapat sarapan bersama, Ano.)
Jawaban Tanca, membuat Ano tersenyum manis. Lalu, dengan kode mata pintu dibuka Tanca yang kini berada di dalam pelukannya. Keduanya menyusuri lorong hotel, menuju lift terdekat.
"Turunkan, Aku!" pinta Tanca, membuat Ano menurut tanpa bantahan.
__ADS_1
Tombol lantai dasar ditekan, setelah keduanya memasuki lift. Ano merengkuh pinggang Tanca agar masuk kedalam dekapannya. Suasana lift yang sepi, membuat pria itu sedikit mencuri kesempatan untuk bermesraan dengan tunangannya.
"Ano, hentikan... Emmppt."
Bibir tanpa pewarna itu disambar dan tenggelam dalam pagutan manja sang kekasih hatinya. Ano menekan tengkuk leher Tanca, pagutan semakin dalam dan liar. Hingga pintu lift perlahan terbuka, keduanya masih menikmati pertarungan lidah dengan mata terpejam.
"Ekhem!"
Tanca melepaskan pagutan, seraya mengusap bibirnya yang basah akibat ulah Ano. Sedangkan Ano menatap keluar lift. Dimana pria dengan wajah yang sama memalingkan wajahnya dengan pipi memerah. "Ken!"
"Semua orang menunggu kalian. Cepatlah!" ucap Kenzo dan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri.
Tanca dan Ano saling pandang dengan helaan nafas panjang. Tatapan serius keduanya menjelaskan isi hati yang berkecamuk.
"Kita bisa hadapi ini. Bagaimanapun kehidupan memberikan rintangan nanti. Jangan pernah tinggalkan saudaramu, berjanjilah?!" Tanca mengulurkan jari kelingkingnya, membuat Ano menatap wanita itu dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa, kamu ingin meninggalkan kami?" cetus Ano spontan.
Tanca memberikan kode mata agar Ano menyambut janji jari kelingkingnya. Bukannya menerima, tapi pria itu memilih keluar dari lift. "Ayo, kita harus bergegas!" uluran tangan Ano lakukan.
Aku tidak berharap banyak dari kalian berdua, tapi aku tidak ingin hubungan persaudaraan kalian hancur. Apapun yang akan ku lakukan, pasti ada hati yang terluka. Semoga saja semua seperti rencanaku. ~batin Tanca menerima uluran tangan Ano dan keduanya meninggalkan lift, kemudian berjalan menuju Cafe di dalam hotel Kencana.
Hembusan angin terasa segar menyejukkan menerpa wajah keduanya. Cafe dengan tema outdoor menjadi andalan hotel Kencana. Deretan kelompok meja dengan kursi yang tertata di atas hamparan rumput hijau, dan empat pendopo di keempat arah mata angin. Penataan yang rapi dan membentuk seperti baling-baling itu, mengesankan terobosan baru.
Dari arah pendopo timur, lambaian tangan menyambut Tanca dan Ano agar datang menghampiri mereka. Langkah keduanya semakin mendekat, tapi dari arah barat seorang pelayan yang membawa nampan berjalan tanpa melihat karena nampan dengan menu yang menutupi wajahnya. Ano bergegas menarik tubuh Tanca masuk ke dalam dekapannya, lalu berputar searah jarum jam hingga tabrakan bisa dihindari.
Duug!
Pyaaar!
Keributan yang terjadi, membuat semua pengunjung cafe berjalan ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Maafkan, Saya, Tuan." ucap si pelayan menundukkan kepala dengan tangkupan tangan di dadanya.