Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 72: PENAMPILAN? - SYARAT!


__ADS_3

Panggilan diakhiri, baik Aurel maupun sang penelpon bernafas lega. Tidak akan ada yang menyangka apa yang akan terjadi nanti, karena setiap langkah sudah diperhitungkan dengan matang. Sang perencana sudah memulai aksinya dalam hembusan angin dan tenggelam dalam keheningan.


"Let's start." gumam Aurel seraya meraih mawar di atas meja lalu mematahkannya tanpa peduli tusukan duri yang menancap di telapak tangannya.


Setelah menunggu satu jam. Akhirnya si penjual bunga kembali menghampiri Aurel dengan menenteng satu tas jinjing merah. Penampilan yang berubah menjadi lebih segar, tanpa kumis dan juga jenggotnya. Aurel menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki pria paruh baya yang kini menjadi calon ayah mertuanya.


"Apa yang Anda lakukan?" Aurel menepuk keningnya, setelah melihat perubahan wajah calon ayah mertuanya.


Si penjual bunga bingung, kenapa Aurel tidak menyukai tindakannya. Bukankah memang merapikan penampilan menjadi lebih baik itu bagus, ya?


"Apa Anda mau di tangkap monster lagi? Aku tahu, Anda papa si kembar, tapi disana bukan tempat reuni. Melainkan tempat menyamar, dan Ka Runa mengizinkan Anda datang demi keselamatanmu. Bukan karena hal lain." jelas Aurel panjang kali lebar.


Mendengar hal itu, membuat si penjual bunga sadar akan tindakannya yang salah. Mungkin efek bahagia karena akhirnya bisa bertemu sang buah hati. Justru menjadi reaksi berlebihan. Meskipun tidak ada kata berlebihan dalam pertempuran orang tua dan anak. Terlebih setelah sekian lama tak berjumpa.

__ADS_1


Helaan nafas dalam terdengar memecah keheningan. "Okay, kita pergi! Soal penampilan, aku akan lakukan sesuatu nanti. Ayo! Jangan lupa kunci kedai Anda."


"Tunggu lima menit, Aku akan keluar." balas si penjual bunga mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Anggun, wanita itu keluar dari dalam kedai terlebih dahulu.


Meninggalkan Aurel yang kini tengah menanti calon ayah mertuanya. Di tempat lain. Seorang pria memberikan tatapan pertanyaan menghujam wanita di depannya. Tidak ada rasa takut, apalagi merasa terintimidasi. Wanita itu justru memejamkan mata dengan bibir terkunci rapat.


"Sampai kamu menjelaskan, aku tidak akan pergi dari hadapanmu." Pria itu ikut menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu yang diambil dari depan meja kerja.


"Please, come on honey. Aku tidak bisa membiarkan rahasia menjadi tumpukan kesalahpahaman diantara kita." ucap Ano seraya meraih tangan Tanca, membuat wanita itu membuka mata.


Tatapan Tanca dan Ano saling beradu, tidak ada yang mau mengalah. Hingga beberapa saat hanya ada perang mata, semakin dalam tatapan keduanya. Justru semakin dipenuhi pertanyaan dan keraguan.


"Ano, kebenaran itu terlalu pahit. Aku tidak mau rasa benci di hatimu semakin besar. Jadi lupakanlah." pinta Tanca.

__ADS_1


"No! Sepahit apapun, kebenaran itu masih menyangkut hidupku. Bukankah aku berhak tahu?" Ano masih kekeh ingin mengetahui rahasia yang tersembunyi di dalam rumah keluarga Abizar.


Tanca terdiam. Pikiran dan hatinya tak ingin mengatakan apapun di waktu yang tidak tepat, tapi Ano tidak akan bisa menerima keputusannya. Terlebih setelah melihat sisi lain Lea dengan mata kepalanya sendiri.


"Okay, Aku akan katakan rahasia Lea, tapi ada syaratnya." putus Tanca setelah memikirkannya dengan matang.


"Apa syaratnya? Ini bukan trik untuk menghindari kebenaran 'kan?" tanya Ano waspada.


Tanca membalas genggaman tangan Ano, lalu tersenyum. "Promise is a promise, and not to be betrayed." (Janji adalah janji, dan tidak untuk dikhianati.)


"Tell!" ucap Ano tanpa ragu.


"Izinkan, Aku membawa papa kalian masuk ke rumah ini! Itu syarat ku, bagaimana? Deal?!" Tanca melepaskan genggaman tangannya, lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

__ADS_1


__ADS_2