
Tap!
Tap!
Tap!
"Ano, bantu aku berikan obat ini pada Ka Runa!" titah Aurel serius, membuat pria yang masih tak paham apapun hanya bisa menurut.
Sebelum obat diberikan. Aure melirik ke arah luar kamar. Dimana pintu masih terbuka. "Masuk, lalu tutup pintu!"
Ucapan Aurel, membuat Ano mengalihkan perhatiannya sesaat. Dimana pintu terbuka semakin lebar hingga seorang pria paruh baya dengan kumis lebat dan penampilan lusuh melangkah masuk ke dalam kamar Tanca. Netra mata hitam memancarkan kerinduan.
"Siapa dia?" tanya Ano yang tak bisa mengalihkan perhatiannya dari pria yang kini berdiri di depan pintu tertutup.
Aurel tak menggubris pertanyaan Ano, dan memilih fokus membantu sang kakak meminum obat. Setelah memastikan kakaknya mulai kembali bernafas normal. Barulah fokusnya dapat terbagi-bagi. Sementara Tanca yang mulai membuka mata bisa melihat tatapan anak dan ayah tengah saling beradu melepaskan rasa rindu.
"Ekhem!" dehem Aurel memutuskan kontak mata antara Ano dan pria di depan pintu.
"Pergilah! Temui papamu." ucap Tanca lirih, sontak mendapatkan tatapan pertanyaan dari Ano. "Dia papamu, Michael."
__ADS_1
Pria paruh baya di depan pintu merentangkan kedua tangannya dengan tatapan penuh kerinduan berharap sang putra mau menerima kehadirannya. Melihat itu, Ano bangun lalu berjalan perlahan menghampiri Michael. Senyuman tulus tersungging, tatapan seorang ayah yang selama ini tidak pernah didapatkan begitu menyentuh hati.
"Keano Dion Al Abizar." Ano mengulurkan tangan kanannya setelah berdiri di depan sang papa kandung.
Perkenalan putranya dengan marga, membuat Ia tertegun sesaat. Namun, kesadarannya kembali. Sang putra tidak salah menyebutkan nama karena itu memang identitas yang selama ini di sandang. Tak ingin menjadikan pertemuan pertama sebagai kesan buruk. Maka dirinya memilih menyambut uluran tangan Ano, lalu memberikan pelukan seorang ayah.
"Maafkan, Papa." bisik Michael seraya mengeratkan pelukannya, membuat Ano membalas pelukan itu dengan memejamkan mata menikmati rasa hangat kasih sayang seorang ayah.
Pemandangan pertemuan pertama kali ayah dan anak, tak luput dari tatapan lega kedua wanita di atas ranjang.
"Ka, bagaimana dengan Ken?" tanya Aurel lirih.
"Masalah apa, Ka?" tanya Aurel masih dengan nada lirih agar dia pria yang tenggelam dalam pertemuan tidak terganggu.
"Ano melihat sisi iblis Lea." jawab Aruna, sontak membuat Aurel menatap kakaknya serius lalu beralih menatap Ano yang baru saja melepaskan pelukannya dan berbalik menatap ke arah mereka.
Ano menggandeng tangan kanan Michael dengan langkah berjalan menghampiri dua wanita di atas ranjang. Hanya membutuhkan sepuluh langkah, langkah keduanya berhenti. "Honey, apa aku bisa memperkenalkan ayah ku pada Ken sekarang?"
Binar mata kebahagiaan tidak bisa di pungkiri. Ada rasa syukur dan kelegaan di mata Ano dan Michael, tapi tidak dengan tatapan mata Tanca. Ia justru tampak tegang dan serius menghadapi situasi kali ini, "Pergilah! Sekali kamu keluar dari pintu itu, maka apapun akibatnya nanti bukan tanggung jawabku lagi."
__ADS_1
"Apa maksudmu, Honey?" tanya Ano tidak paham.
Untuk apa mengatakan Michael sebagai papa kandungnya? Jika menunjukkan keberadaan pria itu pun tidak diizinkan. Bagaimana bisa kebenaran sebesar itu di sembunyikan dari saudaranya? Kejadian beberapa hari lalu saja masih membekas di hati. Terlebih tatapan serta kemarahan Ken yang tidak bisa ditangani dengan mudah. Seakan memahami isi pikiran Ano, Aruna turun dari ranjang di bantu Aurel.
"Anda, lebih mengenalku bukan?" Aruna melirik ke Michael, membuat pria paruh baya itu mengangguk. Lalu melepaskan tangan Ano yang menggenggam tangannya, kini tatapan sang putra tertuju padanya.
Michael menghela nafas, "Nak, bukannya aku tidak ingin bertemu kedua putraku. Apalagi memberikan kalian kasih sayang. Andaikan kehidupan kita tidak serumit rajutan benang. Sudah pasti, aku siap membawa kalian pergi jauh dari rumah ini, akan tetapi itu tidak mungkin. Aku masih bernafas karena calon istrimu sekaligus putriku.''
Penjelasan Michael masih saja terlalu banyak yang dirahasiakan. Meskipun beberapa kebenaran terungkap, tetap saja pertanyaan di hati dan pikirannya semakin bertambah. "Apa alasanmu datang padaku? Jika keberadaanmu saja tak ada bedanya seperti orang asing. Katakan apa yang kalian rencanakan?"
Tatapan Ano bergerilya menatap Michael, lalu berpindah menatap Tanca, dan tak luput menatap Aurel yang berdiri di samping tunangannya. Tatapan mata yang dipenuhi rasa penasaran.
"Bee, lakukan tugasmu selanjutnya! Tinggalkan kami berdua." titah Tanca seraya melepaskan tangan Aurel yang memegang tangannya.
Tatapan mata kakak beradik itu saling terpaut. Hingga satu kedipan mata Aruna, membuat Aurel mengalah. Sementara Ano tak paham kenapa posisinya hanya seperti patung, bahkan tidak bisa melawan ataupun mendebat setiap perintah dari Tanca.
Tiga puluh menit kemudian.
"Apa kamu serius? Rencanamu itu sama saja bunuh diri. Apa kamu dengar aku?"
__ADS_1