
Ini laporan lengkapnya." ujar dokter Naumi menyerahkan map putih ke Tanca.
"Mahkota berbingkai duri." Tanca membawa judul map di tangannya dengan melirik dokter Naumi tajam.
Gleek!
Dokter Naumi meneguk saliva nya dengan susah payah. Aura yang terpancar jelas aura intimidasi seorang Aruna si gadis dingin. "Runa, please jangan tatap aku begitu."
"Hmm." balas Tanca dan membuka map, fokusnya teralihkan.
Wajah Runa terlihat tegang dengan keringat dingin, setelah membaca map beberapa menit. Dokter Naumi mengambil segelas air putih, dan memberikan pada Tanca.
"Apa semuanya sudah lengkap?" tanya Tanca meletakkan map di pangkuannya, dan menerima gelas lalu meneguk air putih itu dalam sekali minum langsung tandas.
"Ini sangat beresiko, Runa. Please lakukan operasi mu dulu, baru lanjutkan misimu!" pinta dokter Naumi memelas.
"No! Pewaris harus dilahirkan sebelum semuanya terlambat." Tanca mengusap perut ratanya. "Nau, jalan tujuanku baru terbuka. Aku menunggu semua ini hampir tiga tahun. Jangan halangi aku, tapi dukung aku dan lakukan seperti perintahku! Kamu paham?"
Dokter Naumi pasrah dengan keputusan Aruna. Bagaimanapun dirinya hanya bisa memberikan nasehat, meskipun kenyataannya seperti berbicara dengan tembok.
"Kirimkan semua laporan yang ku inginkan ke markas! Jangan lupa dengan nama file nya harus sama semua." Tanca menunjuk jarinya ke tulisan *Mahkota berbingkai duri* di atas map di pangkuannya.
"Kamu tidak marah dengan nama file itu?" tanya Dokter Naumi penasaran.
Tanca tersenyum tipis, lalu menatap dokter Naumi serius. "Bukankah itu kode ku? Lagipula, hidupku memang sama seperti mahkota diatas kepala seorang putri. Namun, siapa saja yang mendekati ku bisa tertusuk duri tanpa mereka sadari. Kamu tahu hal ini dengan pasti, Nau."
__ADS_1
Dokter Naumi mengangguk membenarkan ucapan Tanca.
"Oh ya, Nau. Apa penyelidikan obat terlarang di gudang Han Yuan sudah selesai?" tanya Tanca yang mengingat pekerjaan dua bulan lalu, membuat dokter Naumi menggelengkan kepala karena tidak habis pikir.
Sudah jelas wanita di atas brankar tengah menahan rasa sakit, tapi masih saja memikirkan pekerjaan. Dia itu manusia bukan robot. Tetap saja menghandle pekerjaan terlalu banyak hingga lupa waktu dan kesehatan sendiri.
Tanca mengangkat tangan, lalu menjentikkan jarinya di depan dokter Naumi. "Nau!"
"Eh, co-pot." latah dokter Naumi terkejut karena justru sibuk melamun.
Tanca memberikan kode mata, membuat dokter Naumi salah tingkat. "Akan ku kirim semua file penyelidikan ke markas, dan semua akan ku berikan nama *Mahkota berbingkai duri*. Hanya saja, keraguanmu memang benar soal monster itu."
Tanca menaikkan satu alisnya, kini tatapan matanya lebih serius dan menusuk.
"Begitu, ya? Sel nomor berapa?" tanya Tanca.
"Penjara pusat, sel B." jawab dokter Naumi spontan.
"Kirimkan saja semua file, dan aku akan cari tahu sendiri sisanya!" titah Tanca seraya turun dari brankar.
"Runa! Kenapa bangun?" Dokter Naumi bergegas memutari brankar dan menahan tubuh Tanca yang masih saja belum stabil.
Tanca berhenti sejenak, lalu melepaskan tangan Naumi yang memegang kedua tangannya agar tidak oleng dan terjatuh.
"Aku harus kembali. Katakan saja pada duo K, jika aku hanya memerlukan istirahat sehari." Tanca merangkul pundak dokter Naumi.
__ADS_1
Dasar keras kepala! Haruskah ku mandikan kembang tujuh rupa dulu? Andai bukan sahabatku, sudah pasti ke gantung saja. ~batin Naumi membantu Tanca berpindah ke kursi roda.
"Nau, bibirmu bisa maju jika mengumpat di dalam hati seperti itu." tukas Tanca, membuat dokter Naumi mencebik masa bodo.
Pertemuan dokter Naumi dan Tanca menjadi perbincangan panjang kali lebar. Sementara di taman rumah sakit, duo K hanyut dalam keheningan.
"Keano!" panggil Ken memutuskan untuk memulai perbincangan.
Ano melirik saudaranya sesaat, lalu kembali menatap bunga sepatu di depan sana.
"Apa ada masalah yang tidak aku ketahui? Kenapa sikapmu sangat aneh? Kita berdua sama-sama tahu, jika Tanca bisa menyelesaikan semua masalah dengan satu jentikan jari....,"
"Bagaimana perasaanmu atas pertunangan semalam, Ken?" Keano menggeser posisi duduknya, dan menghadap ke atau saudaranya itu.
Kenzo melakukan hal sama, kini keduanya saling berhadapan.
"Aku....,"
...****************...
Thanks for all support 🥰
Happy Reading Readers 📖
Stay tuned, 😌
__ADS_1