
Aurel berbalik menatap Ano. Tatapan mata pria itu menyorot kan ketulusan dan kebahagiaan yang nyata. "Apa ka Runa setuju dengan rencanamu?"
"Dia tidak tahu, dan jangan katakan apapun padanya! Cukup lakukan perintahku, dan aku tahu. Jika kamu memiliki semua bukti tragedi dua belas tahun yang lalu. Benar 'kan?" Ano menatap Aurel dengan tatapan tajam, tapi tak membuat Sang devil gugup apalagi ketakutan.
Wajah tenang Aurel sungguh di luar dugaan.
"Akan ku lakukan, tapi resikonya kamu tahu 'kan?" jawab Aurel seraya menyandarkan punggungnya ke sofa.
Keano menganggukkan kepala tanpa keraguan, membuat Aurel tersenyum tipis seraya berdiri. Lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pria di depannya. "I will do right now. Your responsibility if something happen." (Saya akan lakukan sekarang. Tanggung jawab Anda jika terjadi sesuatu.)
"Agree!" jawab Ano menyambut uluran tangan Sang devil.
Sementara di dalam kamar. Tanca harus menahan rasa sakit seraya mengobati kakinya yang terluka. Pecahan guci yang terlalu kecil perlahan dicabut menggunakan pinset mini. Lalu, kapas basah diusap perlahan untuk menghapus jejak merah beraroma anyir.
"Sepertinya Lea tidak akan berhenti sampai mendapatkan hak sebagai seorang ibu, tapi wanita itu harus dihentikan. Apa sudah waktunya aku keluarkan dia?" Tanca menggigit bibir bawahnya menahan perih akibat obat yang diteteskan ke luka. "Tidak! Dia harus tetap bersembunyi. Jangan sampai monster itu berhasil kembali merebut tahanan....,"
Suara langkah kaki yang mendekati, membuat Tanca mengubah ekspresi wajahnya yang tegang dan gelisah menjadi tenang tanpa rasa sakit ataupun beban pikiran.
__ADS_1
"Dok, silahkan periksa nenek, dan jangan lupakan tunangan ku yang juga membutuhkan pengobatan." Ano mempersilahkan dokter Hilman masuk ke kamar sang nenek, tapi tatapannya langsung terpatri pada Tanca dimana wanita itu sudah memulai membalut kakinya dengan perban.
Ano melangkahkan kaki terburu-buru menghampiri Tanca. Lalu mengambil alih perban dari tangan wanitanya itu, "Biar aku saja. Lepaskan!"
"Dok! Periksa mami! Aku sudah baik-baik saja." ucap Tanca menyadarkan dokter Hilman yang terdiam akibat tindakan Ano yang langsung membantunya.
Dokter Hilman tetap mengangguk meskipun Tanca tidak melihat itu, lalu berjalan menuju ranjang dimana nyonya besarnya terbaring tak sadarkan diri.
Sepuluh menit kemudian, dokter Hilman selesai melakukan pemeriksaan. "Tuan Muda, sebaiknya Nyonya Abizar melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Saat ini beliau hanya terkejut dan terlalu banyak beban pikiran, tapi akan lebih baik jika antisipasi dilakukan. Untuk sementara obat masih sama, dan suntikan obat yang saya berikan hanya agar beliau istirahat."
"Tidak perlu, Tuan Muda. Saya bisa sendiri, terima kasih." tolak dokter Hilman, lalu membungkukkan setengah badannya sesaat. "Permisi, Tuan Muda, Nyonya Angel."
Kepergian dokter Hilman, membuat Tanca memejamkan mata seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tiba-tiba tubuhnya melayang dengan aroma parfum menenangkan. Sudah pasti Ano menggendong tanpa permisi.
Suara langkah kaki semakin lama semakin terdengar memudar berganti keheningan. Rasanya lelah dan ingin terdiam sejenak menyelam ke alam mimpi. Ano yang melihat Tanca semakin mendekatkan diri mengusel dada bidangnya tersenyum manis.
Setiap langkah kaki Ano terasa ringan menuju kamarnya menaiki anak tangga satu persatu. Tanpa Ano sadari. Jika dari atas sana, Ken harus bersembunyi di balik tirai. Perlahan tapi pasti langkah Ken mundur, lalu bergegas kembali masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Pintu tertutup, membuat Ken menghampiri ranjangnya. Lalu merebahkan diri telentang seraya menatap atas dimana tirai putih menjadi penutup. Bayangan masa lalu perlahan menyeruak berlarian seperti tetesan air hujan.
"Itu saat pertama kali, aku merasakan pelukan seorang ibu."
Bayangan Tanca yang datang dengan keberaniannya masuk ke dalam kobaran api, dan menyelamatkan duo K dengan mendekap keduanya terbungkus selimut basah keluar dari kamar.
"Itu saat pertama kali, kami memanggilnya Tanca."
Bayangan dimana nenek Abizar mengangkat Tanca sebagai pengasuh sekaligus bodyguard duo K, dan ketiganya dipindahkan ke Villa Flow untuk pendidikan.
"Itu saat pertama kali, Tanca membelaku di sekolah."
Bayangan dimana dirinya diadili. Setelah melakukan pemukulan pada teman sekelas akibat menolak dipanggil anak manja, membuat Tanca melakukan pembelaan dengan mengadakan duel antar pelajar sebagai solusi masalah saat itu.
Setiap bayangan memori masa lalu bergulir seperti bintang jatuh dari langit malam, membuat Ken sibuk mengingat masa lalu. Hingga matanya tak lagi mampu menahan linangan air mata dengan rasa sakit dari dalam hati. Sementara di tempat lain, suara menjijikkan mulai terdengar menggema mengisi seluruh ruangan terang benderang.
"Hurryy!"
__ADS_1