Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 46: Kita ini Saudara - Monster itu


__ADS_3

Tanca berbalik menatap adiknya. "Aku rela melepaskan cintaku, tapi bayiku? Tidak. Benar aku melakukan semua ini demi balas dendam, tapi kita tahu kenyataan tak sesederhana itu, Bee. Dia siap melenyapkan bayiku, dan duo K menjadi penghalang terbesarnya saat ini."


"Tenanglah, Ka. Aku ada bersamamu, kita akan bersatu dan aku berjanji akan selalu menjadi pendukung kakak." Aurel menarik tubuh Tanca ke dalam pelukannya.


"Maafkan, kakak....,"


Aurel melepaskan pelukan, lalu menangkup wajah kakaknya dengan tatapan lembut. "Jangan pernah minta maaf padaku, ka. Kita ini saudara, duniaku menjadi berwarna sejak tahu memiliki seorang kakak. Tapi, hatiku hancur ketika melihatmu terluka. Kita ada untuk saling melengkapi. Kakak ingat itu 'kan?"


Tanca menggenggam tangan Aurel dengan kedipan mata. "Iya, Bee. Kita ada untuk saling melengkapi, seperti matahari dan bulan."


"Sekarang apa rencana kakak?" tanya Aurel.


Tanca berjalan menuju tirai putih.


Sreek!


"Biarkan malam berlalu berganti pagi. Tugasmu menjaga Ken telah dimulai! Kita tahu, jika Dion ingin tahta bisnis Royal Diamond, dan itu menjadi tujuan utamanya. Sedangkan di sisi lain ada wanita itu, istri sekaligus ibu si kembar," Tanca menarik nafas dan melipat kedua tangannya di dada. "Lea, sejauh yang kutahu. Wanita itu buta akan cinta suaminya, ntah dia tahu kebusukan Dion atau tidak. Bagaimana penyelidikan mu?"


"Hasilnya cukup bagus, Ka. Lea tahu tabiat Dion, tapi ntah apa alasan wanita itu tetap bertahan. Baru-baru ini, aku mendapatkan informasi jika Dion memiliki rahasia." jawab Aurel menghampiri kakaknya, dan berdiri disebelah Tanca sembari menatap keluar jendela, dimana hanya ada cahaya lampu kota.


"Kamu ingat apartemen yang menjadi tempat Dion party? Bagaimana dengan tempat itu? Apakah semua informasi sudah ada buktinya?" tanya Tanca.


Aurel memainkan jemarinya. "Soal itu, delapan puluh persen bukti sudah ku dapatkan. Apa kakak mau menyerahkan semuanya ke nyonya Abizar?"


Tanca menggelengkan kepalanya. "Jangan sekarang. Biarkan monster itu berpikir semua usahanya berjalan lancar. Kita cukup bermain di balik layar, dan jangan lupakan si kembar harus menjauh dari jebakan papa mereka sendiri."

__ADS_1


"Kaa, mau sampai kapan kita bermain petak umpet? Semua orang tidak tahu jika kita bersaudara....,"


Tanca berbalik menghadap Aurel, tangannya mengusap kepala sang adik. "Apa jaminannya kita berdua selamat? Kita memasuki dunia seorang monster, mana bisa aku menyodorkan tanganku dengan suka rela. Biarkan ikatan darah ini menjadi rahasia, Bee. Ingatlah tujuan kita bukan tentang harta tapi tentang nyawa."


Huft!


"Baiklah. Kapan kakak akan pulang?" tanya Aurel mengalihkan perbincangan.


Hening.....


"Ka!" panggil Aurel setelah keheningan selama lima belas menit dengan tatapan saling terpatri.


"Kamu putri mereka, dan aku hanya anak angkat. Sudahlah, jangan mengubah topik." ujar Tanca meninggalkan Aurel, langkahnya memilih menuju kamar mandi.


Aurel termenung. Ada rasa takut yang membelenggu jiwanya. Kehidupan seakan tak berniat memberikan kebahagiaan sejati. Di satu sisi mimpinya hanya keharmonisan sebuah keluarga, tapi itu hanya menjadi mimpi belaka.


Triiing!


Triiing!


Suara ponsel mengalihkan perhatiannya. Tangannya mengambil benda pipih yang bersemayam di balik gaun, satu nama tertera. "A.1."


[Malam, MD] ~sapa dari seberang.


"Katakan!" titah Aurel dengan suara tegasnya.

__ADS_1


[Kami menemukan bukti baru, mau dikirim ke markas atau di tempat lain?] ~ lapor dari seberang.


Ceklek!


Tanca keluar dari kamar mandi seraya mengelap wajahnya dengan handuk kecil, membuat Aurel terdiam sesaat.


"Ada apa, Bee?" tanya Tanca melemparkan handuk ke atas ranjang, lalu berjalan menghampiri Aurel.


Aurel mengulurkan ponselnya, membuat sang kakak menaikan satu alis dengan tatapan tanda tanya. Ponsel diterima, satu sentuhan di layar menunjukkan siapa yang menelpon adiknya itu.


"Katakan!" titah Tanca dengan ponsel di loudspeaker.


Perbincangan mereka, membuat wajah yang awalnya tegang berakhir dengan senyuman. Selama setengah jam pertukaran informasi dilakukan.


Tuut!


Tuut!


"Sekarang bagaimana, Ka?" tanya Aurel meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kamu cukup fokus jaga Kenzo, Bee!Sementara si monster akan menjadi urusanku." jawab Tanca.


"Ka!" protes Aurel.


"Tidak kali ini, Bee. Jangan gegabah!" tegas Tanca menatap serius adiknya.

__ADS_1


Aurel mencebikkan bibir, keputusan kakaknya sungguh tidak adil. Namun, jika melawan. Bisa dipastikan akan ada masalah baru tanpa disadari.


"Lalu, apa kakak akan bantu Ken untuk memperjuangkan posisi Lea?"


__ADS_2