
Astaga, bagaimana bisa....,"
"Mami hanya meminta ku untuk menjaga si kembar, tapi seperti yang kamu tahu. Aku dan Ano sudah bersatu. Tidak mungkin aku mengajari mereka hubungan tidak sehat, ketika hubungan itu ke jenjang serius. Aku yang menyarankan kamu sebagai pasangan Ken. Karena kakak tahu, kamu bisa mengimbangi sifat Ken yang kritis." Tanca menoleh ke arah Aurel dengan tatapan serius. "Bee, ini bukan tentang balas dendam biasa. Banyak monster seperti Dion diluaran sana, tapi tujuanku adalah menghapus monster bernama Dion Al Abizar."
Aurel merangkul Tanca seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak. "Ka, setelah semua ini berakhir. Apakah kita akan hidup bersama?"
Tanca mengusap kepala Aurel. Sejak pertemuan keduanya yang tidak disengaja, membuat kakak beradik yang terpisahkan sejak kecil itu saling belajar memahami dan mendukung satu sama lain.
"Aku tidak tahu, Bee. Semoga kita bisa melewati semua rintangan tanpa terpisahkan. Bagi kakak, kepercayaanmu adalah hal utama. Andaikan satu tetes keraguan singgah di hatimu, tanyakan padaku. Ingatlah selalu ini, dan jangan biarkan emosi menguasaimu." ucap Tanca lembut.
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Meniti harapan untuk esok, membiarkan malam berlalu. Keheningan di dalam kamar itu, bertolak belakang dengan kekacauan di tempat lain. Dimana banyak serpihan barang berserakan di atas lantai bersama noda merah yang menetes meninggalkan jejak beraroma anyir.
Dari pantulan cermin nampak wajah datar dengan seringaian. Dari atas hingga kebawah bercak merah mewarnai gaun putihnya. Satu benda mengkilap tergenggam erat di tangan kanannya.
"Sudah cukup! Aku muak dengan semuanya. Lihat saja apa yang akan ku lakukan pada kalian." Pisau dengan tetesan darah diangkat, lalu di dekat kan ke hidung. "Aroma ini, sangat menenangkan untukku. Bagaimana dengan aroma darah dari semua musuhku? Pasti lebih memuaskan, yah itu pasti."
Traang!
Pisau terjatuh, wajah ketakutan mulai menguasainya. Gemetaran tubuhnya kian hebat, pandangan mata kesana kemari dikuasai kegelisahan. Wanita itu berulang kali membalikkan tubuh menatap seluruh sudut kamarnya.
"Jangaan!"
"Pergii!"
__ADS_1
"Pergii!"
Racauan wanita itu menggema di seluruh ruangan. Temaramnya lampu semakin menambah kegelisahan. Seakan ada yang menyiksa wanita itu, membuat tangannya mencari benda apapun lalu dilemparkan ke sembarang arah.
Pyaar!
Braak!
Traang!
"Aaaarrrgghhh....,"
Seru wanita itu seraya menutup kedua telinganya erat. Lampu berkedip tanpa henti, semakin membuatnya histeris ketakutan. Hingga lampu padam, berganti kegelapan.
Sepuluh menit berlalu.
Ceklek!
Pintu terbuka, dengan suara langkah kaki yang terdengar seperti berjalan perlahan.
Tap!
Tap!
__ADS_1
Tap!
Sorotan sinar putih kecil beredar, menyinari setiap sudut ruangan itu. Hingga sinarnya menemukan sosok yang tergolek lemah dan tak sadarkan diri dengan keadaan mengenaskan. Langkah kaki itu berjalan menghampiri tujuannya. Kemudian berhenti, lalu berjongkok dengan senyuman puas.
"Jiwamu semakin liar dengan sisi iblis yang ku tempa. Pionku sudah siap. Sebentar lagi tujuanku tercapai, dan itu berkat mu Lea."
Dion mengangkat tubuh Lea, dan membawa wanita itu ke dalam kamar mandi. Perlahan seluruh benang yang menutupi tubuh istrinya terlepas. Shower di nyalakan, membuat air keruh kemerahan mengalir.
Keesokannya,
"Eeuuughh." suara lenguhan terdengar, membuat sepasang mata menatap ke sampingnya dimana wanita tertutup selimut terbangun dari tidurnya.
Tangannya mengucek mata perlahan. Sinar mentari yang menerobos, membuat wanita itu mengubah posisinya dan tatapan matanya bertemu dengan mata lembut yang menatapnya dengan cinta.
"Morning, Honey?"
Sapaan pagi dengan senyuman manis di bibir pria itu, membuat sang wanita ikut tersenyum. "Morning too."
"Mau sarapan bersama?" tanya pria itu dengan menyibak selimut yang menutupi keduanya.
Sang wanita mengedipkan mata seraya mengulurkan kedua tangannya, membuat pria itu bangun lalu menggendong wanitanya yang bersikap manja.
Langkah kaki berjalan menuju pintu kamar, membuat sang wanita berpikir sejenak. "Mau kemana, kita?"
__ADS_1