
"Dimanapun Aruna berada. Maka Aurel ada ditempat yang sama."
Pernyataan Aurel sukses membuat Aruna menghela nafas pasrah. Pupus sudah rencananya. Kini ia harus memikirkan cara lain demi masa depan semua orang.
Pertemuan kakak beradik itu hanya menyisakan rasa tanpa ada pencapaian. Akhirnya, Aruna pasrah dan tak ingin membuat rencana untuk kedepannya. Wanita itu memilih membiarkan adiknya melakukan apa yang diinginkan dan tanpa harus memberikan beban lagi.
Kehidupan selalu berjalan apa adanya. Ketika memang tidak ada orang-orang yang memiliki tipu muslihat. Begitu juga kehidupan semua orang yang saat ini terlihat sangat damai dan tentram. Akan tetapi kedamaian itu hanya sementara sebelum badai datang menerpa. Satu minggu berlalu.
Pameran London berakhir dan si kembar berniat untuk kembali ke negaranya. Hanya saja, sebelum itu Keano harus melakukan satu tugas lagi yang memang sudah seharusnya. Pria itu ingin melakukan permintaan sang pujaan hati, dan pekerjaan itu adalah tiket untuk menuju masa depan.
"Ano, Kamu mau pergi ke mana?" tanya Ken yang masih enggan keluar dari balik selimut hotel.
Pria dengan wajah tampan sudah berpenampilan begitu santai, tetapi tetap rapi. Pria itu tak lain adalah Keano yang kini siap untuk menemui orang yang harus ditemui. Setelah satu minggu menunggu, "Aku akan pergi memberikan paket yang sudah Aruna berikan. Apa kamu mau ikut?"
"Tidak, Aku masih ingin tetap tidur. Rasanya sudah sangat lelah. Lagipula setelah satu minggu kita begadang dan hanya tidur satu jam dalam sehari. Jadi biarkan aku istirahat. Jangan lupa, kita membeli beberapa oleh-oleh malam nanti." jawab Ken seraya kembali menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
"Oke, selamat istirahat. Aku pamit dulu dan jangan lupa makan sarapanmu karena sudah aku pesan kan." pamit Ano, lalu pria itu meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Pertemuan itu akan diadakan di lantai dasar. Dimana beberapa Cafe ternama tersedia. Ano yang memang masih belum sarapan. Akhirnya memutuskan untuk sarapan di tempat pertemuan. Pria itu begitu tampan hingga banyak sekali para wanita yang melirik, bahkan tak sungkan untuk menggodanya juga.
Wajah tampan dengan garis tegas. Namun, terlihat sangat dingin bahkan tidak ada satu senyuman pun yang tersungging di bibir pria itu. Bukannya semua orang menjauh justru tatapan semua orang terkesan terbuai dengan penampilan Ano. Langkahnya diikuti banyak sekali tatapan mata yang takjub.
"Permisi, Tuan. Apa, Anda sudah melakukan reservasi meja?" tanya seorang pelayan ketika melihat kedatangan tamu baru yang memasuki Cafe Venus, salah satu cafe ternama di hotel itu.
"Nomor satu VIP atas nama Tuan X." Ujar Ano, membuat pelayan itu mengangguk paham.
Sang pelayan mempersilahkan Ano dengan kode isyarat tangan, "Mari, Tuan. Saya antar ke ruangan reservasi dan menu apa yang Anda inginkan?"
"Siapkan saja menu yang terfavorit di kafe ini dan cukup pastikan satu hal. Semua makanan matang karena aku tidak ingin ada masakan yang mentah." Jawaban Ano tanpa basa-basi, membuat pelayan itu mengangguk memahami apa yang diminta pelanggan kali ini.
Sang pelayan, membawa Ano ke ruangan lain. Dimana ruangan itu memiliki kaca hitam yang pasti untuk membuat suasana berbeda dan begitu pintu terbuka. Semua terlihat lebih jelas. Ruangan terpisah itu hanya terdiri dari beberapa bilik yang memang dipastikan setiap bilik disebut ruangan VVIP kelas satu.
"Bilik nomor satu. Atas nama Tuan X. Silahkan Anda menunggu dan kami akan mengirimkan pesanan sesegera mungkin. Saya juga memiliki pesan dari Tuan X, bahwa beliau akan datang setelah dua puluh menit dari sekarang." Pelayan itu menjelaskan dengan detail tanpa rasa takut ataupun ragu, lalu ia tak menunggu jawaban Keano dan justru langsung bergegas meninggalkan ruangan VVIP untuk melanjutkan tugasnya.
Sementara Ano langsung masuk ke ruangan yang memang sudah disiapkan untuk pertemuan kali ini. Ruangan dengan bilik kaca yang memiliki tirai. Di sisi lain, ada pemandangan luar yang memang sungguh sangat memukau. Deretan bunga-bunga dengan warna-warni yang begitu cerah. Seperti surga hanya untuk dirinya seorang. Taman yang didesain dan tak seorangpun bisa ke dalam taman itu.
__ADS_1
Ano menggenggam sesuatu di dalam saku celananya. "Aku tidak tahu, siapa itu Tuan X. Akan tetapi, sebentar lagi pasti aku tahu. Sebenarnya, apa yang Tanca inginkan dariku. Kenapa, dia ingin aku menemui Tuan X."
Banyak sekali pertanyaan di dalam benak Ano, tapi tak ada satu jawaban pun yang ia dapatkan. Setelah selama satu minggu menunggu. Akhirnya, hari ini, dia akan mendapatkan pencerahan. Detik demi detik berlalu. Ano tak berhenti melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Pria itu sungguh tak bisa menunggu lagi. Dua puluh menit ia harus menunggu dan itu terasa seperti dua jam.
"Apakah, Tuan X tidak jadi datang? Kenapa begitu lama sekali. Aku bahkan sudah bosan menunggu dan perutku juga keroncongan," gumam Ano benar-benar tidak sabar lagi untuk menunggu.
Di saat sisa kesabarannya ada di ujung tanduk. Tiba-tiba pintu bilik itu terbuka lebar dan sebuah troli meja memasuki ruangan. Sang pelayan datang kembali dengan membawa makanan yang memang sudah dipesan.
"Silahkan, Tuan. Ini menu sarapan terbaik di Cafe Venus dan ini untuk anda sebagai ucapan selamat datang." Pelayan itu memberikan sebuah amplop putih dengan pita hitam ke Ano, membuat pria itu tak paham. Sebenarnya apa yang ingin pelayan itu sampaikan dan kenapa harus dengan teka-teki segala.
Meskipun begitu amplop tetap diterima, lalu dibuka. Disaat itu juga selembar kertas keluar, "Siapa yang memberikanmu amplop ini?"
"Apapun yang ada di sini. Semua atas pesanan dari Tuan X. Jadi kami hanya menjalankan perintah beliau. Apakah Anda tidak sabar untuk bertemu dengan beliau? tanya sang pelayan menjelaskan situasi pada pelanggan nya yang saat ini tengah memiliki banyak pertanyaan.
"Jika DIA, tidak ingin mendapatkan paketnya. Aku bisa pergi dari sini. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Jadi lebih baik, aku permisi." Ano bangkit dari tempat duduknya. Pria itu memilih untuk berjalan meninggalkan tempat yang memang mungkin seharusnya tidak ia datangi.
"Dwi, keluarlah! Aku sudah bisa mendengar semuanya. Aku akan bicara empat mata dengannya. Sekarang, biarkan kami berdua saja." Ucap seseorang dengan langkah kaki memasuki ruang VVIP itu.
__ADS_1
"Kamu, di sini?" tanya Ano terkejut melihat siapa yang datang.