
Andai kamu tahu seperti apa kedua orang tuamu. Wajah asli mereka di balik senyuman palsu, dan topeng yang mereka kenakan. Aku tidak ingin kamu jatuh ke dalam jebakan mereka dan memenuhi obsesi yang tiada ujungnya. ~batin Tanca memejamkan matanya.
"Honey!" panggil Kenzo seraya menggoyangkan tangan Tanca.
Kenzo berpikir Tanca terlalu banyak melamun, dan tidak seperti biasanya yang selalu mendengarkan dan menjawab setiap curahan hatinya. Ken bangun tanpa mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Apa ini sakit? Maafkan aku karena lupa bagaimana keadaanmu saat ini, Honey." ucap Ken cemas seraya menyentuh perban yang melingkar di kepala Tanca.
Tanca tersenyum, lalu meraih tangan Kenzo dan menggenggamnya dengan memberikan usapan pelan. "Katakan padaku, manakah yang lebih penting bagimu. Keano atau orang tuamu?"
Kenzo menatap bola mata Tanca tanpa berkedip. Sejenak dirinya ingin mencari jawaban dari pertanyaan yang wanita itu lontarkan. Bukankah sudah jelas? Selama ini tidak sekalipun dirinya melakukan pembelaan untuk kedua orang tuanya melebihi batas. Apalagi membuat Keano murka.
Bagaimanapun dirinya sadar. Sejauh apa kebencian seorang Keano untuk kedua orang tuanya. Terlebih lagi setelah insiden di kantor dan saat acara pertunangan semalam.
__ADS_1
Tatapan mata ketidakpercayaan Ken, membuat Tanca bangun dari ayunan dan berdiri berhadapan dengan pria pemilik jiwa kritis. "Aku tahu, Keano lebih penting bagimu Ken. Namun, pernahkah kamu bertanya kenapa saudaramu sangat membenci orang tua kalian? Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah mengatakan hal buruk tentang Tuan Dion dan Nyonya Lea. Begitu juga dengan nenek kalian, lalu apa alasan saudaramu menentang keberadaan kedua orang tua kalian? Pikirkan lagi, Ken."
Kenzo terdiam, karena apa yang dikatakan Tanca benar adanya. Namun, bukan rahasia lagi bagi keluarganya. Jika tindakan tak pantas sang papa dan ibu memang pantas dijauhi. Bayangan warna jingga yang berkobar masih sering menjadi mimpi buruk, dan selama bertahun-tahun Tanca selalu siap menenangkan kedua pewaris RD company.
"Ken?!" panggil Tanca seraya memegang kedua lengan pria di depannya.
"Aku tahu, papa dan ibu tidak pernah melindungi kami. Hanya saja setiap kali melihat papa membentak ibu, hatiku rasanya panas. Mungkin Ano bisa tutup mata, telinga dan hatinya, tapi aku tidak." Kenzo menangkupkan kedua tangannya dengan tatapan memelas, "Katakan aku harus apa? Aku hanya ingin keluargaku bersatu."
Helaan nafas panjang Tanca jelas hanya untuk menetralkan perasaannya. Inilah kenapa Bee harus menjadi pendamping Kenzo. Sifat keras kepala, dan sikap kekanak-kanakan Ken terkadang muncul spontan. Beberapa hal Ken lebih dewasa dari Ano, tapi ketika emosi sudah menguasai pria satu ini. Maka apapun bisa di luar kendali.
"Lakukan saja sesukamu! Aku tidak akan menghalangi mu, tapi ingat satu hal ini Ken. Aku tidak akan ikut campur dengan semua pilihan hidupmu!" jawab Keano, membuat Tanca dan Kenzo berbalik ke arah asal suara.
Wajah merah, tegang, dan datar dengan kedua tangan menyilang di dada menyambut Tanca dan Ken.
__ADS_1
"Ano....,"
Keano mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka. "Not now! Ken harus tahu semuanya tanpa perlu ditutupi lagi!"
Ucapan saudaranya, membuat Ken tak mengerti apa maksud Ano. Apakah ada rahasia yang selama ini disembunyikan darinya? Jika Ano tahu, kenapa dirinya tidak tahu?
''Rahasia apa yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Ken berjalan mendekati Ano, sedangkan Tanca menggelengkan kepalanya agar Keano tidak mengatakan apapun pada saudaranya itu.
"Please jangan, Ano." gumam Tanca.
Bukannya tak melihat isyarat dari Tanca serta gumaman dari bibir manis itu, tapi jika Kenzo dibiarkan tetap buta akan kebenaran. Bukan tidak mungkin saudaranya itu akan melakukan hal yang tak terduga di masa yang akan datang.
Tap!
__ADS_1
Langkah Ken terhenti tepat di depan Ano. "Kita ini bersaudara 'kan? Katakan padaku, apa alasanmu sangat membenci papa dan ibu kita? Aku tahu, mereka tidak berusaha menyelamatkan kita saat kedua putranya dalam bahaya, tapi aku juga tahu hatimu tidak seburuk itu. Jadi apa alasanmu membenci papa dan ibu? Hingga melarangku membela mereka?!"
"Aku membenci mereka karena....,"