
Sang wartawan menunjukkan jarinya ke Aurel. "Dia saja diam. Kenapa aku harus ikut diam? Kita disini ingin mengetahui bagaimana dua anak tidak sah bisa menjadi pewaris....,"
"STOP!" Aurel berdiri, lalu berjalan memutari meja.
Semua orang mengikuti langkah Aurel dengan tatapan penasaran, dan jantung berdetak cepat. Hingga wanita bergaun biru itu berhenti di depan Sang wartawan yang sangat lancang berbicara tanpa perasaan.
"Apa kamu pikir, Lea benar dan yang lain salah?" tanya Aurel seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Sang wartawan masih saja menatap Aurel dengan tatapan bringas. "Ya. Tanyakan pada semua orang di dalam ruangan ini! Pasti semua memberikan jawaban IYA."
"Baiklah, kita lihat siapa yang salah dan siapa yang benar." Aurel mengangkat tangannya, membuat semua berpikir wanita itu pasti akan menampar sang wartawan.
Sayangnya bukan itu yang terjadi. Aurel hanya menjentikkan jari tiga kali hingga lampu ruangan konferensi pers padam. Lalu, sebuah layar putih di belakang kursi di depan sana menayangkan sebuah film.
Aurel masih berdiri menatap sang wartawan seraya mengedarkan pandangan matanya beberapa saat untuk melihat reaksi para awak media. Bagaikan lebah di sodorkan madu. Para awak media tercengang, tapi tetap melakukan tugas mereka dengan memusatkan kamera pada video yang menayangkan sebuah insiden masa lalu keluarga Abizar.
Rekaman CCTV dari dalam mansion keluarga Abizar. Tepatnya di dalam kamar si kembar yang terlelap tidur saat menjelang malam. Pintu putih perlahan terbuka bersamaan bayangan seseorang memasuki kamar secara diam-diam. Bayangan itu menenteng sesuatu yang kemudian disiramkan di beberapa titik seperti tirai jendela, belakang sofa dan titik lainnya yang mudah terjangkau.
Kegelapan di dalam kamar itu, membuat bayangan hitam tidak tampak dari CCTV. Hingga aksinya selesai, lalu keluar meninggalkan kamar si kembar. Kepergian bayangan itu mulai terlihat wujud aslinya di saat CCTV tersembunyi di luar kamar si kembar menangkap wajahnya.
Para awak media masih sibuk melihat film tanpa menciptakan keributan sedikitpun. Wajah tegang terpancar jelas, membuat Aurel tersenyum tipis.
Manusia hanya suka menjudge tanpa mau mencari tahu kebenarannya. Apa hati mereka sudah mati? Lihat saja bagaimana kesibukan orang-orang di sekelilingku. ~batin Aurel.
Film berlanjut dimana si kembar tengah bermain bersama salah satu pengasuh mereka. Bukan lampu yang menerangi kamar duo K, tapi beberapa lilin yang menyala. Kebiasaan kedua anak kecil itu bermain saat tengah malam. Ntah bagaimana tiba-tiba saja satu lilin bergeser, lalu jatuh ke bawah dengan api padam akibat benturan, dan menjadi sambaran api.
__ADS_1
"Astaga kebakaran!" seru salah satu wartawan spontan.
Reaksi yang berbeda-beda dari para awak media ketika menyaksikan bagaimana tragedi kebakaran itu bermula hingga membuat si kembar bersama pengasuhnya terkurung di dalam kobaran api.
"Siapa di balik jendela itu?" tanya salah satu wartawan yang ternyata mengamati tragedi kebakaran dengan seksama dan teliti seraya menunjuk ke arah layar.
Prook!
Prook!
Prook!
Tiing!
Lampu menyala kembali setelah tiga tepuk tangan yang Aurel lakukan.
Film di hentikan lalu di ulang sekian detik tepat dimana dari balik sebuah jendela yang sedikit terbuka nampak seseorang berdiri dari arah luar. Dari ruang monitor, seorang operator memperbesar tangkapan layar. Wajah seorang wanita yang tak asing terlihat samar mulai terlihat jelas setelah diberikan efek filter perjelas gambar.
"Nyonya Lea Dion Al Abizar." Aurel menyebutkan nama lengkap yang di sandang wanita pembuat onar tanpa ekspresi sedikitpun. "Apa kalian lihat apa yang ada di tangan kiri wanita itu? Sebuah korek api kayu. Untuk apa Lea memiliki korek api? Kenapa lilin yang jatuh, dan langsung padam bisa menciptakan kebakaran?"
Pertanyaan beruntun Aurel membungkam wartawan di depannya. Pria itu mulai menciut nyalinya. Hal itu terlihat jelas dari tatapan mata yang meredup tidak se bringas sebelumnya, membuat Aurel mengeluarkan smirk.
"Berita kebenaran yang disajikan seorang LEA memang benar adanya." Aurel berbalik, lalu menatap layar di depan sana seraya mengangkat tangannya, dan menjentikkan jari sekali, membuat film kembali dilanjutkan. "Lihatlah kebenarannya! Dia yang kalian anggap ibu tidak berdaya, dialah alasan si kembar harus menderita dalam kobaran api. Apakah wanita itu pantas disebut seorang ibu?! Jika iya. Maka selamat untuk kalian semua karena kalian buta dalam air mata buaya si wanita rubah."
"Pertanyaan kalian, akan kujawab dengan bukti." Aurel berjalan menjauh dari para awak media, langkahnya kembali ke tempat yang seharusnya yaitu duduk di kursi depan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Aurel menarik nafas dalam sebelum melanjutkan konferensi pers. Para awak media seakan terbius dengan kebenaran yang di luar ekspektasi mereka. Baru pagi tadi semua orang gempar akan pengakuan Lea yang mengatakan si kembar bukanlah keturunan keluarga Abizar. Bukan hanya itu saja, tapi berkat api pemanasan yang dirancang Lea. Semua berasumsi jika Tanca di gadang-gadang sebagai perebut anak orang, dan menjadi alasan duo K membenci sang ibu kandung.
"Pertanyaan semua orang adalah sama bagiku, tapi kamu." Aurel menunjuk ke wartawan yang lancang menyela ucapan nya sejak awal. "Listen me! Si kembar memang bukan keturunan keluarga Abizar, tapi putra dari Lea bersama mantan kekasihnya. Bukan itu poin utama konferensi pers saat ini. Semua menganggap Tanca sebagai dalang dari kebencian dua anak terhadap ibu mereka, benar bukan?"
"Tidak ada kebenaran di dalam tuduhan kalian. KENYATAANNYA wanita itu menjadi alasan Duo K tetap hidup hingga saat ini karena insiden dua belas tahun lalu, membuat kedua anak itu mendapatkan pelukan seorang ibu untuk pertama kalinya." Aurel menahan emosi yang bergejolak di dalam hatinya karena ingatan yang menyelinap masuk mengusik hati nuraninya. "Lihat dengan mata kalian! Bagaimana Tanca masuk ke dalam kobaran api demi menyelamatkan si kembar. Luka bakar di punggung wanita itu bahkan masih menyisakan bekas, tapi kalian seenaknya bersilat lidah tanpa mengetahui kebenaran."
Film di belakang Aurel terus bergulir hingga semuanya menjadi jelas. Seperti mata buta mendapatkan pencerahan. Kebenaran yang awalnya berpihak pada Lea mulai berubah haluan. Aurel bahkan tidak tanggung-tanggung menunjukkan kebenaran secara jelas. Melalui rangkaian rekaman CCTV tercipta satu film berdurasi empat puluh menit yang menjadi kain lakban untuk para awak media. Terutama si wartawan baju biru tua lusuh.
Sementara di tempat lain. Sebuah benda bulat yang tergenggam di tangan seseorang digenggam erat. Hingga otot tangan orang itu terlihat menonjol. Lalu satu gerakannya, membuat benda bulat itu terbang dan menuju layar pipih yang terpasang di dinding.
Pyaaar!
"Aaarrrgggggh. S!AL!"
...-----------------...
Hay Reader's π
Thanks for all support, like, comment dan stay tuned dengan karya receh othoor. ππ
othoor mau curhat dikit ya, π
*Rasanya menguras emosi saat menulis cerita tentang kebenaran dan tipu muslihat. Apa yang kita lihat, dan pikirkan ternyata belum pasti itu kebenarannya. Khususnya di part kali ini, ntah kenapa aku sendiri merinding saat menulis dan masuk kedalam ceritaku. π°π
π€§Othoor mau beli bawang merah kalau murah π°
__ADS_1
Happy Reading Reader's π*