
Sedangkan di dalam mansion. Semua sudah duduk di sofa ruang tamu dengan wajah tegang. Pembicaraan serius baru saja berakhir.
Ceklek!
Suara pintu terbuka, membuat penghuni ruang tamu menatap ke arah pintu. Langkah keduanya berjalan beriringan dengan gandengan tangan. Keano menatap pemandangan itu sesaat lalu menundukkan wajahnya.
Maafkan, Aku. Andai kita bukan saudara kembar, tapi hubungan tidak mungkin berubah. Kenapa jadi seperti ini? Semoga saja saudaraku siap menerima kenyataan baru.~batin Keano.
"NA, Ken duduklah!" Nyonya Abizar menunjuk ke arah sofa di seberang meja kayu.
Tanca melepaskan tangannya, dan memilih mendekati sang devil berdiri di belakang Nyonya Abizar. Sedangkan Ken memilih duduk berseberangan dengan Ano di sofa single. Sudah pasti kekecewaan melekat di hatinya, membuat duo K seperti tengah bertengkar.
"Ken, Ano. Pertunangan kalian dimajukan malam ini....,"
"WHAT'S?!" seru Ken langsung berdiri menatap neneknya dengan tatapan tidak percaya.
Nyonya Abizar menghela nafas, "Tidak ada bantahan. Kalian harus bertunangan malam ini!"
__ADS_1
Tanca mengangkat tangan dengan gelengan kepala ke arah Kenzo agar pria itu tidak membantah neneknya.
Braak!
Kenzo menendang meja sekuat tenaga hingga meja itu terbalik. Wajah yang normal sudah kembali memerah menahan amarah yang kembali tersulut. Melihat itu Ano bergegas menghampiri saudara kembarnya lalu merengkuh tubuh Ken masuk kedalam pelukannya.
"Ken, stop it! Kendalikan amarahmu....,"
Kenzo melepaskan tangan Ano, lalu mendorong saudara kembarnya itu hingga terjerembab ke sofa. "Aku tidak butuh kasihan mu! Kamu puas kan bisa menjadi pendamping Tanca?!"
Untuk pertama kalinya duo K bertengkar hebat, membuat nyonya Abizar memegang dadanya yang terasa sesak. Tanca bergegas menghampiri nyonya Abizar dengan segelas air putih.
Sang devil bergegas ke ruangan penyimpanan obat, sedangkan duo K langsung teralihkan dengan kepanikan wajah Tanca. Ano tidak masalah dengan kemarahan Ken karena dia tahu benar saudaranya itu tengah dalam lepas kontrol emosinya.
"Stop!" titah Tanca.
Tanca menghentikan langkah duo K agar tidak mendekat. "Mami, tarik nafas perlahan lalu buang nafas perlahan. Ikuti aku!"
__ADS_1
Tanca memberikan contoh dan diikuti nyonya Abizar. Perlahan deru nafas dengan wajah pucat kembali normal. Sang devil berlari dengan satu botol obat tergenggam di tangan kanannya.
"Ini obatnya." ucap Sang devil.
Tanca menerima obat lalu mengambil satu kapsul. "Minumlah, Mami."
Nyonya Abizar menerima obat dan menelan obatnya lalu meneguk air putih dari tangan Tanca. Sedangkan duo K diam membeku di tempat karena tatapan tajam Tanca.
"Bee, antar Mami ke kamar!" Tanca membantu nyonya Abizar bangun, dan menyerahkan ke Sang devil agar di jaga.
"Kalian pergilah! Jika malam ini kalian membuat kekacauan. Jangan harap kalian melihat wajahku lagi."
Duo K terkejut, bagaimana bisa wanita yang selalu bersama mereka selama dua belas tahun memberikan ultimatum perpisahan? Berita skandal, dan pertunangan saja sudah menggoyahkan pondasi hati. Lalu sekarang akan ada perpisahan. Tidak, itu tidak boleh terjadi!
Tanpa menunggu jawaban. Tanca meninggalkan duo K yang berdiri seperti patung dengan wajah pucat pasi. Bibir kedua pria itu kelu, otot-otot pun melemah hingga tubuh keduanya ambruk dengan tatapan putus asa.
"Katakan padaku! Semua yang kudengar itu tidak benar 'kan?" tanya Ano dengan menatap nanar ke arah tangga dimana Tanca masih menapaki tangga satu persatu.
__ADS_1
Kenzo memegang dadanya sendiri. Detak jantungnya bahkan sudah terlampau cepat. Pendengaran yang jelas, tapi terasa seperti ledakan bom. Keano mengalihkan tatapan matanya ke arah Ken, tapi...
"Kenzo!"